sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar
edisi 3, Senin 29
Januari 2001
ceritanet
situs
nir-laba untuk karya tulis
laporan Mengantar
Bruno
Nyoman
Dani
Waktu itu Selasa 18
Juli 2000, jam delapan malam kurang sepuluh. Saya membuka pintu mobil
untuk putri saya, Karin, yang baru saja selesai latihan balet di
Namarina, Gandaria. Begitu mobil meluncur, Karin memberitahu ''Pa,
si Mur tadi telepon, katanya Bruno sakit dan sudah dua hari tidak
mau makan.'' ''Aduh., mesti di bawa ke dokter malam ini juga 'Rin.''
Berhubung sudah telat -- jam menunjukkan pukul delapan malam-- maka
saya coba menyetir agak ngebut agar lebih cepat sampai di rumah.
Saya belum makan malam dan itulah hari pertama menikmati kebebasan
dari serangan diare selama dua hari. Siangnya, di kantor, saya bahkan
masih makan bekal bubur dari rumah. Terasa lapar.
Selengkapnya
sajak Ornamen
Kematian
Arya
Gunawan
catatan cuaca telah lengkap.
tutupkanlah jika telah kau lihat debu ungu di wajahku
katakanlah,
ini selamat malam penghabisan tidurku di ranjang kelabu itu, sayangku
dan kurasakan embun mengental di bibirmu
pada ketika
kau rasakan langit itu menjemputmu
tubuhku telah selesai jadi abu
Selengkapnya
laporan Wajah-wajah
Kaki Langit
Liston
Siregar
Behzad
datang ke sebuah kampung. Untuk apa dan karena apa, tidaklah
penting. Yang nyata ia berada di Siah Dareh atau Lembah Hitam,
yang menurut Farzad sejak dulu sudah bernama Lembah Hitam karena
nama itulah yang diberikan oleh para leluhur. Kampung itu terletak
di ceruk sebuah perbukitan batu, dan dari jauh barisan bertingkat
kotak-kotak rumah itu terasa berada di antara dua dunia; seperti
sebuah karantina bagi orang-orang suci menjelang perjalanan ke
surga. Campuran rumah-rumah bersahaja yang indah dan tenang itu
sengaja disembunyikan para leluhur, bukan oleh para penduduknya.
''Dan tak ada air putih yang bisa memutihkan,'' Farzad menegaskan
nama yang tidak seiring dengan semua rumah bebatuan yang berwarna
putih di sana.
Selengkapnya
novel Dokter
Zhivago 3
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin
sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan
ejaan baru
Nikolai Nikolayevich membaca naskah yang telah diperbaiki ; ''Urat saraf
hayati masalah kemiskinan.'' ''Kupikir esensi akan lebih baik,''pikir
Ivan Ivanovich, sambil menulis pembetulannya untuk tata huruf . Mereka
bekerja dalam ketaraman beranda tertutup. Banyak kaleng air dan alat
bertanam berserakan di situ, jas hujan disampirkan ke punggung kursi
bobrok dan binkap-binkap berlumur lumpur berdiri di sudut dengan mulutnya
ke lantai. Nikolai Nikolayevich mendiktekan : ''Ditilik dari sudut lain,
statistik kelahiran dan kematian menunjukkan…''
''Sisipkan : …selama tahun yang bersangkutan…,'' ujar Ivan Ivanovich
seraya mencatat. Angin silir masuk. Gumpalan-gumpalan granit menindih
kertas-kertas. Ketika mereka selesai, Nikolay Nikolayevich segera minta
diri.
Selengkapnya
situs
nir-laba untuk karya
tulis
ceritanet
kirim
tulisan
©listonpsiregar2000
|