edisi
3, Senin 29 Januari 2001
ceritanet
situs nir-laba
untuk karya
tulis
laporan Wajah-wajah
Kaki Langit
Liston
Siregar
Behzad
datang
ke
sebuah
kampung.
Untuk
apa
dan
karena
apa,
tidaklah
penting.
Yang
nyata
ia
berada
di
Siah
Dareh
atau
Lembah
Hitam,
yang
menurut
Farzad
sejak
dulu
sudah
bernama
Lembah
Hitam
karena
nama
itulah
yang
diberikan
oleh
para
leluhur.
Kampung
itu
terletak
di
ceruk
sebuah
perbukitan
batu,
dan
dari
jauh
barisan
bertingkat
kotak-kotak
rumah
itu
terasa
berada
di
antara
dua
dunia;
seperti
sebuah
karantina
bagi
orang-orang
suci
menjelang
perjalanan
ke
surga.
Campuran
rumah-rumah
bersahaja
yang
indah
dan
tenang
itu
sengaja
disembunyikan
para
leluhur,
bukan
oleh
para
penduduknya.
''Dan
tak
ada
air
putih
yang
bisa
memutihkan,''
Farzad
menegaskan
nama
yang
tidak
seiring
dengan
semua
rumah
bebatuan
yang
berwarna
putih
di
sana.
Lembah Hitam terletak sekitar 450 mil dari Teheran, dalam film The Wind
Will Carry Us-nya Abbas Kiarostami. Begitu layar dibuka, pemandangan
bukit, ladang, kampung, kusen-kusen pintu, jendela, tangga-tangga batu,
lantai kasar dan atap, maupun wajah-wajah bergerak dinamis menteror mata.
Tak ada satupun tembakan kamera yang lepas kosong. Gambar besarnya, misalnya,
bukit-bukit di belakang saat Behzad dan ketiga temannya mencari jalan
ke sebuah tempat asing, dengan penunjuk jalan sebuah pohon besar yang
tumbuh sendiri, disusul dengan dua pohon lain yang berdampingan di tengah-tengah
sejumlah pepohonan lain yang tidak bertanda, perladangan tempat seorang
ibu yang membantu menunjukkan arah, sampai seorang anak kecil penunjuk
jalan. Farzad nama anak itu; pakai celana hitam, baju merah gelap, topi
coklat tua dan menenteng buku sekolah, karena ia langsung menunggu seusai
sekolah. Menunggu dua jam.
Sedang rinciannya, seribu sudah pasti. Tapi bisa saja jadi seratus
ribu, tergantung dari kepekaan respon mata
dan hati. Salah satunya adalah jip tua
Behzad yang lalu-lalang membawa Behzad
ke kuburan kampung tinggi di puncak salah
satu bukit, supaya Behzad bisa menerima
telepon Godzari dari Teheran. Tembakan
kamera ke siku-siku perkampungan disempurnakan
oleh kebersahajaan para wanita berkerudung
hitam yang tersebar duduk-duduk di depan
rumah , bekerja, maupun melongok kedatangan
insinyur, yang kabarnya sudah terdengar
jauh sebelum Behzad tiba. Senyum ibu penjaga
warung yang tersungging selintas setelah
kehabisan argumen sewaktu cekcok menjaga
teritori warungnya dari serangan asap mobil,
adalah rincian lain. Rumah duka yang memencarkan
sinar lampu merah ke luar maupun wajah
seorang perempuan berkerudung merah jauh
di latar belakang. Itu adalah wajah yang
dimohon agar bisa dilihat Behzad namun
tetap saja tak terlihat. Bahkan wajah-wajah
yang sama sekali tak terlihat; Ibu Malek
yang sakit, si penggali kubur, dan teman-teman
Teheran Behzad, menjadi salah satu unsur
visual yang bekerja efektif menggelisahkan.
Abbas Kiarostami belum lama mengatakan tidak tertarik lagi dengan
gambar-gambar dalam ruangan yang menggunakan sistem pencahayaan artifisial.
Jadi di sini dia, bersama Direktur Kamera Mahmoud Kalahari, menggunakan
pencahayaan alam. Hasilnya gambar-gambar indah yang menjadi salah
satu aktor utama. Di kampung perbukitan ini, Abbas Kiarostami dan
Mahmoud Kalahari sampai pernah terjatuh karena terlelap menyerap
ditail-ditailnya.
Jelas tak mungkin kalau buatan Abbas Kiarostami hanya mengandalkan
kekuatan gambar semata saja. The Wind Will Carry Us menempatkan profesionalis
modern Teheran canggung dalam interaksi di sebuah kampung di kaki
langit. Behzad, paling tidak berusaha sekuatnya untuk mengumpulkan
informasi tentang Malek yang katanya sekarat, dan mendapatkan cerita
keluarga; seorang kakak perempuan yang tidak akur dengan adiknya
namun belakangan baikan, atau dua goresan di wajah ibunya Fahzad
sebagai tanda kesetiaan dan sekaligus untuk menyelamatkan suaminya
dari PHK. Sebuah komunitas yang menyumbang makanan kepada orang yang
sakit karena keinginan pemberi akan tercapai jika makanannya disantap
orang sakit tadi. Tak ada kepemilikan tegas, jadi kalaupun salah
mengetok pintu rumah waktu mencari susu perah tetap saja akan mendapatkannya.
Bahkan di warung teh, pelanggan harus melayani sendiri berhubung
ibu penjaga warung sedang merajuk dan duduk bersandar ke dinding
di atas karpet merah yang kumal.
Behzad sempat pula besar kepala, karena teman-temannya cuma tidur
dan mencari strawberry, sedang dia berkeliling kampung dan berbicara.
Makanya ia marah besar ketika teman-temannya yang cuma bermalas-malasan
ternyata bisa mendapatkan cerita yang sama dengan yang ia dapatkan.
Buat Fahzad, anak kampung asli Lembah Hitam, cerita apapun disampaikan
kepada semua orang yang bertanya, biarpun orang itu tidur lelap selama
dua belas jam, memetik strawberry selama sebelas jam selanjutnya,
dan baru bertanya pada jam yang kedua puluh empat. Setiap orang berhak
mendapat perlakuan yang sama, bukan berdasarkan sistem koneksi atau
imbalan seperti di dunia modern Teheran.
The
Wind Will Carry Us tidak memberi sebuah
plot yang utuh, tapi membuka interaksi
dengan orang-orang di seberang layar.
Namun mozaik-mozaik percakapan yang
masih bolong di sana sini sudah cukup
juga untuk membawa pulang sebuah cerita
indah yang lain dari Abbas Kiarostami.
Cerita indah yang digaris-bawahi oleh
kutipan puisi dari penyair perempuan
Iran, Forough Farrokhzad, yang menyutradai
sebuah film sebelum tewas dalam kecelakan
mobil. The Wind Will Carry Us (1999)
dan A Taste of Cherry (1997) adalah
dua seri tentang kematian dengan karakter
berbeda. Jika A Taste of Cherry mencengkram
dengan kematian, The Wind Will Carry
Us mencengkram dengan kehidupan.
Tapi untuk apa Behzad datang ke Lembah Hitam. Kira-kira --karena
memang tidak ada plot yang utuh-- ia menjadi pemimpin dari sekelompok
orang yang mendapat instruksi dari seseorang di Teheran untuk membuat
film kematian tentang seorang tua yang sudah sakit-sakitan di Siah
Dareh. Pada akhirnya -setelah kawan-kawan Behzad yang tidak sabaran
sudah memutuskan pulang-- orang tua itu meninggal. Namun upacaranya,
yang tadinya ditunggu-tunggu ternyata menjadi tidak penting, karena
Behzad tersadarkan kalau dia akan tetap selalu tak layak berada di
kampung itu. Untunglah, dari dalam jipnya sesaat akan pulang, ia
sempat memotret wajah-wajah perempuan kebanyakan di Lembah Hitam
yang bercadar hitam, berbaris ke upacara kematian. Wajah-wajah yang
berada di antara dua dunia, di kaki langit.
***
laporan
film lain Tentang
Orang Biasa
Liston
Siregar
laporan
film lain Membawa
Taiwan ke Peta Dunia
Lenah
Susianty
situs
nir-laba untuk karya
tulis
ceritanet
kirim
tulisan
©listonpsiregar2000
|