komentar
Gerakan
Telanjang
Sanie B. Kuncoro
Beberapa waktu lalu di Surabaya, sekelompok perempuan melakukan gerakan
buka baju sebagai bentuk perlawanan atas penggusuran rumah tinggal
mereka di bantaran kali. Penuh emosional mereka lepas baju dan dengan
baju dalam ala kadarnya mereka menghadang petugas penggusuran. Lalu
beberapa hari lalu di Ciledug Tangerang, kembali sekelompok perempuan
melakukan hal yang sama. Mereka juga menanggalkan baju untuk menghadang
petugas menggusur lokasi tempat usaha dagang mereka di pasar. Apakah
upaya itu berhasil ? Ya, dengan pengertian berhasil dalam
tanda petik.
Ppenggusuran itu memang batal
dilakukan, tapi bukan batal seterusnya ; hanya sekedar penundaan.
Patut direnungkan adalah apakah gerakan buka baju ini akan menjadi
semacam kecenderungan yang akan berkelanjutan di kemudian hari?
Tak bisa disangkal bahwa gerakan
itu memang nampak efektif. Dalam dua peristiwa tersebut
terbukti bahwa petugas mundur menghadapi ketelanjangan.
Sekalipun keberhasilan hanya sekedar penundaan, namun bagi para perempuan
itu keberhasilan tahap pertama telah diperoleh. Sekalipun hanya keberhasilan
jangka pendek, tapi bagi mereka keberhasilan tetap keberhasilan. Meskipun
sementara, hanya sehari dua hari. Sebab manalah mungkin mereka berpikir
tentang jangka panjang, apalagi masa depan, kalau pola siklus kehidupan
mereka hanyalah sehari untuk sehari, bahkan mungkin untuk seharipun
belum tentu ada yang tersedia untuk dimakan.
Ada sebuah lagu milik kelompok
Bee Gees dengan penggalan liriknya : '...is only word..' Oleh seorang
pemusik di Jawa Tengah, pengucapan lirik diparodikan dalam bahasa
Jawa yang pengucapannya nyaris persis dengan versi Inggrisnya, dengan
makna yang tentu saja jauh beda ; sejauh Solo London. Jadinya
dengan medok Jawa ngoko begini : '...iso ngliwet, kui wis bejo banget..'
yang artinya 'bisa menanak nasi itu sudah sangat beruntung.'
Di Jawa Tengah, lagu ini sangat
populer dan banyak dilantunkan orang ketika kondisi sedang bokek.
Sebuah cara untuk menghibur diri menghadapi kemiskinan. Kita memang
tidak bisa memilih untuk terlahir kaya atau miskin. Terlahir laki-laki
atau perempuan --sekalipun teknologi kloning memungkinkan. Terlahir
Hitam atau Arab. Tapi Tuhan memberi kita hak asasi yang memungkinkan
kita untuk memilih atas diri kita sendiri. Seperti kebebasan yang
Tuhan berikan kepada Hawa untuk memilih memenuhi rasa ingin tahunya
dengan makan buah terlarang.
Jadi kalau memang Hawa berhasil
makan buah terlarang, adalah karena Tuhan menghargai hak Hawa sebagai
manusia untuk memilih. Dan manusia, laki-laki atau perempuan berhak
untuk memilih menjadi apa saja. Pada berbagai seminar, diskusi atau
perayaan yang berkaitan dengan perempuan, baik di tingkat internasional
ataupun pada kegiatan PKK Ibu-ibu di wilayah RT sekalipun, akan mudah
ditemukan pembahasan bahwa perkembangan jaman telah memungkinkan bagi
perempuan untuk melaksanakan keinginannya. Perempuan bisa memilih
untuk menjadi presiden, perdana menteri, artis biru atau apa saja.
Dan Diva si Bintang
Jatuh dalam novel Supernova memilih untuk menjadi pelacur panggilan,
untuk membiayai ide besarnya tentang kemanusiaan. Dan Fatimah di jaman
orde baru memilih untuk menjadi boneka politik demi menjadi petinggi
MPR, meskipun harus melanggar hak asasi teman seiring sesama perempuan.
Dan di pasar tradisional
ada banyak perempuan berbagai usia menjadi simbok gendong --persisnya
(kuli angkut-- karena sadar memang cuma itu kemampuannya. Ada banyak
pilihan.
Tapi ketika seorang
perempuan menelanjangi tubuhnya di tengah pasar, di antara orang banyak,
di muka umum, maka itu adalah karena tidak ada pilihan lain. Yang ada
hanyalah keputusasaan di tingkat nadir. Perempuan pada kondisi itu,
pastilah seorang manusia yang bagai tidak memiliki apapun. Dan ketelanjangan
adalah harga diri terakhir sekaligus senjata terampuh untuk melemahkan
laki-laki. Sebab, apa yang bisa dilakukan laki-laki menghadapi seorang
perempuan telanjang di hadapannya selain menuruti apapun yang menjadi
keinginannya?
Bahkan seorang hakim
agungpun konon gentar dengan ancaman ketelanjangan perempuan. Tetapi,
untuk siapakah ketelanjangan dilakukan ? Untuk apakah harga diri terakhir
itu dipertaruhkan?
Sungguh bukan untuk
laki-laki. Karena laki-laki dalam aksi penggusuran itu hanyalah sekedar
sarana, petugas yang melakukan kewajiban atas nama peraturan, pelengkap
penderita. Karena sesungguhnya musuh yang dihadang itu adalah kemiskinan,
tekanan ekonomi, kesulitan hidup, nasib buruk pada suatu negara yang
carut marut dan tak tentu arahnya.
Memang tidak ada pilihan
lain. Sekalipun demikian janganlah gerakan itu diteruskan. Cukup, cukuplah
berhenti sampai disini. Karena ketelanjangan bukanlah senjata dan harga
diri haruslah dipegang teguh untuk perjuangan seberat apapun juga. Semiskin
apapun.
Bagaimanapun gerakan
ketelanjangan yang dilakukan para perempuan itu ternyata jauh lebih
terhormat daripada ketelanjangan yang terjadi di sebuah
peradilan nasional.
Di sana, seseorang
yang disebut sebagai pimpinan segala wakil rakyat, masih bertahan dengan
kursinya dan merasa masih memiliki segalanya. Padahal yang dia miliki
hanyalah dalih kebohongan, alibi lupa, dan meja pengalih tanggung jawab.
Di mata rakyat sesungguhnya dia sudah betul-betul telanjang.
***