laporan Kenangan WTC New York
Maya Susiyani

Dengan diresmikannya akhir dari pencarian korban di puing-puing World Trade Centre New York beberapa waktu lalu, maka kedua gedung kembar yang sempat jadi salah satu pusat wisata terkemuka dunia semakin masuk tenggelam ke dalam alam maya. Tak ada lagi yang tersisa selain kenangan --sedih bagi yang berduka kehilangan keluarga, riang bagi para turis, atau mungkin datar-datar saja bagi yang melintasinya tiap hari.

Aku secara jujur berada dalam kelompok dengan kenangan riang, tanpa sama sekali mengabaikan tragadi besar kemanusian 11 September. Ketika mendapat kesempatan bisa mengunjungi negeri Paman Sam bulan Juni tahun lalu, salah satu tempat yang aku kunjungi adalah gedung WTC. Betapa kagum sekali aku saat itu menyaksikan langusng gedung pencakar langit itu. Meski harus membayar $13 --yang waktu itu seratus ribu rupiah lebih-- hanya untuk sekali masuk, tak terasa rugi karena yang aku temui bernilai lebih besar dari nominal yang dikeluarkan. Apalagi gedung itu sekarang sudah tidak ada lagi, aku merasa ada nilai tambah historis dalam kunjungan itu.

Aku terasa berdiri lagi di salah satu deck menara selatan gedung WTC, yang disediakan khusus buat para pelancong. Meski New York adalah kota keuangan dan jasa, tapi banyak tempat wisatanya, dan WTC semacam perpaduan keduanya ; pusat perkantoran sekaligus tujuan wisata. Terkenang kembali pemeriksaan keamanan untuk masuk ke WTC dengan detektor, dan pemeriksaan badan. Waktu itu aku merasa penjagaan sebetulnya tergolong ketat, tapi jelas tak terpikir serangan dari udara.

Bersama sekitar 25 orang pelancong dari berbagai negara, kami naik lift, yang menurut sang penjaga merupakan lift tercepat di seluruh dunia.Dan aku merasa hanya dengan satu kali kedipan mata saja, kamipun tiba di lantai 110. Bualan sang penjaga dengan logat Latino yang kental tentang kecepatan lift itu jada terasa ada beanrnya. Aku belum pernah naik pesawat berkecepatan supersonic, tapi kira-kira aku jadi bisa membayangkan rasanya mungkin seperti naik lift di gedung WTC. Hanya butuh sekitar 2 menit untuk sampai di observatory deck di lantai 110, tempat yang khusus disediakan untuk pelancong di New York.

Dari atas puncak WTC, aku saksikan kota New York dari berbagai sudut pandang. Mulai dari Jembatan yang menghubungkan kota Manhattan dengan kota-kota di sekitarnya. Juga pulau-pulau kecil di sekitar Manhattan, termasuk patung Liberty, lambang pencapaian kaum imigran yang amat terkenal itu. Semua gambaran New York yang sebelumnya kukenal lewat medium, muncul lengkap dan nyata di depanku.

Berdiri di sana, rasanya membuat aku seperti menguasai New York. Sepertinya langit di atas kepalaku hanya tinggal sejengkal saja. Betul-betul tinggi. Di atas deck juga disediakan teleskop dan layar monitor yang isinya menjelaskan tempat-tempat menarik yang bisa terlihat dari deck itu, lengkap dengan sejarahnya. Sentuh saja dengan jari dan teleskop itu langsung bekerja. Mau berfoto? Dari berbagai sudut dan sebanyak-banyaknya.

Di observatory deck itu, juga ada beberapa mesin penjual souvenir khas kota New York. Dengan koin 50 sen, dan menempatkannya tepat pada pilihan, aku mendapatakan satu 1 koin berbentuk patung Liberty. Bentuknya lonjong dan besarnya hanya sebesar ibu jari orang dewasa. Koin itu masih aku simpan dengan rapi dan lebih rapi lagi setelah Gedung itu musnah dalam beberapa menit saja, dihantam pesawat penumpang, tiga bulan setelah aku meninggalkan New York.

Malam itu, sekitar jam sepuluh malam, aku sedikit terguncang mendengar berita pemusnahan WTC. Serasa tak percaya, gedung kokoh yang hampir menggapai langit kota New York itu bisa luluh lantak dan menimbun ribuan korban jiwa. Sesekali aku kenang kembali kunjunganku dengan membolak-balik album foto saat berada di sana, dan sering air mataku mengalir.

Gedung WTC sudah jadi tanah rata ; ground zero. Ingin juga rasanya aku melihat sisa-sisa reruntuhan itu, dan sulit membayangkan kira-kira seperti apa perasaanku kelak. Sebagai pelancong aku punya alasan untuk kenangan yang riang, tapi aku cuma warga biasa, yang tak bisa begitu saja mengabaikan sebuah kuburan massal karena ulah teroris. WTC New York tinggal kenangan.
***

ceritanet©listonpsiregar2000