sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 3, Senin 29 Januari 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

novel Dokter Zhivago 3
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Nikolai Nikolayevich membaca naskah yang telah diperbaiki ; ''Urat saraf hayati masalah kemiskinan.'' ''Kupikir esensi akan lebih baik,''pikir Ivan Ivanovich, sambil menulis pembetulannya untuk tata huruf . Mereka bekerja dalam ketaraman beranda tertutup. Banyak kaleng air dan alat bertanam berserakan di situ, jas hujan disampirkan ke punggung kursi bobrok dan binkap-binkap berlumur lumpur berdiri di sudut dengan mulutnya ke lantai. Nikolai Nikolayevich mendiktekan : ''Ditilik dari sudut lain, statistik kelahiran dan kematian menunjukkan…''
''Sisipkan :..selama tahun yang bersangkutan…,'' ujar Ivan Ivanovich seraya mencatat. Angin silir masuk. Gumpalan-gumpalan granit menindih kertas-kertas. Ketika mereka selesai, Nikolay Nikolayevich segera minta diri.
''Taufan akan datang. Aku mesti pergi.''
''Jangan kau tak boleh pergi, Mari kita minum teh sekarang.''

Teh disediakan di dalam taman. Asap arang sepoi mengalun dari samovar, menyapu bau tembakau dan bunga-bunga. Pelayan wanita mengantarkan baki berisi mentega sebungkah, buah arbai dan kue keju. Dia memberitahukan bahwa Pavel pergi mandi ke kali dengam membawa kuda-kuda. Dengan begitu Nikolay Nikolayevich terpaksa mengalah dan menunggu. ''Mari ke sungai, sampai teh selesai terhidang,''' saran Ivan Ivanovich.

Berkat persahabatannya dengan Kologrivov ia mendapat dua kamar dalam rumah pemimpin perusahaan itu. Rumah dengan taman kecil yang tersendiri di pojok yang tak terurus dalam taman besar, dekat jalan tua yang kini ditumbuhi rumput lebat dan tak dipergunakan lagi selain untuk dilalui kereta pengangkut kotoran, menuju ke selokan yang dipakai sebagai pelimbahan sampah. Kologrivov, seorang jutawan yang berpikiran maju dan bersimpati dengan revolusi, sedang di luar negeri bersama istrinya. Yang tinggal di tanah milikya hanyalah kedua anak perempuannya, Nadya dan Lipa, disertai pendidik mereka dan serombongan kecil bujang-bujang.

Pagar dari semak-semak berdiri yang rimbun memisahkan rumah pengusaha itu dari taman besar dengan padang-padang rumput dan kolam buatannya yang mengelilingi rumah, Ketika Ivan Ivanovich dan Nikolai Nikolayevich menyusur pagar ini, keluarlah dari situ burung-burung sriti di depan mereka dengan jarak waktu beruntun dalam kelompok-kelompok kecil yang sama besarnya. Berbondong-bondong mereka di situ dan memenuhi semak-semak dengan kicauan runtut seperti air mengalir dalam pipa.

Mereka melewati rumah-rumah penangasan bunga, pondok tukang kebun dan beberapa puing batu yang tak diketahui asalnya. Mereka bicara tentang bakat-bakat besar di dunia kesusasteraan dan kesarjanaannya.

''Sudah tentu masih ada orang-orang berotak cemerlang,'' ujar Nikolai Nikolayevich, ''tapi mereka tersisih. Yang lazim kita temukan sekarang ini adalah aneka ragam kelompok dan himpunan. Bila orang bergerombol, itulah selalu alamat keugaharian, biarpun ketaatan bersama itu ditujukan pada Solovyev atau Kant atau Marx. Kebenaran hanya dicari oleh perorangan dan dia memisahkan diri dari mereka yan tak cukup cinta pada kebenaran. Berapa banyak hal di dunia yang patut kita taati? Sangat sedikit, Kupikir orang harus taat pada keabadian, yaitu kata lain untuk penghidupan, kata yang lebih kuat. Orang harus jujur kpada keabadian, kepada Kristus! Tapi kau kerutkan keningmu, kawan. Seperti biasanya, kau tak mengerti sepatah katapun.''

''Hm,'' sahut Ivan Ivanovich. Ia orang kurus berambut pirang, gelisah bagai belut dan mempunyai jenggot kecil yang aneh yang menyebabkan dia serupa denga orang Amerika dari jaman Lincoln; ia kerap kali meraupnya dan menggerumuti ujungnya. ''Tantu aku berdiam diri. Kau tahu, pendirianku tentang hal-hal ini agak berlainan. Tapi kebetulan kita tiba pada hal ini; coba katakan, bagaimana halnya ketika kau tanggalkan jubah pendeta" Aku berani bertaruh, kau tentu takut. Apa mereka telah mengutukmu?''

'Kau coba merobah pokok pembiaraan. Bolehlah, tak ada halangan…….. Aku tidak dijatuhi kutukan,. Orang tidak mengutukku lagi sekarang. Tentu ada yang tak menyenangkan dan ada beberapa akibat tertentu. Misalnya, aku dilarang melakukan dinas sipil untuk waktu yang sangat lama, pun aku tak boleh mengunjungi Moskow atau Petersbrug. Tapi ini remeh-remeh. Seperti kataku tadi, orang mesti jujur kepada Kristus. Coba kuterangkan. Yang tak kau pahami ialah bahwa orang mungkin menjadi atheis, mungkin tak tahu apakah Tuhan itu ada atau harus ada, namun masih percaya bahwa manusia tak hidup alamiah, tapi hidup bersejarah, dan seajah yang kita ketahui sekarang ini mulai dengan Kristus, dibangun olehnya dengan Evangeli. Apakah sejarah? Sejarah dimulai oleh abad-abad karya sistematis yang diabadikan untuk memecahkan masalah mujizat tentang maut, agar maut sendiri mungkin dapat diatasi. Itu sebabnya orang menulis simfoni-simfoni, mengapa mereka temukan yang tak berhingga dalam ilmu hitung serta gelombang elektromagnetis. Tapi kita tak dalam maju dalam jurusan ini tanpa gelora jiwa tertentu. Penemuan-penemuan ini mustahil tanpa perbekalan rohaniah, dan untuk itu segala sesuatu yang dibutuhkan diberikan oleh Evangeli. Apakah itu? Pertama, menyayangi tetangga -yakni bentuk tertinggi daya hidup. Sekali ia mengisi hati manusia meluaplah ia dan harus beredar. Yang kedua ialah dua konsep yang merupakan bagian terbesar pembinaan manusia modern -tanpa itu ia tak mungkin kita bayangkan-yakni gagasan tentang kepribadian bebas dan tentang penghidupan sebagai pengorbanan. Perhatikan semua ini masih baru sekali. Di dunia klasik tak ada sejarah dalam artian demikian. Di situ hanya tumpahan darah, kekejaman, kebinatangan dan para Caligula bopeng yang bebas dari dugaan bahwa tiap manusia yang memperbudak manusia lainnya tak boleh tidak mesti turun derajatnya. Di situ ada kekekalan mati yang angkuh yang berupa monumen-monumen perunggu dan tiang-tiang pualam. Baru setelah kedatangan Kristuslah manusia dan jamannya dapat bernafas bebas. Baru setelah Dialah manusia mulai hidup terus dalam keturunannya dan tak lagi mati dalam selokan macam anjing -orang mulai hidup di rumah, dalam sejarah, pada puncak kerjanya yang diabadikan untuk menaklukkan maut, sebab mereka pujikan diri sendiri pada tujuan ini. Uh! Aku berkeringat macam babi. Tak ada bedanya, kalau aku omong dengan tembok kosong.''

''Itu metafisika, kawan. Terlarang bagiku oleh doker, perutku tak betah.''
''O, kau tak terolong lagi. Mari beralih soal. Wah bersukur amat kau, alangkah indahnya pemandangan ini. Tapi kukira, kau tak menikmatinya, walaupun hidup di sini tiap hari.''

Sungai mengkilat dalam cahaya matahari, menyilaukan mata. Ia mengkilap sambil berkelok dan mengurai lengkungnya seperti selajur logam. Sekonyong-konyong permukaannya berkeriput. Kapal tambang besar yang dimuati kereta, kuda, petani serta istri mereka berangkat untuk menyeberang.
''Coba pikir, ini baru lewat jam lima,'' kata Ivan Ivanovich. ''Itulah ekspres dari Syzran. Ia lewat di sini pukul lima lewat lima.''

Jauh di medan itu datanglah sebuah kereta api kecil yang bersih, sedang menjelajah dari kanan ke kiri; catnya kuning dan biru dan ia nampak kecil disebabkan jaraknya. Tiba-tiba ia nampak berhenti. Uap yang mengepul putih, terbang cepat di atas lokomotif dan sejurus kemudian mereka dengar peluitnya yang mengejutkan.

''Aneh,'' kata Voskoboynikov. Ada yang tak beres. Ia tak perlu berhenti di tengah rawa itu, Tentu ada apa-apa. Mari pulang minum teh.''
***

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000