novel Dokter Zhivago 38
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

Tibalah yang tak terhindar
Lara yang sakit demam, terbaring setengah sadar di ranjang Felitsata Semyonara; keluarga Sventitsky, bujang-bujang serta Dr. Rokov berbisik-bisik di sekelilingnya.

Rumah selebihnya kosong dan gelap. Hanya sebuah lampu di tangannya dalam kamar duduk melontarkan cahaya kusamnya kian kemari di deretan panjang kamar-kamar yang bersambungan.

Kian kemari dalam gang panjang ini berjalanlah Komarovsky dengan langkah tegap yang tak sabar seolah ia di rumahnya sendiri dan bukannya bertamu. Ia menjenguk ke kamar tidur untuk dapat kabar, lalu undur ke ujung lain dalam rumah melalui pohon dengan gelembung-gelembung peraknya serta melintasi kamar makan dengan mejanya yang dimuati hidangan belum tercecap serta piala-piala hablur hijau yang tiap kali berdering-dering, bila ada kereta lewat di belakang jendela atau seekor tikus berlarian di taplak antara barang-barang pecah belah.

Perasaan berbadai berdesak-desakan dalam dadanya. Inilah skandal! Ia ternoda! Ia mendidih oleh amarah. Kedudukannya terancam, namanya dibahayakan oleh peristiwa ini. Sedapat-dapatnya ia mesti mencegah gunjingan orang, atau jika sudah tersiar kabarnya, ia mesti menghalangi desas-desus, mencekiknya waktu lahir.

Sebab lain untuk kerusuhannya ialah bahwa yang dialaminya sekali lagi daya tarik tak terelakkan dari gadis liar yang putus asa ini. Ia selalu maklum bahwa dia lain dari orang lain. Dari dulu ada keunikannya. Tapi ia telah melukai si gadis serta meruntuhkan penghidupannya dengan mendalam, pedih, tak terpulihkan lagi dan betapa resah dan geramnya gadis itu dalam putusannya hendak membina kembali hari depannya serta memulai dari permulaan.

Dipandang dari sudut manapun, teranglah ia mesti menolongnya --mencari kamar untuknya barangkali-- tapi dalam keadaan apapun ia jangan sampai mendekatinya; ia malah harus menjauh, menyingkirkan diri agar tak membayangi dia; kalau tidak, entah apa akan dibuatnya dengan wataknya yang suka bergolak itu.

Masih banyak pula kesulitan yang dihadapi! Ini bukanlah hal yang berakibat baik. Hukum tidak main mata dengannya. Hari belum pagi dan belum dua jam sesudah perisiwa dimulai, namun polisi telah datang dua kali dan dia, Komarovsky, terpaksa ke dapur menemui sersan untuk melunakkan soalnya.

Dan kian lanjut halnya, kian rumit nanti. Harus dibuktikan bahwa Lara bermaksud menembak dia dan bukan Kornakov. Namun itupun belum mengakhiri soalnya; gadis itu hanya bebas dari sebagian tuduhan, tapi masih disasari tuntutan mengenail hal-hal lainnya.

Tentu akan ia coba apa saja guna mencegah itu. Bila perkara ini tiba di depan mahkamah, ia akan mendapatkan bukti dari seorang ahli ilmu jiwa bahwa Lara tak dapdat dipertanggung-jawabkan atas perbuatannya ketika ia melepaskan tembakan, ia akan berusaha supaya pengusutan perkara dihentikan.

Berkat renungan ini ia menjadi tenang. Malam telah lampau. Julur-Julur cahaya berterbangan dari kamar ke kamar, menyusup ke bawah kursi dan meja bagaikan maling atau pengawal mahkamah.

Ketika akhir kalinya menengok ke kamar tidur,. Komarovsky mendengar bahwa Lara belum bertambah baik, lalu pergilah ia mengunjungi seorang kawan, Ruffina Onissimovna Viot Voitkovsky, pengacara wanita, istri seorang pengungsi politik. Flatnya dengan delapan kamar kini terlalu besar baginya; ia tak begitu mampu lagi, maka dipersewakannya dua kamar. Satu diantaranya baru-baru ini dikosongkan, hingga Komarovsky mengambilnya untuk Lara. Kesitulah ia dibawa beberapa jam kemudian, pingsan oleh demam otak.
***

ceritanet©listonpsiregar2000