draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Suatu pagi cuaca di awal bulan November diberkati angin yang lembut dan segar, matahari cerah bersinar. Ranting-ranting maple peneduh jalan tempat flat Elaine berada telah hampir gundul. Tinggal beberapa helai daun mati yang masih menempel enggan gugur, menghiasi tajuk pohon-pohon peneduh perkasa itu.

Burung-burung bernyanyi, namun tak terlihat keberadaan mereka dari jendela-jendela besar flat Elaine. Jagger tidak mengenal suara burung yang berkicau itu. Sambil berpikir bahwa suara burung itu mirip dengan cucakrawa di pasar burung Jogja, dia juga sedang berkonsentrasi menyuapi Sanca yang didudukkan di atas high-chair, kursi tinggi berpengaman, dengan meja kecil di depannya.

Telepon berdering. Hati Jagger terasa bergetar. Pasti Elaine menanyakan pekerjaan rumah. Tersadar dia, heater masih dinyalakan, padahal sudah pukul sebelas dan matahari bersinar. Seharusnya dia sudah mematikan heater itu, membuka jendela dan mengganti udara di dalam flat, demi kesehatan sekaligus penghematan.

Namun itu semua belum dilakukan, karena tak lama setelah Elaine berangkat, Jagger telah mengajak Sanca ke Portobello untuk membeli tahu di health-food shop yang ada di bawah jembatan rel kereta yang melintas di atas jalan Portobelo, tak jauh dari flat. Meskipun matahari bersinar terang dan langit kota London cerah tidak tertutup mendung segumpalpun, angin justru bertambah dingin. Paling tidak bertambah dingin menurut Jagger.

Ketika Sanca diajaknya ke pasar di Portobello, Jagger merasakan angin dingin seakan menampar-nampar wajahnya dan mencari celah di leher jaketnya untuk membekukan hingga tulang-tulangnya. Tak lama, wajahnya terasa kebal karena dingin. Dan Sanca mulai rewel. Mungkin Sanca lapar, namun yang pasti, dingin itu yang menariknya pulang ke rumah, flat Elaine yang mungil dan hangat itu. Dingin itulah yang membuatnya lupa mematikan heater. Jagger mengangkat telepon;

"Hello?"
"It's me…"
"Hello Elaine. Sanca is eating his lunch" jawab Jagger; segera menjelaskan bahwa Sanca sedang makan. Maksudnya agar masalah Sanca sedang makan itulah yang menjadi agenda pembicaraan di telpon, dan bukan masalah heater.

"Eating lunch? Darling, it is only eleven and it is such a lovely day! You should take Sanca out to the park and get some fresh air! Have you been inside all morning? Oh, Jagger, you should be able to do better! Sanca should not be eating yet, either!"

Nada Bicara Elaine terdengar cemas dan tegang. Masa baru jam sebelas pagi, Sanca sudah dikasih makan?! Dan pagi yang cerah dengan sinar matahari yang hangat ini harus di manfaatkan untuk menghirup udara segar di park, bukannya untuk diam saja di flat dan makan sebelum waktunya! Dan pasti heater juga belum dimatikan dan jendela belum dibuka dan di dalam flat pengap dan panas kering!

"Jagger, have you left the heating on too?"
***bersambung

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo

ceritanet©listonpsiregar2000