esei Kenapa Diktator Takut Olahraga
Salil Tripathi

Sementara sepupu mereka yang materialis di Seoul dan Pusan sibuk memberi semangat kepada tim-tim Piala Dunia di stadion mereka yang megah, warga negara yang kaku di Pyongyang --setelah menolak dengan angkuh tawaran Korea Selatan agar Utara menjadi tuan rumah sejumlah pertandingan-- hanya bisa menonton pertandingan, yang menurut televisi pemerintah cukup bernilai lewat siaran tunda. Kenyataannya banyak yang menyaksikan Festival Arirang, dengan tata tarian oleh pesenam dan penari yang tanpa cacat, untuk menghormati dinasti Kim.

Menggelar Piala Dunia, 14 tahun setelah menjadi tuan rumah Olimpiade, merupakan kemenangan bagi Korea Selatan dan menyebar rasa malu bagi semua yang ingin diwakili Korea Utara. Maunya tidak seperti itu. Korea Selatan, kaki tangan imperialis, seharusnya merana dan revolusioner Korea Utara yang seharusnya pemenang. Tapi kehidupan tidak meniru naskah pemimpin agung Korea Utara --pria yang punya banyak talenta termasuk produser film-- Kim Jong-il. Hidup, seperti olahraga, tidak bisa ditebak dan tidak bisa dikendalikan.

Rejim otoritarian tidak bisa menerimanya. Mereka menghina spontanitas, hasil yang mengecewakan, maupun kejadian yang mengejutkan karena menantang rancangan agung, atau rencana, atau apa yang diharapkan. Adolf Hitler tidak tahu kalau seorang Amerika hitam Jesse Owens akan menikam teori kemurnian rasnya di Olimpiade 1936 Berlin. Inti olahraga adalah tim yang tidak dikenal bisa menyebabkan kekecewaan --seperti Senegal melawan Perancis, atau Amerika Serikat melawan Portugal. Korea Utara seharusnya tahu kalau dongeng bisa terjadi, dan mereka juga melakukannya satu kali melawan Italia di Inggris tahun 1966.

Apa yang paling dikuatirkan rejim otoritarian adalah yang tidak diketahui, yang tidak diharapkan; otokrat ingin hasil pemilihan umum dinyatakan bahkan sebelum suara pertama dihitung. Para pejabat di Cina, katanya, tegang ketika Cina kalah melawan Costa Rica pada perayaan ke-13 pembunuhan massal Lapangan Tiananmen. Tidak mau mengambil resiko apapun, Cina memenjarakan 25 pegiat demokrasi dan menahan dua lainnya sepanjang minggu itu. Bagaimana massa bereaksi? Permintaan Cina kepada pejabat Korea Selatan agar melarang semua tayangan tentang unjuk rasa di stadion berguna juga: pertandingan berakhir dengan mulus walau Cina kalah.

Tidak semua masyarakat tertutup adalah pihak yang kalah dalam olahraga. Bekas Uni Soviet, Republik Demokratik Jerman yang dulu, dan belakangan ini, Cina, merupakan bangsa olahraga yang hebat. Mereka mencapai ini secara brutal --sering sekali dengan merenggut atlit dari keluarganya sejak usia muda dan memompa mereka dengan bahan terlarang.

Otokrat mungkin punya catatan tentang sifat subversif dari olahraga. USSR menjadi tuan rumah Olimpiade pada tahun 1980; sekitar satu dekade kemudian sudah tidak ada lagi. Penguasa militer di Korea Selatan tidak bertahan lama menggelar Olimpiade. Cina akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2008. Orang Cina mungkin berpikir Olimpiade bernilai tinggi walau harus beresiko; mengalihkan perhatian orang ke olahraga lebih aman daripada membiarkan mereka punya pikiran subversif. Namun di bawah siraman lampu, semuanya bisa terjadi, seperti yang diajarkan sepakbola setiap harinya.
***
Diterjamahkan dari New Statesman 17 Juni 2002

ceritanet©listonpsiregar2000