novel Dokter Zhivago 40
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

Pasha sangat sedih memikirkan Lara. Selama Lara sakit keras ia tak diizinkan menengoknya, tapi bagaimana perasaannya? Lara telah mencoba membunuh seorang laki-laki, yang setahunya tak lebih dari kenalannya belaka, lalu orang menjadi sasaran pembunuhan yang dicobanya itu kemudian melindungi dia dari segala akibat. Ia telah mengelakkan hukuman yang membayanginya. Berkat dialah Lara dapat melanjutkan studinya, aman tak tergugat. Pasha bingung dan tersiksa.

Ketika ia sembuh. Lara memintanya datang dan berkata : "Aku perempuan jahat. Kau tak kenal aku, tak dapat kau bayangkan bagaimana aku ini. Lain hari kuceritakan. Sekarang aku tak dapat bicara; kau lihat sendiri, tiap kali kucoba aku menangis. Tapi biarkan saja aku, lupakan semuanya tentang diriku. Aku tak layak bagimu."

Lantas menyusullah adegan-adegan keji; masing-masing lebih memilukan hati, lebih tak tertahankan dari yang terakhir. Semua ini terjadi ketika Lara masih tinggal di Jalan Arbat; Voitkockaya bertemu Pasha di gang dengan muka tercoreng bekas air mata, maka larilah ia ke kamarnya, rebah di atas dipan, lalu ketawa sampai mulas, sambil berseru: "O, aku tak bisa, tak bisa, terlalu berat! Lelaki pendiam, yang kuat! Samson!"

Untuk membebaskan Pasha dari hubungan yang merongrong ini, untuk merenggut cintanya kepadanya sampai ke akar-akar dan menyudahi siksaannya, Larapun mengabarkan bahwa ia ceraikan dia selama-lamanya; ia tak sangkut paut lagi dengannya sebab ia tak mencitainya; tapi dengan pengingkaran diri ini ia menangis begitu banyak, hingga tak mungkin orang percaya padanya.

Pasha menuduhnya berbuat tujuh macam dosa besar, iapun tak percaya tiap kata yang diucapkannya dan bersedia mengutuk serta membencinya, namun ia cinta padanya sampai hatinya bingung; ia dengki kepada pikiran Lara sendiri, kepada piala yang dipakainya untuk minum, kepada bantal yang ditidurinya. Kalau mereka tak ingin kehilangan pikiran sehat, mereka haus bertindak cepat dan tawakkal. Mereka sepakat untuk kawin dengan segera, tanpa menunggu ujian mereka. Perkawinan akan berlangsung hari Minggu pertama sehabis Paskah, yang atas permintaan Lara ditunda sekali lagi.

Mereka nikah pada hari Senin sebelum Paskah; waktu itu sudah nyata sekali mereka telah lulus ujian dengan sukses. Semua persiapan diadakan oleh Lyudmila Kapitonovna Chepurko, ibu Tusya, rekan Lara. Lyudmila adalah perempuan manis dengan buah dada yang tinggi; suaranya bagus, besar dan seperti menyanyi; kepalanya penuh takhyul tak berbilang, ada yang didapatnya dari orang lain, ada yang digubahnya sendiri.

Ketika Lara akan 'dituntun ke mimbar' (menurut sebutan mesra Lyudmila dengan suara gipsynya waktu ia membantunya berpakaian) hari itu panas sekali. Kubah keemasan dari gereja-gereja dan jalan-jalan kecil yang baru diberi pasir dalam taman-taman di kota, berwarna kuning menjerit. Pohon-pohon berk muda yang ditebang pada malam Paskah, bergantungan di atas pagar gereja, penuh debu, dengan daun-daun terpilih jadi gulungan kecil-kecil dan hangus. Hawa seungkap nafaspun seolah tak ada ; sinar matahari menyilaukan, menari-nari di depan mata dalam celekeh-celekeh yang bersuar. Hari itu seolah hendak diadakan seribu perkawainan; semua gadis berpakaian meriah seperti pengantin dengan rambut yang dikeritingkan; semua anak muda meminyaki rambut mereka dan memakai pakaian hitam yang singsat untuk menghormati perayaan. Tiap orang penuh gairah dan tiap orang bersemangat.

Ketika Lara menginjak permadani yang menuju ke mimbar, Lagodina, ibu salah seorang temannya menabur seraup mata uang perak di depan kakinya sebagai alamat kemakmuran; dengan maksud yang sama Lyudmila telah mengatakan kepadanya supaya apabila mahkota perkawinan ditating di atas kepalanya, jangan sampai ia membuat tanda salib dengan tangan yang tak ditutup oleh ujung cadarnya atau pelipit renda. Dituturkanny a pula kepada Lara agar ia tinggi-tinggi mengangkat lilinnya supaya ia berwibawa dalam rumah tangganya. Tapi Lara yang mengorbankan hari depannya untuk Pasha itu membawa lilinnya serendah-rendahnya, namun sia-sia belaka sebab betapa rendahnya ia membawanya, tapi Pasha memegang lilinnya lebih renmdah lagi.

Dari gereja mereka langsung pulang, menghadapi sarapan perkawinan di studio, yang baru saja dihiasi oleh Pasha.Tamu-tamu berseru: 'Pahit' lantas di jawab serempak oleh lain-lainnya dari ujung kamar lainnya: 'Bikin manis!' maka kedua pengantin itupun ketawa-ketawa kecil malu-malu dan cium-mencium*. Lyudmila menyanyi 'Taman Anggur' untuk menghormati mereka dengan ulangan berganda. 'Tuhan memberkatimu kasih dan kerukunan' serta lagu yang mulai dengan 'Lepaskan untaian, uraikan rambut pirang.'

Sesudah semua tamu pulang dan mereka tinggal sendirian, Pasha merasa gelisah dalam kesepian yang tiba-tiba. Lampu bersinar dari seberang jalan, tapi bagaimanapun eratnya ia menutup tirai, selajur cahaya yang setipis pisau cukur menyelinap ke dalam kamar. Cahaya ini mengganggu istirahatnya, ia merasa seolah mereka diintai. Dengan terpenajat ia sadar bhawa ia lebih banyak berpikir tenang cahaya itu dari pada tentang Lara atau dirinya sendiri atau cintanya kepadanya.

Sepanjang malam itu yang seabad lamanya, Antipov ('Stephanie' atau 'si gadis cantik,' menurut sebutannya oleh rekan-rekannya) mencapai kesenangan setinggi-tingginya dan rasa putus asa sedalam-dalammnya. Segala kecurigaan dan terkaann silih berganti dengan pengakuan-pengakuan Lara. Ia menanyai Lara dan pada tiap jawabannya semangatnya kian turun, seakan ia terjun ke dalam jurang. Khayalannya yang tertusuk itu tak sanggup mengejar segala uraian Lara.

Mereka bicara sampai subuh, dalam seluruh penghidupannya Pasha tak pernah berobah secara menentukan dan tiba-tiba, seperti selama malam ini. Ia bangkit sebagai orang yang lain dari dulu, hampir heran bahwa ia masih disebut Pasha Antipov.
***
*istiadat Rusia pada perkawinan

ceritanet©listonpsiregar2000