draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo
Prijosusilo
Melewati rumah-rumah
saudagar abad sembilanbelas yang kini umumnya telah dijadikan lima
atau enam flat terpisah, tangannya mulai letih, pegangan tas seakan
akan memotong jari-jarinya. Beberapa tas belanjaan berisi hadiah Natal
untuk orang-tuanya, untuk Jagger, untuk Sanca, dan untuk Keith, dan
juga beberapa bahan makanan untuk sumbangan makan siang hari Natal
yang akan dirayakan berkumpul di rumah orangtuanya, makin berat. Membayangkan
perayaan Natal di Liverpool, wajahnya yang cantik menjadi tegang.
Sorot pandangnya mengeras.
Semua kejadian di
dalam hidupnya terkini terasa membuatnya pusing. Jagger yang mendorong
dan membujuk dia masuk Islam ternyata tidak dapat memberikan pegangan
moral maupun spiritual. Padahal dulu dipikiran Elaine Jagger itu seorang
yang spiritual sekali. Entah kenapa dia berpikiran begitu, mungkin
karena di Indonesia suasana beragama sangat kuat terasa.
Ketika masuk Islam
di Indonesia Elaine merasa diterima dengan hangat oleh kawan-kawan
Indonesianya. Ada yang memberikan mukena, ada yang memberi pakaian
Muslim, dan semua sangat ramahnya. Pada waktu Idul Adha pun Elaine
diantar dan ditemani kawannya yang memungkinkannya merasa nyaman memotreti
penyembelihan kambing-kambing kurban di belakang masjid di dekat kontrakannya
di Jogja.
Kehidupan komunitas
beragama itulah yang dirindukannya ketika dia selalu mendorong agar
Jagger menjemput James di warungnya dan bersama-sama bersholat Jumat,
namun Jagger selalu saja menolak dengan berbagai alasan. Semula, ketika
Elaine dan Jagger baru saja mengenal James, memang pernah sekali Jagger
mengikuti sholat Jumat, namun setelah itu tak pernah lagi.
James selalu mengajak,
mengucap salam setiap berjumpa, dan Jagger selalu menghindar. Elaine
semakin berpikiran bahwa Jagger sebenarnya boleh dikatakan tak punya
tradisi relijius. Dia ingin anaknya memiliki tradisi relijius sebab
dia amati bahwa kawan-kawannya yang memiliki tradisi relijius kebanyakan
lebih teduh kehidupannya, paling tidak begitulah pengamatannya. Itulah
sebabnya dia merayakan Natal, katanya kepada dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga
sebagai orang Islam dia perlu alasan kuat untuk merayakan Natal tanpa
beban.
"Keith pasti
sudah menunggu di flat, dan pasti dia dan Jagger sudah stoned-out-of-their-heads,"
pikir Elaine masam. Tak salah. Elaine hafal betul sifat adik dan suaminya.
Celakanya saat ini adalah saat yang paling sial jika Keith dan Jagger
sama-sama stoned, sebab itu artinya malam ini juga Elaine akan menyetir
sorangan di jalan bebas hambatan yang, ironisnya, padat.
Malam ini dia akan
merasakan letih dan bosan selama delapan jam karena macet keluar London,
macet di Birmingham, macet di Manchester, dan entah kapan sampai di
Liverpool. Elaine tidak mengharapkannya, tetapi dia tau bahwa itulah
yang akan terjadi. Setiap kali ada liburan panjang, jalan-jalan ke
luar kota London memadat, seakan penghuni kota ingin bebas melarikan
diri dari ketegangan irama kota besar. Dan di akhir liburan, semua
orang itu akan kembali, dan jalan-jalan memasuki kota akan macet dengan
antrean-antrean panjang.
Membayangkan semua
ini, lambungnya terasa agak pedih, otot mukanya menjadi tambah tegang.
Kini ada juga segores kemarahan
yang menyapu keningnya, antara kedua alisnya. Aku harus nyetir terus
menerus! Padahal mobil itu mobil Keith!
Marah membuat keningnya
memanas, uap mengepul mengembun di kacamata minusnya, tetapi kedua
tangannya membawa belanjaan, -dia tak bisa membersihkan kacanya. Digerak-gerakkannya
hidungnya yang mungil mancung untuk menggeser bagian tengah kacamatanya,
agar hawa bisa masuk ke bawah tulang alisnya yang tajam. Irama jalannya
bersama dengan kerut-kerut pangkal hidungnya berhasil memelorotkan
kacamatanya sehingga embun berhenti mengabuti kacanya, dan kini dia
berjalan dengan memandang jalan melewati bagian atas frame kacamatanya.
Cepat-cepat, dan, benar, ketika tiba di depan rumah berpintu hijau,
dilihatnya, mobil Vauxhaul Keith sudah di sana.
Sambil lalu disentuhnya
kap mesin mobil itu dengan tangannya yang menggenggam tas-tas belanja:
sangat dingin, sudah lama Keith mengganja di sini.
Dengan sikut dia menekan bel pintu, belanjaan tidak dia letakkan.
Jagger yang memang sedang stoned bersama Keith di meja makan segera
melompat dan menuju mikrofon intercom dan bertanya:
"Who is it?"
"Me" Jawab Elaine, nadanya tak sabar.
Sebelum Jagger
mendengar suara pintu depan yang dibanting, tahulah dia bahwa Elaine
sedang marah.
Ia membukakan pintu flat, dan mundur memberi jalan kepada Elaine yang
menenteng belanjaan. Keith menyambut juga:
"Hi, Sis!"
"Where is
Sanca?" tanya Elaine menuntut. Hidungnya sudah mencium bau harum
hashish Maroko yang diisap Jagger bersama Keith. Keith bangkit sedikit
goyang dari tempat duduknya, mencoba memeluk kakaknya tetapi Elaine
membungkuk, bukan sengaja menghindar namun hendak meletakkan tas belanjaan
yang sudah menyakitkan tangannya.
"Where is
Sanca?" Elaine mendorong Keith, dan memandang keliling ruangan
yang jadi dapur sekaligus ruang makan dan ruang tamu di flat satu
kamar itu, dan karena dia memandang dengan melalui bagian atas dari
frame kacamatanya, dia tak melihat bahwa Sanca lelap tertidur di atas
sofa, di tentang jendela Victorian yang besar.
Semua sangat cepat
terjadi, dan belum sempat Jagger atau Keith -yang jadi lamban karena
stoned hashish- menjawab, nada Elaine sudah semakin khas, bercampur
antara marah mencium bau hashish dengan panik tidak menemukan anaknya.
"Keith, where is Sanca!?"
Jeritan Elaine
membangunkan Sanca yang tersentak menangis bagai disergap mimpi buruk.
"Look, look, you wake him," kata Jagger yang goncang perasaannya
mendengar tensi di suara Elaine.
Keith berkata, "Come
one, Sis, calm down will you!"
Namun Elaine sudah melepas coatnya, menaikan sweaternya, melorotkan
kutangnya dan melompat menuju suara tangis anaknya. Sebagai induk
melindungi anaknya dia marah menegur Jagger dan Keith yang menghisap
hashish tanpa membuka jendela, di dalam rumah yang berpenghangat dan
rapat, asap hashish tak pergi ke mana-mana, dihisap pula oleh Sanca,
yang kini sudah deras menetek ibunya.
"Look at you
two, completely stoned! Shame on you!"
"Aw, Sis, just a little joint to begin Christmas celebrations!"
"Well, we are Muslims, you know Keith. Jagger should not get
intoxicated!"
"I'm not stoned!" kata Jagger, berbohong.
"Yes you are!"
"We just had a small joint, Sis, I'm sorry, it's my fault."
"You two just have to grow up!"
Jagger segera bergerak
membenahi barang-barang untuk di bawa turun ke mobil Keith. Keith
segera tanggap dan merogoh kunci di saku jeansnya, mengenakan jacket
penerbangnya yang tebal dan mengikuti Jagger keluar pintu menenteng
koper Elaine yang sudah disiapkan tadi sebelum stoned. Elaine, ditinggal
sendirian di kamar flatnya, menyusui Sanca.
Sialan! Pikir Elaine.
Shit! Semakin hari semakin Elaine menyadari bahwa Jagger tak bisa
melepas diri dari ganja atau hashish, dan belakangan juga, alkohol!
Dan yang sangat disesalkan dan dikhawatirkan Elaine, adalah bahwa
Jagger tak segan-segan menghisap ganjanya di dekat Sanca ataupun minum
bir atau cider siang-siang saat mengasuhnya. Irresponsible!
Dalam ketegangan
yang tak kunjung reda, jadilah Elaine menyetir mobil Keith. Tak biasa,
tersentak dan tersendat mobil warna perak metalik itu bergabung dengan
lalulintas macet keluar kota London, melewati jalan M1, merayap dan
merayap dalam antrian penduduk yang mudik, menuju ke Utara.
Keith dan Jagger
diam di dalam mobil, tertenung asap hashish dan suasana bersalah,
takut memancing kemarahan Elaine. Keith duduk di kursi penumpang depan,
ndomblong dengan pandangan kosong. Jagger duduk di belakang Elaine,
di samping Sanca yang duduk di kursi pengaman bayi pinjaman dari rekan
sekerja yang simpati ketika dicurahi keluh kesah soal perkawinannya.
Tenanglah Sanca,
dan Sanca tenang. Sesekali Elaine melirik memperhatikan wajah para
penumpangnya. Kesal benar rasanya. Kesal terhadap segala sesuatu.
Segala sesuatu kecuali Sanca. Jagger dan Keith? Wankers! Loosers!
Sama saja, kekanakan dan tidak bertanggung jawab! Mobil belum pula
keluar dari Chiswick, dan pengendara tolol di depan telat mengikuti
antrean lampu hijau.
Sialan! Elaine menampar
dan mendesak kuat-kuat klakson di poros stirnya.
Baru setelah mereka
berhasil keluar dari London dan menekan pedal gas di motorway, ketegangan
di mobil teredakan oleh pembicaraan. Keith, yang terbiasa menjadi
adik, dengan lembut mencoba meredakan kegeraman Elaine, Sis, kependekan
dari Sister.
"That was brilliant driving, Sis!"
***bersambung