Tibalah
yang tak terhindar
Lara yang sakit demam, terbaring setengah sadar di ranjang Felitsata
Semyonara; keluarga Sventitsky, bujang-bujang serta Dr. Rokov berbisik-bisik
di sekelilingnya.
Rumah
selebihnya kosong dan gelap. Hanya sebuah lampu di tangannya dalam
kamar duduk melontarkan cahaya kusamnya kian kemari di deretan panjang
kamar-kamar yang bersambungan.
Kian
kemari dalam gang panjang ini berjalanlah Komarovsky dengan langkah
tegap yang tak sabar seolah ia di rumahnya sendiri dan bukannya
bertamu. Ia menjenguk ke kamar tidur untuk dapat kabar, lalu undur
ke ujung lain dalam rumah melalui pohon dengan gelembung-gelembung
peraknya serta melintasi kamar makan dengan mejanya yang dimuati
hidangan belum tercecap serta piala-piala hablur hijau yang tiap
kali berdering-dering, bila ada kereta lewat di belakang jendela
atau seekor tikus berlarian di taplak antara barang-barang pecah
belah.
Perasaan
berbadai berdesak-desakan dalam dadanya. Inilah skandal! Ia ternoda!
Ia mendidih oleh amarah. Kedudukannya terancam, namanya dibahayakan
oleh peristiwa ini. Sedapat-dapatnya ia mesti mencegah gunjingan
orang, atau jika sudah tersiar kabarnya, ia mesti menghalangi desas-desus,
mencekiknya waktu lahir.
Sebab
lain untuk kerusuhannya ialah bahwa yang dialaminya sekali lagi
daya tarik tak terelakkan dari gadis liar yang putus asa ini. Ia
selalu maklum bahwa dia lain dari orang lain. Dari dulu ada keunikannya.
Tapi ia telah melukai si gadis serta meruntuhkan penghidupannya
dengan mendalam, pedih, tak terpulihkan lagi dan betapa resah dan
geramnya gadis itu dalam putusannya hendak membina kembali hari
depannya serta memulai dari permulaan.
Dipandang
dari sudut manapun, teranglah ia mesti menolongnya --mencari kamar
untuknya barangkali-- tapi dalam keadaan apapun ia jangan sampai
mendekatinya; ia malah harus menjauh, menyingkirkan diri agar tak
membayangi dia; kalau tidak, entah apa akan dibuatnya dengan wataknya
yang suka bergolak itu.
Masih
banyak pula kesulitan yang dihadapi! Ini bukanlah hal yang berakibat
baik. Hukum tidak main mata dengannya. Hari belum pagi dan belum
dua jam sesudah perisiwa dimulai, namun polisi telah datang dua
kali dan dia, Komarovsky, terpaksa ke dapur menemui sersan untuk
melunakkan soalnya.
Dan
kian lanjut halnya, kian rumit nanti. Harus dibuktikan bahwa Lara
bermaksud menembak dia dan bukan Kornakov. Namun itupun belum mengakhiri
soalnya; gadis itu hanya bebas dari sebagian tuduhan, tapi masih
disasari tuntutan mengenail hal-hal lainnya.
Tentu
akan ia coba apa saja guna mencegah itu. Bila perkara ini tiba di
depan mahkamah, ia akan mendapatkan bukti dari seorang ahli ilmu
jiwa bahwa Lara tak dapdat dipertanggung-jawabkan atas perbuatannya
ketika ia melepaskan tembakan, ia akan berusaha supaya pengusutan
perkara dihentikan.
Berkat
renungan ini ia menjadi tenang. Malam telah lampau. Julur-Julur
cahaya berterbangan dari kamar ke kamar, menyusup ke bawah kursi
dan meja bagaikan maling atau pengawal mahkamah.
Ketika
akhir kalinya menengok ke kamar tidur,. Komarovsky mendengar bahwa
Lara belum bertambah baik, lalu pergilah ia mengunjungi seorang
kawan, Ruffina Onissimovna Viot Voitkovsky, pengacara wanita, istri
seorang pengungsi politik. Flatnya dengan delapan kamar kini terlalu
besar baginya; ia tak begitu mampu lagi, maka dipersewakannya dua
kamar. Satu diantaranya baru-baru ini dikosongkan, hingga Komarovsky
mengambilnya untuk Lara. Kesitulah ia dibawa beberapa jam kemudian,
pingsan oleh demam otak.
***