novel Dokter Zhivago 39
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

Ruffina Onossimovna adalah perempuan yang berpikiran maju, lawan keras prasangka dan sangat cenderung pada segala sesuatu yang dipandangnya 'positif dan hayati.'

Dalam peti berlaci-laci disimpannya turunan program Erfurt* yang dipujikan oleh pengarangnya. Salah sebuah foto di dinding menujukkan suaminya, 'Voit budiman,' pada hari pelancongan umum di Swiss, bersama Plekhanov**, kedua-duanya memakai jaket sutera dan topi panama.

Sekali melihat penyewanya yang sakit itu, Ruffina Onissimovna tiada menyukainya. Ia menganggap Lara sebagai orang yang berpura-pura secara memualkan dan percaya bahwa dari mula sampai akhir ia tak betul-betul menggigau dalam demamnya. Yakin benarlah ia bahwa Lara mempribadikan seorang Gretchen yang gila dalam penjara Gothik.

Kejijikannya itu dinyatakan dengan keributan riuh-rendah; membanting pintu, menyanyi keras-keras, lari dalam bagian rumahnya bagaikan taufan dan membuka semua jendela sepanjang hari.

Flat itu letaknya di loteng paling atas dari sebuah gedung di Jala Arbat***, bila musim dingin lampu dan matahari hadir kembali, jendela-jendelanya dilimpahi langit biru, selebar sungai yang kebanjiran. Selama separoh musim dingin, flat itu penuh dengan suasana musim semi yang baru-baru menjelang.

Angin hangat dari Selatan meniup melalui jendela putaran. Di stasiun-stasiun yang jauh lokomotif mengaung bagai singa laut. Lara yang terbaring sakit dalam ranjangnya itu mengisi waktu senggangnya dengan kenangan.

Sering sekali diingatnya senja hari waktu ia tiba di Moskow dari Ural, tujuh atau delapan tahun yang lalu, dalam masa kecilnya yang tak terlupakan.

Mereka naik kereta dari stasiun, lewat jalan-jalan muram ke hotel di ujung lain dalam kota. Satu per satu lampu di jalanan melemparkan bayangan bongkok sais ke tembok-tembok; bayangan itu tumbuh terus sampai menjadi raksasa, merembet ke atap-atap, lalu terpotonglah ia dan semuanya mulai dari semula.

Seribu enam ratus lonceng di Moskow berbunyi dalam udara gelap di atas dan trem-trem juga mendentingkan belnya, ketika laju di jalanan, tapi Larapun bising oleh segala cahaya dan wajah kedai yang seolah ramai juga seperti roda dan lonceng.

Dalam kamar hotel ia terkejut melihat sebuah semangka yang luar biasa besarnya. Itulah hadiah Komarovsky yang meriah yang baginya seperti lambang kekuasaan dan kekayaannya. Ketika Komarovsky menusukkan pisau dalam buah yang menakjubkan ini dan bundaran besar hijau tua itu pecah berbelah dengan menujukkan ulu hatinya yang dingin dan bergula. Larapun menahan nafasnya, namun ia tak berani menolak sekeratpun; karena gugupnya, suapan jingga yang harum itu sendat di kerongkongannya, tapi ia memaksa diri untuk menelannya.

Seperti ia kena intimidasi oleh makanan yang mahal dan oleh penghidupan malam di ibu kota, begitu ia kemudian kena intimidasi oleh Komarovsky sendiri --inilah sebenarnya yang dapat menjelaskan segala-galanya.

Tapi sekarang Komarovsky berobah, hingga tak dapat dikenalnya kembali. Ia tak menutunt apa-apa daripadanya, tak pernah mengingatkannya pada yang lampau, bahkan tak pernah mengunjunginya; ia menjaga jaraknya, sambil berjanji sesopan-sopannya bahwa ia sedia menolongnya.

Beda sekali cara Kologrivov, bila ia bertandang padanya. Ia sukai sekali kedatangannya. Bukan karena tokohnya yang tinggi tampan tapi karenna berkat vitalitasnya serta inteligensi yang berseri-seri di wajahnya, berbareng dengan senyum riang cendekia, maka tamunya itu memenuhi separoh kamar.

Ia duduk di pinggiran tempat tidur, mengusap-usap tangannya sambil merenung. Pernah ketika ia diminta menghadiri rapat menteri-menteri di Petersburg, iapun bicara kepada mereka yang tua-tua dan bertitel itu seperti kepada anak-anak sekolah yang nakal; tapi kini terbaring di depannya seorang gadis yang barusan masih anggota rumah-tangganya, seperti anaknya saja. Dengan Lara ini, seperti juga dengan keluarga selebihnya, pergaulannya nyaris tak lebih dari sepatah kata atau selintas pandangan waktu berpapasan; walaupun sangat singkat, cara itu mengandung kemesraan serta daya tarik yang terasa oleh semua. Ia tak sanggup memperlakukannya dengan ketak-acuhan berat seperti seorang dewasa lantaran tak tahu bagaimana hendak memulai tanpa menyentuuh sesuatu yang nyeri, berkatalah ia dengan senyum seperti kepada kanak-kanak: "Nah apa yang kau kerjakan, nak? Apa maksud segala melodrama ini?"

Ia berhenti, meneliti coreng-moreng lembab di tembok-tembok dan di plafon, lalu menggeleng-geleng, alamat tak setuju.

"Ada pembukaan pameran internasional di Dusseldorf --lukisan, patung, bunga. Aku mau nonton. Kau tahu, di sini agak lembab. dan berapa lama lagi kau mau bergelandangan kian kemari, tanpa tempat-tinggal yang layak? Antara kita; perempuan bernama Volt ini mahluk yang tak menyedapkan. Kukenal dia. Mengapa tak pindah saja? Kau cukup lama sakit terbaring-baring. Sudah waktunya kau bangkit. gantilah kamarmu, mulailah apa saja, selesaikan pelajaranmu, Ada seorang pelukis temanku; dia akan ke Turkestan selama dua tahun. Studionya tersekat-sekat --lebih mirip pada flat kecil-kecilan. Kukira ia mau menyerahkannya beserta perabot kepada siapa saja yang mau menjaganya. Boleh kuurus itu? Ada lagi satu hal. Sudah lama aku ingin melakukan ini, kewajiban suci...sejak Lipa... Inilah sedikit uang premi, karena dia berpromosi. Jangan tolak... Kuminta kau jangan keras kepala...sungguh, kau harus menerima..."

Dan sungguhpun Lara membantah, mencucurkan air mata dan menentang, tapi sebelum ia pergi dipaksanya ia menerima cek sejumlah sepuluh ribu rubel.

Ketika ia sembuh, Larapun pindah ke penginapan yang ditunjukkan Kologrivov, dekat Pasar Smolensky. Flat itu di puncak rumah berloteng dua yang agak tua nampaknya, Bagian lainnya didiami oleh tukang-tukang pedati, di sebelah bawah ada gudang. Pekarangan yang berkerikil selalu dikotori gandum dan jerami yang terbuang. Burung-burung dara berkeliaran, mendekut-dekut dan terbang riuh rendah setinggi jendela Lara; kadang segerombolan tikus berbondong-bondong lewat selokan batu.
***

*Erfurt : Program Partai Sosial Demokrta Jerman yang diterima oleh Kongres SD tahun 1981
**Plekhanov : Teoritikus Marxis yang terkemuka, seorang Rusia yang kebanyakannya tinggal di Swis
***Arbat : Jalan sangat lebar dengan pasar di tengahnya.

ceritanet©listonpsiregar2000