|
cerpen
Kucing Belang Gdubrak! Gdubruk! Pyar! Suara gaduh
dari dapur membangunkan refleks Pak Topan. Dia bangkit dan bergegas
menuju ke arah suara Periuk nasi sudah terbalik, di lantai nasi berserakan, kuali belum terbalik tapi di dalamnya minyak goreng dan nasi sudah bercampur, dan kompor terdorong ke ujung bak cucian. Di ceruk bak cucian sepintas terlihat titik-titik genangan minyak tanah. Diliriknya rak piring ; ada pecahan piring di lantai, mungkin tiga atau empat piring yang jatuh. Seketika hatinya panas terbakar amarah. Tapi dia masih punya sisa-sisa naluri kehidupan terminal. Dengan perlahan-lahan, sambil tetap awas mengamati setiap sudut daput, ia raih sebilah parang yang selalu terselip di bawah karpet dekat pintu dapur. Begitu parang panjang digenggamannya, ia melesat ke tengah dapur, berdiri persis di samping meja makan, posisi yang menurut nalurinya cocok untuk menyerang dan sekaligus memberi ruang gerak untuk mundur beberapa langkah, jika diperlukan, sebelum melancarkan serangan balik. Parang dihunusnya tegak ke atas, dan ia merasakanya tangannya lebih ringan, siap melibas bebas ke kiri, kanan, muka atau berbalik cepat ke arah ke belakang. Aliran darahnya terasa naik ke otaknya. Sudah lama ia kehilang perasaan seperti ini. Perasaan awas, marah, tapi sekaligus ringan seperti ia tidak punya badan lagi, tak akan merasakan apapun lagi yang ditusukkan atau dibebatkan ke badannya. ''Siap! Siapa yang berani ganggu Topan. Keluar!'' Sambil berteriak, dia mengacung-ngacungkan parang ke segala arah, menebas angin kosong. Sorot matanya begitu tajam mengiris malam yang kian dingin. Tapi tak ada suara, tak ada gerakan, tak ada bau. Pak Topan merasa makin tertantang. ''Aku bilang keluar! Keluar!'' teriak
Pak Topan sekali lagi. ''Bangsat! Rupanya kucing busuk. Kupikir maling atau garong, atau rampok yang perlu dihabisi Topan!" katanya sedikit lega tapi masih berbau kemarahan. Tapi bagaimanapun aku harus memberi pelajaran sama semua pengusik Topan, mahluk apapun itu, putusnya di dalam hati. "Topan tak pernah memberi ampun. Termasuk kucing sekalipun,'' katanya pelan tapi tegas. Si kucing belang kurus begerak mundur satu langkah. Mata tajamnya tetap menusuk mata Pak Topan. Naluri Pak Topan bekerja cepat dan sebelum kucing belang kurus masuk ke bawah bak pencuci, ia sergap si kurus belang. "Meoong," pekik si kurus belang, dengan mata masih menusuk mata Pak Topan, yang merasa puas mengenggam ekor kucing. Si belang kurus terapung di udara di cengkeraman tangan kiri, sedang parang di tangan kanan. Ia tiba-tiba merasa seperti Tuhan, yang menentukan nyawa mahluk hidup. Satu tebasan parang matilah si kucing, tinggal mati dengan kepala putus atau perut terurai. Tatapan tajam mata kucing belang kurus dilawannya lebih tajam lagi. Dikerutkan keningnya untuk mengecilkan mata, memfokuskan sorot mata ke mata kucing belang kurus. ''Meooong! Meong! Ampun,
Tuan. Ampun! Jangan sakiti aku. Kumohon...'' Pak Topan terkejut dan
refleks melepas kucing belang kurus.
' 'Kau! Kau binatang atau apa? Kau mahluk apa? Kenapa kucing bisa bicara....'' Muka Pak Topan pucat seperti kertas, badannya menunduk melengkung ke belakang dan tak terasa dia mundur beberapa langkah sampai pantatnya menabrak meja makan di belakang,. Tetesan keringat dingin menetes dari jidat ke alis matanya. Melihat Pak mundur, si kucing belang malah semakin berani. Dengan tenang ia melompat ke meja makan, Pak Topan sempat menggeser badannya ke kiri memberi ruang lebih banyak ke si kucing yang duduk di atas mejamakan menghadap Pak Topan. ''Aku si belang, dari perkampungan kucing. Beberapa waktu lalu aku hidup tenang dengan sejumlah kucing lain yang juga bisa bicara selayaknya manusia. Hingga... hari khilaf itu memaksa aku meninggalkan perkampungan kucing.'' Si belang menjilat kakinya kanannya lalu menggosok-gosokkan ke mukanya. Dia sudah tenang dan membersihkan badannya sementara Pak Topan masih tercenung takjub. Rasa takutnya berkurang, tapi dia tetap waswas. Digosoknya kedua matanya dan cepat digelengkan kepalanya beberapa kali untuk memastikan di depannya seekor kucing memang sedang berbicara. ''Aku khilaf telah memperkosa anak kandungku sendiri. Kucing kecil yang dilahirkan isteriku. Oh, aku sungguh-sungguh menyesal telah melakukan kebejatan semacam itu. Aku bodoh!'' Kucing itu memukul-mukuli kepalanya dengan kaki kanannya. "Meoooonggggg.." pekik si belang kurus sambil mengangkat kepalanya, seperti anjing yang melolong. "Diam!'' teriak
Pak Topan. Kucing belang kurus itu kaget dan diam. Pak Topan kembali mengendalikan diri, keluar dari ketercenugannya. Ditariknya kursi makan dan dia duduk menelonjorkan kakinya. Tapi si Belang kembali memukul-mukul kepalanya dengan kakinya. Pak Topan cepat menangkap
kaki si belang dan mengancam "Kupotong nanti kakimu!." ''Sudahlah,'' kata
Pak Topan kembali, melemparkan pundaknya kembali ke sandaran kursi sambil
mengeluh panjang. "Ahhhhh." ''Aku juga diusir dari kampung karena kasus yang sama. Memperkosa anak kandung sendiri. Jadi kita senasib, kawan." kata Pak Topan terburu-buru seperti ingin melepaskan beban yang amat berat secepat mungkin. Si belang kurus melengos ke kanan, menghindar dari wajak Pak Topan, seolah-olah ingin membantu mengurangi beban Pak Topan. Tiba-tiba Pak Topan
memukulkan kepalanya ke atas meja, mengangkat kedua tangan ke belakang
kepalanya dan menangis terisak-isak. Si belang mendekat, menjilat kening
Pak Topan. lembut. Pak Topan mengangkat kepalanya, memeluk si belang
kurus. *** Harian Mercu Suar
terbitan Jakarta menurunkan berita dengan daftar para paedopilia yang
mati dicabik-cabik harimau. "Delapan belas paedopilia mati mengenaskan
dalam waktu sekitar dua bulan, dan polisi masih mengatakan semua kasus
sedang dalam penyelidikan," seperti tertulis alinea pertama berita
Mercu Suar yang berjudul 'Masih Misterius.'
|