Ruffina
Onossimovna adalah perempuan yang berpikiran maju, lawan keras prasangka
dan sangat cenderung pada segala sesuatu yang dipandangnya 'positif
dan hayati.'
Dalam
peti berlaci-laci disimpannya turunan program Erfurt* yang dipujikan
oleh pengarangnya. Salah sebuah foto di dinding menujukkan suaminya,
'Voit budiman,' pada hari pelancongan umum di Swiss, bersama Plekhanov**,
kedua-duanya memakai jaket sutera dan topi panama.
Sekali
melihat penyewanya yang sakit itu, Ruffina Onissimovna tiada menyukainya.
Ia menganggap Lara sebagai orang yang berpura-pura secara memualkan
dan percaya bahwa dari mula sampai akhir ia tak betul-betul menggigau
dalam demamnya. Yakin benarlah ia bahwa Lara mempribadikan seorang
Gretchen yang gila dalam penjara Gothik.
Kejijikannya
itu dinyatakan dengan keributan riuh-rendah; membanting pintu, menyanyi
keras-keras, lari dalam bagian rumahnya bagaikan taufan dan membuka
semua jendela sepanjang hari.
Flat
itu letaknya di loteng paling atas dari sebuah gedung di Jala Arbat***,
bila musim dingin lampu dan matahari hadir kembali, jendela-jendelanya
dilimpahi langit biru, selebar sungai yang kebanjiran. Selama separoh
musim dingin, flat itu penuh dengan suasana musim semi yang baru-baru
menjelang.
Angin
hangat dari Selatan meniup melalui jendela putaran. Di stasiun-stasiun
yang jauh lokomotif mengaung bagai singa laut. Lara yang terbaring
sakit dalam ranjangnya itu mengisi waktu senggangnya dengan kenangan.
Sering
sekali diingatnya senja hari waktu ia tiba di Moskow dari Ural,
tujuh atau delapan tahun yang lalu, dalam masa kecilnya yang tak
terlupakan.
Mereka
naik kereta dari stasiun, lewat jalan-jalan muram ke hotel di ujung
lain dalam kota. Satu per satu lampu di jalanan melemparkan bayangan
bongkok sais ke tembok-tembok; bayangan itu tumbuh terus sampai
menjadi raksasa, merembet ke atap-atap, lalu terpotonglah ia dan
semuanya mulai dari semula.
Seribu
enam ratus lonceng di Moskow berbunyi dalam udara gelap di atas
dan trem-trem juga mendentingkan belnya, ketika laju di jalanan,
tapi Larapun bising oleh segala cahaya dan wajah kedai yang seolah
ramai juga seperti roda dan lonceng.
Dalam
kamar hotel ia terkejut melihat sebuah semangka yang luar biasa
besarnya. Itulah hadiah Komarovsky yang meriah yang baginya seperti
lambang kekuasaan dan kekayaannya. Ketika Komarovsky menusukkan
pisau dalam buah yang menakjubkan ini dan bundaran besar hijau tua
itu pecah berbelah dengan menujukkan ulu hatinya yang dingin dan
bergula. Larapun menahan nafasnya, namun ia tak berani menolak sekeratpun;
karena gugupnya, suapan jingga yang harum itu sendat di kerongkongannya,
tapi ia memaksa diri untuk menelannya.
Seperti
ia kena intimidasi oleh makanan yang mahal dan oleh penghidupan
malam di ibu kota, begitu ia kemudian kena intimidasi oleh Komarovsky
sendiri --inilah sebenarnya yang dapat menjelaskan segala-galanya.
Tapi
sekarang Komarovsky berobah, hingga tak dapat dikenalnya kembali.
Ia tak menutunt apa-apa daripadanya, tak pernah mengingatkannya
pada yang lampau, bahkan tak pernah mengunjunginya; ia menjaga jaraknya,
sambil berjanji sesopan-sopannya bahwa ia sedia menolongnya.
Beda
sekali cara Kologrivov, bila ia bertandang padanya. Ia sukai sekali
kedatangannya. Bukan karena tokohnya yang tinggi tampan tapi karenna
berkat vitalitasnya serta inteligensi yang berseri-seri di wajahnya,
berbareng dengan senyum riang cendekia, maka tamunya itu memenuhi
separoh kamar.
Ia
duduk di pinggiran tempat tidur, mengusap-usap tangannya sambil
merenung. Pernah ketika ia diminta menghadiri rapat menteri-menteri
di Petersburg, iapun bicara kepada mereka yang tua-tua dan bertitel
itu seperti kepada anak-anak sekolah yang nakal; tapi kini terbaring
di depannya seorang gadis yang barusan masih anggota rumah-tangganya,
seperti anaknya saja. Dengan Lara ini, seperti juga dengan keluarga
selebihnya, pergaulannya nyaris tak lebih dari sepatah kata atau
selintas pandangan waktu berpapasan; walaupun sangat singkat, cara
itu mengandung kemesraan serta daya tarik yang terasa oleh semua.
Ia tak sanggup memperlakukannya dengan ketak-acuhan berat seperti
seorang dewasa lantaran tak tahu bagaimana hendak memulai tanpa
menyentuuh sesuatu yang nyeri, berkatalah ia dengan senyum seperti
kepada kanak-kanak: "Nah apa yang kau kerjakan, nak? Apa maksud
segala melodrama ini?"
Ia
berhenti, meneliti coreng-moreng lembab di tembok-tembok dan di
plafon, lalu menggeleng-geleng, alamat tak setuju.
"Ada
pembukaan pameran internasional di Dusseldorf --lukisan, patung,
bunga. Aku mau nonton. Kau tahu, di sini agak lembab. dan berapa
lama lagi kau mau bergelandangan kian kemari, tanpa tempat-tinggal
yang layak? Antara kita; perempuan bernama Volt ini mahluk yang
tak menyedapkan. Kukenal dia. Mengapa tak pindah saja? Kau cukup
lama sakit terbaring-baring. Sudah waktunya kau bangkit. gantilah
kamarmu, mulailah apa saja, selesaikan pelajaranmu, Ada seorang
pelukis temanku; dia akan ke Turkestan selama dua tahun. Studionya
tersekat-sekat --lebih mirip pada flat kecil-kecilan. Kukira ia
mau menyerahkannya beserta perabot kepada siapa saja yang mau menjaganya.
Boleh kuurus itu? Ada lagi satu hal. Sudah lama aku ingin melakukan
ini, kewajiban suci...sejak Lipa... Inilah sedikit uang premi, karena
dia berpromosi. Jangan tolak... Kuminta kau jangan keras kepala...sungguh,
kau harus menerima..."
Dan
sungguhpun Lara membantah, mencucurkan air mata dan menentang, tapi
sebelum ia pergi dipaksanya ia menerima cek sejumlah sepuluh ribu
rubel.
Ketika
ia sembuh, Larapun pindah ke penginapan yang ditunjukkan Kologrivov,
dekat Pasar Smolensky. Flat itu di puncak rumah berloteng dua yang
agak tua nampaknya, Bagian lainnya didiami oleh tukang-tukang pedati,
di sebelah bawah ada gudang. Pekarangan yang berkerikil selalu dikotori
gandum dan jerami yang terbuang. Burung-burung dara berkeliaran,
mendekut-dekut dan terbang riuh rendah setinggi jendela Lara; kadang
segerombolan tikus berbondong-bondong lewat selokan batu.
***
*Erfurt
: Program Partai Sosial Demokrta Jerman yang diterima oleh Kongres
SD tahun 1981
**Plekhanov : Teoritikus Marxis yang terkemuka, seorang Rusia yang
kebanyakannya tinggal di Swis
***Arbat : Jalan sangat lebar dengan pasar di tengahnya.