esei
Siapa
Bapak Mereka?
Lorna
Duckworth
Ibu berkulit
putih yang melahirkan bayi kembar berkulit hitam akibat kesalahan
dalam klinik kesuburan jelas merupakan ibu yang sah dari kedua
anak itu, begitulah kata para ahli hukum medis. Namun jika tes
memutuskan bahwa ayah biologis mereka adalah pria kulit hitam
--yang bersama pasangannya-- juga sedang mengikuti terapi di
klinik itu, maka belum ada preseden di Inggris tentang siapa
yang berhak membesarkan kedua bayi kembar itu. Pasangan kulit
hitam tersebut diyakini mengajukan gugatan sebagai orang tua
dari kedua bayi, yang kini sudah berusa satu tahun lebih.
Penney Lewis
dari Rumah Sakit King's College London mengatakan bahwa Undang-undang
Feritlisasi dan Embriologi Manusia tahun 1990 menyatakan bahwa
siapapun yang mengandung bayi merupakan ibu yang sah, terlepas
dari sumber sperma atau kandung telur yang digunakan.
"Namun
masalah tentang ayah lebih kompleks. Dia jelas memberikan ijin
untuk terapi IVF, namun ini bukan embrio. Dalam kasus ini, bukan
spermanya dan juga bukan telurnya. Jadi pria itu terbuka atas
tuntutan hukum dalam soal apakah ia ayahnya atau bukan. Ini
memang kasus yang amat tidak biasa dan tidak ada presedennya,
jadi tergantung pengadilan yang memutuskan."
Setiap tahunnya
lebih dari 27000 pasangan di Inggris menjalani IVF --atau in-vitro
fertilisation. Dalam terapi ini sperma donor membuahi telur
seorang wanita untuk menghasilkan embrio yang kemudian ditanam
di kandungan seorang wanita.
Ketersediaan
terapi ini terbatas dalam NHS atau layanan kesehatan nasional
Inggris, dan banyak pasangan yang menghabiskan ribuan poundsterling
untuk pergi ke kilinik pribadi. Semua klinik yang memberikan
terapi ini harus mendapat lisensi dari Badan Fertilisasi dan
Embriologi Manusia HFEA, yang menegaskan dilakukannya pemeriksaan
ganda dalam setiap tahap untuk memastikan tidak terjadi kesalahan
dalam pengunaan sperma, telur, dan embrio.
Namun Lord
Winston, ahli fertilisasi di Rumah Sakit Hammersmith London,
mengatakan tidak yakin kalau beberapa klinik memenuhi standard
baku tersebut, yang juga mewajibkan dua orang ahli hadir dalam
setiap tahapan.
Dia mengatakan
HFEA tidak mendapat dana yang memadai dari pemerintah sehingga
tidak memiliki tim pemeriksa yang permanen, namun hanya mengandalkan
kunjungan 'ad hoc' saja. "Kuncinya pada pintu pemerintah,
yang jelas tidak memberi dana cukup pada HFEA. Konsekuensinya
adalah badan ini tidak mampu untuk tegas dalam inspeksinya ke
klinik-klinik," kata Lord Winston.
Lord Winston
tidak mau memberi wejangan atas kasus yang dia tidak ketahui
persis namun reaksi pertamanya adalah "ibu kulit putih
yang membesarkan kedua anak itu."
Sidang untuk
mendengarkan kesaksian direncanakan akan digelar tanggal 10
Oktober untuk memutuskan masalah-masalah awal, seperti siapa
sebenarnya ayah biologis dari kedua anak itu, yang hanya disebut
dengan YA dan ZA. Para penasehat hukum sudah dikenakan larangan
untuk menyebut identitas orang tua, kedua anak, maupun rincian
tentang klinik bersangkutan serta petugas NHS yang terlibat.
Pertanyaan
apakah kedua bayi lahir dari sperma atau telur donor yang kemudian
bisa mengarah pada siapa sebenarnya orang-tua genetis mereka
sudah mengundang kontroversi dan pemerintah berkonsultasi tentang
maslah ini.
Selasa tanggal
8 Juli, John Mills, Ketua Masyarakat Fertilitas Inggris, dan
ahli kandungan di Rumah Sakit Ninewells di Dundee mengatakan
kedua anak itu membutuhkan konseling yang panjang.
"Simpati
saya kepada semua yang terlibat, khususnya kedua anak yang membutuhkan
bantuan , konseling, dan penanganan yang tepat. Para orang-tua
juga membutuhkan bantuan. Konseling, rasa simpati, dan saling
memaafkan adalah hal-hal yang diperlukan."
Walaupun
para ahli kesuburan sudah menegaskan bahwa kesalahan dalam prosedur
amat jarang, kasus ini meningkatkan kemungkinan bahwa klinik
yang bersangkutan dan petugas NHS yang terlibat menghadapi tuntutan
dari pasangan yang menghadapi masalah ini.
Penney Lewis
mengatakan HFEA harus menutup klinik yang bersangkutan dengan
mencabut lisensinya. Klinik itu juga bisa dituntut karena kelalaian
dan kekerasan. Dia mengatakan: "Mereka menanam embrio yang
salah kepada seorang perempuan. Dia punya alasan untuk menuntut
karena kaget dan pelanggaran atas integritas raganya, yang ini
berari kekerasan."
"Saya
tidak pernah melihat kasus ini sebelumnya, jadi tidak mungkin
untuk menduga nilai kerugian." tambahnya.
Departemen
Kesehatan Inggris dan HFEA menolak memberikan komentar atas
masalah ini
.***
Diterjemahkan
dari The Independent 9 Juli 2002