sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 3, Senin 29 Januari 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

laporan Mengantar Bruno
Nyoman Dani

Waktu itu Selasa 18 Juli 2000, jam delapan malam kurang sepuluh. Saya membuka pintu mobil untuk putri saya, Karin, yang baru saja selesai latihan balet di Namarina, Gandaria. Begitu mobil meluncur, Karin memberitahu ''Pa, si Mur tadi telepon, katanya Bruno sakit dan sudah dua hari tidak mau makan.''

''Aduh., mesti di bawa ke dokter malam ini juga 'Rin.'' Berhubung sudah telat -- jam menunjukkan pukul delapan malam-- maka saya coba menyetir agak ngebut agar lebih cepat sampai di rumah. Saya belum makan malam dan itulah hari pertama menikmati kebebasan dari serangan diare selama dua hari. Siangnya, di kantor, saya bahkan masih makan bekal bubur dari rumah. Terasa lapar.

Sesampai dirumah, saya cepat-cepat ganti pakaian, makan malam, lau mengajak putra sulung saya, Gatot, menjemput Bruno dari rumah mertua untuk dibawa ke Dokter. Waktu itu ibu mertua bersama istri sedang di Eropa untuk kunjungan ke rumah adik ipar saya di Jenewa dan London selama dua bulan lebih. Rumah mertua hanya dijaga pembantu, Mur dan Isah, plus Bruno. Sebelum pergi, mertua dan istri sudah memberikan sejumlah daftar pekerjaan untuk rumah kami dan rumah mertua, lengkap dengan semua kemungkinan keadaan darurat. Nama Bruno, anjing kampung berkulit coklat susu, tidak masuk dalam daftar.

Waktu saya cari Bruno ke belakang melewati pintu samping di dekat tempat cuci pakaian, saya temukan dia terbaring di tangga teras belakang. Tampak kurus, lemah dan tidak sanggup berdiri. Saya usap-usap kepalanya, badannya, namun dia tidak bereaksi. Saya raba hidungnya, kering. ''Wah sakit nih!''. Kalau menurut Mur, Bruno stress karena di belakang rumah sedang ada pekerjaan bangunan yang bising.

Saya gendong Bruno ke mobil karena sudah tidak bisa jalan sendiri. Gatot menyetir sedang saya mendampingi Bruno di kursi belakang. Sesekali matanya memandang ke saya seperti mengharap agar bisa cepat ditolong. ''OK, kita ke dokter sekarang ya," saya mencoba menenangkan dia -dan sekaligus menenangkan diri sendiri-- sambil mengusap-usap kepalanya. Ternyata bisa memancing tanggapan Bruno, yang menggerak-gerakkan ekornya. Meluncurlah kami ke Dokter Martina.

Sampai di sana, jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat 45 menit. Hampir saja dokternya tutup. Ruang praktek sedang di bersihkan siap-siap untuk tutup. Jadi Bruno terpaksa diperiksa di ruang tamu. Saya pangku Bruno untuk diperiksa dokter. Temperatur rendah, hidungnya bengkak, lantas ada bercak-bercak merah akibat kadar thrombosit darah sudah anjlok. ''Bisa jadi kena Distemper nih," kata dokter. Saya tahu distemper itu penyakit anjing yang mematikan.

Bruno kemudian diinfus, ditambah suntikan vitamin C, dan saya tidak tahu lagi apa-apa saja yang masuk ke tubuhnya melalui suntikan, sampai-sampai ditempat yang diinfus ada jendolan segede genggaman tangan. Gatot dan saya sabar menunggu, sambil berjuang melawan serangan nyamuk-nyamuk yang bertubi-tubi. Melihat kami berdua sibuk menghadapi serangan nyamuk, Dokter Martina menjelaskan kalau dia pernah memasang alat lampu pembunuh nyamuk, ''tapi kortsluiting gara-gara terlalu banyak nyamuk yang terbunuh,'' katanya mencoba meminta pengertian kami. Saya tanya ''Alat bikinan lokal ya dok." Dijawab ''ya". Pantas.

Kira-kira setengah jam lebih, selesailah pemeriksaan, infus dan suntikan. Masih ada lagi resep obat; empat jenis, antara lain antibiotik, anti virus, dan anti distemper. Saya gendong Bruno kembali ke mobil. Seperti semula posisinya, Gatot tetap nyetir dan saya mendampingi Bruno di kursi belakang. "Kita langsung saja ke Apotik Tomang Raya 'Tot.'' Tangan saya tidak lepas memegang Bruno. Saya yakin sekali kalau dia memang ingin terus didampingi. Kalau tangan saya lepas, langsung matanya memandang saya. Luluh hati saya. Sesekali kepalanya menengok ke atas. Kalau saya panggil dan saya ajak omong, ia mengibaskan ekornya beberapa kali.

Saat saya harus turun beli obat, dia berusaha bangkit mau ikut. Saya bilang, ;"Tunggu ya Bruno.'' Karena badannya lemah akhirnya terpaksa terhempas di kursi dan terbaring lagi. Gatot menemaninya di mobil sementara saya ambil obat. Sekitar lima belas menit kemudian ia kembali ke mobil. ''Tadi dia coba duduk Pa, tapi terhempas lagi," lapor Gatot.

Saya masuk mobil dan ketika duduk di sebelahnya, matanya kembali memandang, dan ekornya bergerak-gerak. Dia seolah-olah mengatakan; ''I am OK.'' Tapi mata itu tampak tak punya harapan lagi. Terasa goresan --halus, tajam dan seketika-- di rasa hati. Sayalah yang dulu membawa Bruno kecil ke ibu mertua.

Malam itu Bruno menginap di rumah kami supaya lebih gampang memberi obatnya. Ada yang tiga hali sehari dan ada yang dua kali. Saya dan Gatot sudah sepakat berbagi waktu untuk memasukkan obat. Dokter juga menyarankan agar diberi makan dog food, yang bentuknya bundar-bundar, supaya Bruno tidak terlalu kelaparan. Inipun harus dipaksa karena Bruno tidak mau makan. Malam itu obat tablet dan kapsul belum dimulai karena sudah demikian banyaknya obat yang masuk melalui suntikan. Saya tidurkan Bruno di pendopo kecil tempat saya sering mengaso di halaman belakang, dengan menaruh kain pelindung di sisi pendopo untuk menghalangi angin atau tampias hujan. Karin bahkan memberikan oblong bekas untuk dipakai Bruno. Saya juga terpaksa mengikat Bruno, kuatir kalau dia merangkak keluar pendopo tanpa setahu kami.

Kami bertiga memandangi Bruno terbaring tanpa daya. Karin masih sempat mengusap-usap kepalanya. Sudah jam sepuluh malam lebih dan saya mesti mandi, terus ngasih makan ikan, dan istirahat. Bagaimanapun saya ternyata tidak tega meninggalkannya Bruno begitu saja. Tiap 10 menit saya masih melongok ke pendopo, dan Bruno selalu memberi respons dengan menggerakkan ekornya. Walaupun segan mengangkat kepala tapi matanya melirik ke saya.

Jam sebelas malam saya usap-usap lagi kepalanya, mengucapkan ''selamat malam,'' masuk ke kamar , dan terlelap sampai pagi. Pagi itu saya terlambat bangun. Saya lirik jam, sudah pukul lima lewat 45 menit. Baru saja mau berkunjung ke pendopo, terdengar bunyi seperti Bruno berontak. Saya langsung bergegas keluar, dan Bruno kejang-kejang. Saya pegang dia, berhenti kejang sebentar tapi kemudian kejang lagi. Saya coba pegang kepalanya tapi rupanya terlambat. Dia mengeluh panjang lalu terlunglai lemes. Itulah saat teakhir dia menghembuskan nafas. Diam tidak bergerak. Saya coba raba jantungnya, hilang sudah denyutnya.

Rabu 19 Juli 2000, jam enam pagi. Matanya saya pejamkan dan menelepon Mur memberi tahu. Kebetulan Karsono, adik Mur yang laki-laki sedang di sana, jadi saya minta tolong dia dan Isah menggali lubang kubur. Saya bawa tubuh Bruno ke sana, tapi saya tidak bisa menunggu lebih lama. Karin harus diantar ke sekolah jam enam lewat tiga puluh, jadi saya serahkan penguburan kepada Isah, Mur dan Karsono. Bruno dikubur di dekat pagar tembok di belakang halaman rumah. Obat yang sudah terbeli tidak terminum sebutirpun. ''Good bye Bruno.'' Dan sekarang kehidupan harus berjalan kembali seperti biasa tanpa Bruno.
***

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000