edisi
3, Senin 29 Januari 2001
ceritanet
situs nir-laba
untuk karya
tulis
puisi Ornamen
Kematian
Arya
Gunawan
(satu)
catatan cuaca telah lengkap. tutupkanlah
jika telah kau lihat debu ungu di wajahku
katakanlah, ini selamat malam penghabisan
tidurku di ranjang kelabu itu, sayangku
dan kurasakan embun mengental di bibirmu
pada ketika kau
rasakan langit itu menjemputmu
tubuhku telah selesai jadi abu
(dua)
maut itu, alangkah indah
menjelmalah
senyummu pada gelisah daun-daun
musim gugur. tatap matamu makin asing
suara-suara tobat meruncing, o nama-nama suci itu
mengekalkan beku di tubuhku
bau tanah alangkah wangi
resah cuaca.
usiaku, usiaku!
(tiga)
kalau telah tercium olehmu bau busuk
tubuhku
jangan menangis
aku tahu, kenangan itu berlari-lari di bola matamu. basah
mari, tak ada lagi yang akan membujukmu
tanganmu telah terkurung tanah
jasadku bersatu dengan cacing-cacing
dan sukmaku menjelma cahaya di kamarmu
mari. jangan menangis
padatkanlah malam-malamu dengan doa
embun
(empat)
lapar yang purba. cahaya. cahaya
di luar
sayup-sayup: azan-azan, azan
tangismu
muka
Mu!
situs
nir-laba untuk karya
tulis
ceritanet
kirim
tulisan
©listonpsiregar2000
|