komentar
Dapat
Apa dan Mau Kemana
J.J.
Kusni
Pak Joseph
Pontoan yang baik,
Yang ingin
kuceritakan kali ini bukanlah kisah tentang negeri orang yang
kulalui dan terkadang terpaksa kuhidupi untuk waktu panjang
sehingga hidupku seperti halnya dengan pencarianku betul-betul
seperti sebuah perjalanan panjang tak berujung. Iapun
seperti pertanyaan demi pertanyaan yang selalu menagih jawaban.
Mengenai
masalah pertanyaan ini, aku kira sangat layak jika anak bangsa
kita membiasakan diri selalu bertanya karena pertanyaan mendorong
orang untuk mencari jawaban. Bukan menjadi anak bangsa yang
hanya bisa mengangguk-angguk ketika mendengar wejangan. Pertanyaan
dan usaha menjawab kukira mendorong kita untuk mengobah keadaan
dan mendorong maju perkembangan.
Pertanyaan
dan perdebatan mempunyai saling hubungan dan kalau menurut Prof.
Dr. Akoun, islamolog Prancis asal Aljazair, justru kemampuan
bertanya dan mencari jawab inilah yang membuat negeri-negeri
Barat bisa berkembang melebihi Asia dan kemandegan untuk bertanya
serta mencari jawab inilah yang membuat Asia jauh ditinggali
oleh Eropa sekalipun tadinya Asia merupakan tempat banyak penemuan-penemuan
budaya dan ilmu.
Artinya,
menurut Arkoun, kemajuan Eropa bukan didasarkan oleh ras tapi
oleh adanya tata sosial dan tata kenegaraan yang memungkinkan
pertanyaan serta usaha menjawab pertanyaan itu berkembang.
Di negeri kita Indonesia,
jika menggunakan istilah teman-teman dari Aliansi Jurnalis Independen
(AJI): "Bertanya merupakan tindak subversif" yang
bisa dihukum mati, dan keadaan ini berlangsung paling tidak
selama tiga puluh tahun lebih.
Dampaknya terasa hingga
sekarang : kerusakan luar biasa dalam pola pikir dan mentalitas,
kerusakan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat dari atas
hingga ke bawah. Aku kira kalau kita mau menyelamatkan negeri,
tanah air dan negara, maka soal pola pikir dan mentalitas yang
rusak ini patut ditata ulang.
Alasanku: manusia merupakan
soal kunci. Pembangunan negeri pun akan jadi omong kosong kalau
tidak dimulai dari pemberdayaan manusianya. Pemberdayaan manusia
dimulai dari kegiatan pendidikan pembebasan, usaha menanam budaya
kritis.
Demikian pun agama --ya
agama apa saja-- aku kira sudah selayaknya jika mereka berfungsi
sebagai agama pembebasan, bukan menjadi jalan ke penjara atau
pengurungan diri bernama sektarianisme.
Sasaran jihad, jika mau
menggunakan istilah ini, adalah keterpurukan, kebodohan, keterbelakangan
dan ketidak-beresan, bukan justru menggalakkan budaya kekerasan
yang tidak toleran dan menjadikan hukum rimba sebagai patokan.
Feodalisme,
neo-feodalisme, paternalisme, militerisme dan otoritarianisme
, aku kira adalah rumusan singkat dari budaya kekerasan dan
hukum rimba itu, yang malangnya masih mendominasi budaya Indonesia
kekinian. Dominasi budaya hukum rimba ini nampak dalam keseharian,
dan orang-orang pun bahkan ada yang tanpa malu-malu mengatakan
bahwa 'Indonesia memerlukan otorianisme, memerlukan sistem diktator,
memerlukan militerisme' sampai berani memekikan 'Hidup!'.
Jika budaya
manusiawi sudah mendominasi negeri ini, pasti orang tidak akan
seberani dan selantang itu berkata. Jika budaya manusiawi sudah
berdominan pasti anak bangsa ini akan mensyukuri kebhinnekaan
sebagai suatu kekayaan dan anugerah yang berharga.
Bisa dikatakan
tidak akan ada keangkuhan agama dan etnik besar karena seperti
kata seorang penyair Vietnam : 'bendera besar dan kecil masing-masing
punya tempat dan harga.' Aku tidak memasuki sejarah tentang
betapa bodoh kaum sektaris itu karena akan terlalu panjang kisahnya
dan aku tidak punya cukup kesabaran untuk bertutur.
Ketika membuka
komputer dan membaca debat dalam sejumlah situs, kembali soal
kerusakan pola pikir dan mentalitas ini kudapatkan dan inilah
yang sekarang kuangkat di sini. Dan malangnya lagi-lagi kerusakan
pola pikir dan mentalitas anak negeri kita ini terungkap dalam
menghadapi soal etnik Tionghoa.
Seorang penulis
mengatakan etnik Tionghoa Indonesia ---yang adalah orang Indonesia
juga yang tidak beda dalam hak dan wajib sebagai warganegara
negara dibandingkan dengan warganegara dari asal etnik manapun--
jadi sasaran tudingan. Etnik Tionghoa ditudingnya sebagai 'angkuh'
dan dihubung-hubungkan dengan Mao Zedong. Apa pula hubungan
Mao Zedong dengan 'keangkuhan?'
Jauh sebelum ini aku sudah mengirimkan sebuah makalah yang disampaikan
dalam sebuah seminar. Makalah yang lengkap dengan data-data
sejarah, bahwa etnik Tionghoa Indonesia adalah bagian integral
dari bangsa Indonesia.
Dari pengalamanku sendiri
ketika bekerja di Republik Rakyat Tiongkok --tentang penamaan
ini ada masalah politik karena diambil jalan kompromi dengan
menyebutkannya sebagai RRC atau Republik Rakyat China, jadi
bukan Cina-- aku saksikan bahwa etnik Tionghoa Indonesia adalah
orang Indonesia, terutama dari segi budaya.
Etnik Tionghoa Indonesia
bukan orang Tiongkok. Masakan yang disebut masakan Tionghoa
di Indonesia pun bukan masakan Tiongkok tapi masakan Indonesia.
Tudingan 'angkuh' terhadap
orang-orang Indonesia dari etnik Tionghoa aku anggap sebagai
tudingan berkelebihan dan dicari-cari. Keangkuhan bukanlah monopoli
satu dua etnik. Keangkuhan adalah perangai yang lahir dari latar
belakang sosial-ekonomi serta sejarah pribadi orang-perorang.
Seperti halnya dengan etnik
lainpun atau bangsa manapun, di kalangan orang Dayak pun ada
yang angkuh dan bersikap menjijikkan.Tapi mengkaterogikan etnik
ini atau itu bersikap angkuh adalah suatu tudingan atau pernyataan
tidak berdasar samasekali.
Indonesia,
bagiku, bukanlah milik satu dua etnik tertentu saja. Indonesia
adalah suatu bangsa baru yang mencakup seluruh etnik dan asal
bangsa yang macam-macam. Ada Arab, ada Yugoslavia, ada Rusia,
ada Inggris, Belanda dan macam-macam lagi. Aku sangat bangga
akan kemajemukan asal etnik dan bangsa warga negara ini.
Sungguh sulit untuk kupahami apa maksud tudingan sembrono yang
mengatakan bahwa etnik Tionghoa -- termasuk Tionghoa Indonesia
itu-- angkuh.
Lebih menyedihkan
lagi dia tidak memberikan bukti yang representatif apapun sehingga
ia bisa mengambil kesimpulan demikian. Dengan mengatakan hal
ini aku mau menunjukkan cara berpikir yang sangat sulit dipahami.Aku
pertanyakan di mana dan bagaimana keIndonesiaan sipenuduh di
tengah-tengah keruwetan tanah air seperti sekarang.
Aku rasakan
gejala tidak bertanggungjawab begini tidak lain lagi-lagi sebagai
wujud kerusakan pola pikir dan mentalitas. Menipis dan runyamnya
semangat keIndonesiaan di kalangan anak bangsa, yang masih saja
kuakui sebagai bangsa sendiri. Jika pola pikir dan mentalitas
begini diterus-teruskan, kita sendirilah yang meluluh-lantakkan
Indonesia, sebagai bangsa maupun sebagai tanahair. Patutkah
itu kita selamatkan
Inilah Bung
Joseph Pontoan yang ingin kuungkapkan, yang sekali lagi memperlihatkan
rumitnya jalan kita tempuh untuk memanusiawikan kehidupan, untuk
berbangsa, bertanah-air dan bernegara serta menjadi anak manusia.
Cinta, gampang diucapkan tak gampang diujudkan!
***