draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Ini adalah hari terakhir Elaine bekerja sebelum seluruh aktifitas dihentikan untuk liburan Natal. Pulang! Sanca! Mum! Dad! Keith! Liverpool! Banyak agenda di benak Elaine. Berlari ringan menapaki tangga naik yang keluar dari mulut stasiun Underground di Notting Hill Gate, ia merasa agak lega, berada di lingkungannya sendiri biarpun langit Desember kotor dan gelap, dan seorang gembel yang setiap hari kelihatan mengemis di mulut stasiun telah tertidur dalam pose mabok berat yang menyedihkan, muntah makanan yang tidak dikunyah baik menghiasi jenggot dan kumisnya yang lebat panjang dan kumuh.

Matahari telah tertutup mendung selama sepekan lebih lamanya, dan pekan sebelumnyapun hanya sempat nyembul selama beberapa jam saja. Dingin dan basah menusuk dan merembes, angin membekukan kuping membuat pusing. Embusan angin mendesak ke dalam celah leher coatnya, terasa nyaman pada buah dadanya.

Kelenjar-kelenjar buah dadanya masih memproduksi susu, masih terasa sakit, ketat dan panas, setiap terlambat menyusui, seperti sekarang. Sanca! "May baby, Sanca!" ia berseru dalam benaknya dan ia rasakan putingnya menyemprotkan air susu, ditampung kapas yang terlipat khusus yang diletakkan di dalam kutangnya.

Di trotoar Portobello Road, Elaine berjalan cepat agar hangat badannya. Coat kulit sebetis warna magenta dan sweaternya yang krem tipis tak cukup menahan dingin, jika tubuhnya tak bergerak memompakan darahnya keseluruh penjuru badannya. Nafasnya mengepul bagai ketel loko uap. Langkahnya yang cepat, sepatu bootnya yang hak tinggi, pesat melewati kaca-kaca etalase toko di kiri dan kereta-kereta kakilima tradisional yang berjualan sayuran dan buah di sebelah kanannya.

Sesekali dia menengok ke bayanganya di kaca toko, yang berhias lampu-lampu Natal, sebagian lengkap dengan miniatur adegan kelahiran Jesus atau Sinterklas dengan kereta kijang saljunya. Di antara hiasan Natal dan bermacam-macam barang dagangan, di bayang kaca jendela toko-toko itu, Elaine melihat seorang wanita yang cantik, menarik, berkacamata serasi potongan rambutnya, bersorot mata cerdas. Iulah dirinya, bayangan tersenyum terpantul kaca toko.

Di Inggris, Elaine tidak tergolong tinggi, malahan boleh dikatakan tinggi badannya di bawah rata-rata menjurus pendek. Namun kalau dia berjalan bersama Jagger, dia kelihatan lebih tinggi. Elaine pernah menikmati itu, terutama sewaktu pertamakali dia datang ke Indonesia. Kawan-kawan wanita di tempat pekerjaannya menganggap dia sebagai Lady Di, sumber nilai kecantikan dan keanggunan

Seumur-umur dia belum pernah dianggap secantik itu. Di Indonesia, dia rasakan semua orang, baik yang dia kenal maupun yang tidak dia kenal, menganggap dia cantik, dan pada awalnya Elaine menikmati itu. Namun setelah lama tingal di Indonesia, dia jadi sering kesal dengan perhatian yang berlebihan itu.

Apalagi ketika perhatian berlebihan itu dikenalinya sebagai persepsi orang-orang mengenai dirinya sebagai bule / londo. Ada dua persepsi khas yang meluas, yakni bahwa perempuan bule/londo itu banyak duit dan sah ditipu / dicolong / dimahalkan harga barang yang hendak dibelinya -yang pertama, dan yang kedua: bahwa perempuan bule / londo! do itu maniak seks yang selalu berpikir ingin menikmati setiap laki-laki Indonesia.

Tiba-tiba dia bergidik, muak dan ngeri, ketika ingatannya menyuguhkan kilas-kilas setumpuk peristiwa di mana dia merasa terancam oleh nafsu berahi ataupun kemelaratan orang yang ditemui di Indonesia. Lagi dia melirik bayangannya dan kini tersenyum kecut ketika jadi teringat Jagger marah-marah kepadanya karena dia memakai boot hak tingginya: You make me look stupid! You make me look shorter!

Bukan mau meledek, memang itu satu-satunya boot winter miliknya, dan Elaine ingin berhemat, tidak membeli boot lagi, toh dipakainya juga hanya untuk kerja. Tetapi Jagger tetap saja tidak suka. Belakangan dia marah-marah melulu, padahal dulu dipikiran Elaine, Jagger itu tidak bisa marah.

Elaine mencoba menepis pikiran buruk tentang perkawinannya. Boot ini, biarpun Jagger tidak suka, sangat nyaman dipakai. Modelnya juga Elaine sangat suka, karena klasik, tidak setiap winter jadi out of fashion. Sesekali dia menyapa pedagang yang jadi langganannya, yang berseru-seru mengobral dagangannya karena dia ingin tutup dan segera pulang.

"A box of plums for FIFTY P! A box of plums for FIFTY P!"
"Ten cucumber's for one pound!"
"Last box of chocolates! FIFTY P!"

Sudah mendekati pukul lima petang, gelap telah datang. Jalan Portobello disinari kuning cahaya halogen. Elaine tadi sempat dengar dari berita cuaca di TV yang selalu menyala di satu sudut kantornya, bahwa malam ini suhu akan berkisar antara tujuh sampai sembilan di bawah nol derajat Celcius.

Orang-orang bergegas-gegas, berpapasan di jalan dan di trotoar. Di jalan, mobil-mobil yang dungu merayap dengan kecepatan pejalan kaki karena jalan yang juga jadi pasar itu penuh berdesakan. Belanja! Belanja! Itu mungkin yang ada di benak sebagian besar orang, lelaki, perempuan, anak-anak, yang menenteng tas kertas dan plastik berisi barang-barang yang telah dibeli.

Beberapa kali Elaine mengamati orang yang berpapasan sama-sama membawa barang belanjaan saling nyangkut tas plastiknya, dan gegas pejalan kaki yang berdesakan pun terpaksa berhenti sejenak. Dia perhatikan, rata-rata orang bersuasana hati gembira, dermawan dalam tegur sapa dan pemaaf, tak seperti biasanya.

Inilah spirit Natal, pikir Elaine, dan sambil berpikiran begitu dia berhenti, persis di depan tukang daging tradisional yang berpakaian celemek bergaris merah dan putih, kini mengenakan topi merah berlonceng mungil di ujungnya seperti Sinterklas.

"Merry Chistmas, love!" seru tukang daging itu.
"Merry Christmas!" balas Elaine.

Tersenyumlah si tukang daging, sambil memandang mengikuti Elaine yang melambai dan bergegas lagi. Suaranya yang indah mengiang di telinga tukang daging, yang memandangi menikmati kecantikannya dari belakang, sebelum sosoknya hilang ditelan gerak manusia bergegas belanja, pulang, menyiapkan makan malam, dan ribuan maksud lainnya.

Dulu, Elaine sering berpikiran bahwa roh perayaan Natal telah hilang dan digantikan oleh spirit kapitalisme, di mana anak-anak diajari menghitung dan membandingkan hadiah dari sanak saudaranya sehingga kadang terasa, spirit yang berkembang bukan saling memberi, tetapi adu hadiah, kebalikan dari spirit tulus memberi dan menerima.

Kali ini, dia berpikiran lain, sebab dia memperhatikan rona muka orang-orang yang dipapasinya dan ternyata, rata-rata berbahagia. Namun ketika matanya memandang ke bawah, dia perhatikan juga, rata-rata orang -orang yang berseri-seri itu, menenteng belanjaan di tangannya. Maka di antara semua mereka, persis di perempatan Portobello Road dan Lancaster Road, satu pemandangan menonjok ulu-hatinya.

Seorang ibu mendorong bayi di pram. Di kanan dan kiri pram itu, berpegangan dua gadis kecil yang berusia antara empat dan lima tahun, menangis tak henti, nyaring dan melolong. Manusia yang bergerak dalam berdesak dan bergegas itu menghalangi gerak langkah ibu muda pendorong pram, hingga Elaine bisa dengan jelas mendengar kata-katanya,

"If youse don't fucking stop your whining !" Tangis gadis-gadis kecil itu bertambah melengking. Ibunya tambah marah.
"I told youse to stop whining!" Nadanya tambah mengancam, dan gadis yang lebih kecil menahan isaknya, menarik-narik nafas panjang-panjang.

Kakaknya segera mengikuti. Tetapi ibu muda yang bergoyang karena mabuk alkohol itu masih saja berteriak-teriak, kini marah pada orang-orang disekitarnya yang melihatnya membentak-bentak anaknya.

"So what are youse fucking looking at? Ain't yer never seen a fucking poor person before? So I can't buy fucking Christmas presents, then I'm a bad fucking mother ay? Fuck you all! Get out of my fucking way! I don't give a fucking toss ! I'm a good fucking mother! I love my children! " dan terus dia nyerocos.

Orang-orang berusaha menghindari, kedua gadis kecilnya mulai menangis lebih pilu lagi. Elaine bergegas berusaha meninggalkan, namun manusia terlampau padat dan logat perempuan itu, yang tak salah lagi logat Liverpool, menyentuh perasaannya. Dia juga dari working-class Liverpool, seperti aku, pikir Elaine.

Ketika itulah kupingnya mendengar kata-kata ibu pemabuk yang menyuduk ulu-hatinya:
"MERRY FUCKING CHRISTMAS TO YOU ALL!" jerit ibu mabuk, suaranya melolong bagai bukan suara manusia, penuh marah, duka, pedih-luka.
"MERRY FUCKING CHRISTMAAAAAAASSSS!... dan ibu itu pun menangis melolong-lolong, sekeras tangis kedua anak gadisnya yang makin melengking menusuk-nusuk langit di batin Elaine.

Betapa Natal kapitalisme menyiksa orang-orang miskin! Dua orang polisi berseragam hitam dengan rompi microfiber flourescent, dan bertopi khas polisi Inggris tergopoh-gopoh melewatinya. Buat apa Jesus dilahirkan di kandang ternak jika Natal hanya jadi satu kesempatan marketing? Mana Jesus Sang Pendekar Cambuk ketika segala sesuatu di muka bumi ditentukan nilainya oleh hitungan uang?

Di dalam suasana Natal yang telah menjadi sekedar peluang pasar itu, orang-orang miskin, yang konon menjadi subyek dalam ajaran Jesus, dengan tegas dipinggirkan dan dihina. Anak-anak menangis di depan etalase mainan, muda-mudi bersungut-sungut dan tidak percaya diri, memperhatikan dengan seksama fashion terbaru yang tak mampu mereka beli.

Nenek-nenek dan kakek-kakek kedinginan di rumah, menghemat uang gas pemanas, agar dapat membeli hadiah menanti cucu-cucu datang. Itupun kalau mereka masih diajak bicara anak-anaknya. Sebagian lanjut usia lain menghabiskan waktu bermain domino, merajut, merenda, mendengarkan musik, dan menghitung lupa di rumah jompo. Apalah makna Natal yang dijualbelikan oleh sistem yang menghasilkan sepi yang demikian menusuk itu?

Elaine sudah berjanji pulang ke Liverpool untuk hari Natal. Cuma Natal, sebab pada malam tahun baru, dia harus balik ke London untuk mengambil gambar dokumenter soal ecstacy yang sedang dikerjakan. Dia sudah janjian dengan Keith untuk bersama menyetir mobilnya, pulang.

Hari ini. Jam ini. Ia ingin berangkat segera setelah selesai menyusui Sanca. Dia membelok menyusuri Lancaster Road, melewati toko furniture India dan Indonesia, melewati toko kacamata, toko pakaian designer bekas, klinik hewan, dan karena setelah tikungan itu jalanan mulai lebih sepi, dia berjalan lebih cepat lagi.
***bersambung

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo

ceritanet©listonpsiregar2000