esei
Melankoli
Sepakbola
Gideon
Rachman
Jorge Voldano adalah
George Soros-nya sepakbola dunia --orang yang menjadi contoh dan sekaligus
mencela kekuatan globalisasi. Pada masa jayanya sebagai pemain, Valdano
menjadi pasangan striker Diego Maradona di tim Argentina yang merebut
Piala Dunia 1986 --dia mencetak satu gol di final. Kini sebagai Sporting
Director Real Madrid, Valdano punya buku cek yang paling besar dalam
sepakbola.
Pada dua musim panas
berturut-turut, Real memecahkan rekor transfer dunia sepakbola : yang
pertama menculik Luis Figo dari Barcelona dengan US$ 56 juta, lantas
merebut Zinedine Zidane senilai US$ 65 juta. Ketika ngobrol dengan
dia sebelum Piala Dunia, Valdano sedang memikirkan bagaimana Real
Madrid bisa kembali memecahkan rekor pada musim panas tahun ini. Bahkan
sebelum Piala Dunia mulai, dia sudah punya gambaran jelas tentang
yang dibutuhkan klubnya. "Kami sudah tahu," katanya, "bahwa
saat ini tidak ada pemain dunia selevel dengan Maradona. Mungkin ada
sepuluh Zidane. Kami mungkin membeli salah satunya, yang muda yang
lebih disukai."
Walau Valdano memilik
pekerjaan yang paling diinginkan dalam sepakbola, dia rupanya melankolis
tentang peran uang dalam mempengaruhi bentuk sepakbola. Dia sendiri
orang yang romantis ; menerbitkan puisi dengan pandangan kiri. (Dia
juga bisa bikin jantung berdebar-debar, karena penterjemahku, yang
mengaku sama sekali tidak suka sepakbola, jadi bersemangat ketika
tahu bahwa kami akan bertemu Valdano dan setelah itu memuja betapa
indahnya Bahasa Spanyol Valdano).
Banyak penkritik
globalisasi yang mengkuatirkan penyebaran McDonalds dan Coca Cola
akan menciptakan budaya global yang homogen dan menjemukan, begitu
juga dengan Valdano yang kuatir kalau televisi dan tumpukan uang besar
amat berbahaya dalam menghapuskan gaya permainan sepakbola nasional,
yang membuat Piala Dunia menjadi peristiwa yang memikat. "Saya
berasal dari generasi terakhir Argentina yang belajar sepakbola dengan
menonton langsu g para pemain di kota atau di kampung," katanya.
"Sekarang anak-anak belajar sepakbola dari televisi dan semua
pertandingan besar bersinar dari Eropa."
Yang lebih parah
lagi, klub-klub besar Eropa kini membeli bintang-bintang terbaik Amerika
Latin ketika mereka baru saja lepas remaja --banyak pemain dari tim
Argentina yang meraih Piala Dunia U- 21 tahun lalu, kini sudah main
di luar negeri. Hasilnya, gaya permainan Eropa dan Amerika bergabung.
"Dua puluh tahun lalu," kata Valdano "sepakbola Latin
adalah ketrampilan dan teknik sedangkan sepakbola Eropa tentang semangat
bertanding dan atletikisme. Sekarang kecenderungannya bercampur."
Walaupun merupakan
agen terdepan dalam proses ini, jelas bahwa dia juga kuatir terhadap
pengaruhnya. "Sepakbola di Argentina kacau," katanya (dan
persis itulah yang terbukti) "klub-klub bangkrut dan stadion-stadion
kosong."
Bagaiamanapun, seperti
halnya connoisseur seni jutawan, Valdano menenangkan dirinya dengan
keagungan dari koleksi para pemain yang ia bawa. Ketika bertemu dia,
Real baru saja kalah dari Bayern Munich dalam Piala Champion dan terancam
akan kehilangan Piala Champion. Valdano menantang, "kalau pekan
depan kami tersingkir dari Piala Champion (tapi ternyata tidak) orang
akan mengatakan hal itu membuktikan bahwa sepakbola Jerman lebih baik
dari sepakbola Spanyol. Tapi itu tidak benar. Orang masih lebih suka
gaya bermain Real Madrid. Coba ingat Piala Dunia 1982. Kenangan yang
masih diingat orang adalah bagaimana indahnya sepakbola yang dimainkan
Brasil. Selebihnya," katanya dengan yakin, "hanya statistik.
Itu keyakinan yang
romantis. Namun juga mengandung pemikiran rasional. Cobalah berbicara
dengan orang-orang marketing di Real Madrid, Barcelona, atau Manchester
United, dan akan ditemukan bahwa mereka sedang bersiap- siap untuk
era dimana beberapa klub Eropa utama menjadi 'brand global.' Merebut
piala dan kejuaraan akan menarik para pendukung. Namun mungkin lebih
penting untuk membangun reputasi dalam gaya dan bakat.
"Sebagai orang
Real Madrid mestinya saya tidak mengatakan ini," katanya, "
tapi dream team yang dibangun Cruyff di Barcelona menciptakan para
pendukung global mereka." Tahun demi tahun, transfer demi transfer,
Valdano sedang sibuk membangun mimpinya di Real Madrid.
Bagi mereka yang
menyusun brand dalam sepakbola, memiliki pemain glamour dalam klub
adalah penting. Para pengamat mempertanyakan apakah ada gunanya bagi
Real menghabiskan demikian banyak untuk individu seperti Zidane dan
Figo, pada saat mereka bisa mendapatkan tiga bintang yang sedang menanjak
dengan jumlah uang yang sama. Namun orang marketing tidak meragukannya.
Miguel Angel Sanchez, Direktur Marketing Real, mengatakan dalam era
internet dan televisi satelit, Real seharusnya berpikir bahwa mereka
adalah pemberi isi, seperti studio Holywood, "punya Zidane di
dalam tim sama dengan punya Tom Cruise dalam film kita."
Di Manchester United
orang-orang meremehkan Zidane sebagai alat marketing. "Beckham
lebih banyak rambutnya dan istri yang lebih menarik," kata salah
seorang petingginya. Namun kebotakan Zidane ternyata tidak menghentikan
Real dalam membangun strategi marketing bersama para pemain bintang
dengan berupaya menciptakan basis pendukung di Perancis dan Amerika
Utara.
Jorge Valdano mungkin
masih punya keberatan atas globalisasi sepakbola, namun dia tidak
cemas atas marketing dream team-nya. "Punya Zidane di dalam tim
membuat senang orang marketing," katanya, "tapi juga mebuat
saya senang sebagai Sporting Director." Dan itu amat beralasan
: tahun ini, dengan sumbangan tendangan volly Zidane, Real meraih
Piala Champion untuk ketiga kalinya dalam waktu lima tahun. Yang ini
statistik.***