Layatan
telah selesai. Dalam hawa dingin itu para pengemis menyuruk-nyuruk
berkumpul dalam dua barisan. Kereta mayat, pedati dengan karangan-karangan
bunga serta kereta keluarga Krueger bergerak dan goyang sedikit.
Sais-sais mendekati gereja, Shura Schlesinger keluar dengan muka
tercoreng oleh bekas air mata; ia buka cadarnya yang basah, pandangannya
memancar mencari-cari di barisan kereta; setelah menemukan kereta,
tempat menunggu orang-orang yang mengangkat keranda, iapun memberi
perintah dengan aggukan kepala lalu lenyap bersama mereka dalam
gereja. Makin banyaklah orang yang tercurah ke luar.
"Nah,
jadi berpulanglah Anna Ivanovna. Ia tak lagi bersama kita, sukmanya
yang malang telah melawat ke tempat mubarak."
"Ya
kasihan, hidupnya lampau dan kini istirahatlah ia."
"Kau
punya kereta atau kau ambil nomor sebelas?"
"Aku
semutan karena berdiri saja selama ini. Mari melundjurkan kaki sedikit,
cari kereta."
"Kau
lihat betapa sedihnya Fufkov? Ketika melihat Anna, ari mata mengalir
dimukanya, hidungnya merah dan ia memandang nanap kepadanya. Berdiri
di sisi suaminya pula."
"Ya,
selalu menaruh hati padanya."
Demikian
orang berjalan ke pekuburan di ujung lain dari kota. Hari itu salju
beku meleleh. Hari tenang, muram, hari berakhirnya pembekuan salju,
hari yang tepat untuk penanaman mayat. Salju kotor nampak seperti
bersuar dari belakang sutra dan pohon-pohon ru di belakang pagar
gereja basah dan gelap bagai perak redup, nampak seperti jubah kabungan.
Di
pekuburan itu juga Ibu Yura dimakamkan. Tahun terakhir ini ia tak
mengunjungi kuburannya. Ia memandang ke arahnya sambil berbisik
: "Mama," hampir seperti yang mungkin dilakukannya bertahun-tahun
lebih dulu.
Orang
pulang dalam kelompok-kelompok piktores yang murung; lenggak-lenggok
di jalanan kecil yang disapu bersih itu agaknya tak selaras dengan
langkah para pengabung yang tenang lagi sedih. Tonya bergandengan
dengan ayahnya. Mereka diikuti keluarga Krueger. Tonya nampak manis
dalam pakaian hitam.
Salju
beku kelabu, rumbai seperti bulukan, merecup-recup di rantai yang
mengikat salib-salib pada kubah dan pada tembok-tembok jingga dari
biara. Jemuran tergantung dari tembok ke tembok di pojok terjauh
perkarangan biara --kemeja dengan lengan berat karena kuyup, cita
dan taplak meja makan yang basah dan menggelembir. Yura sadar bahwa
inilah sebagian tanah biara --kelihatan lain akibat gedung-gedung
baru-- darimana malam itu taufan mengamuk.
Yura
berjalan terus sendirian , mendului yang lain-lain, sekali tempo
berhenti agar mereka mengejarnya. Untuk membalas tantangan kesepian
yang terbawa oleh maut dalam hidup masyarakat kecil yang para anggotanya
berjalan pelan-pelan di belakangnya itu, iapun bagai air yang mau
tak mau tersalur ke bawah, terhanyut untuk mimpi, berpikir, menyusun
ujud-ujud baru, mencipta keindahan.
Lebih
bersemangat dari yang pernah dialaminya, sadarlah ia bahwa kesenian
mempunyai dua ketekunan yang tetap dan tak berakhir; seni selalu
bersemadi tentang maut dan disamping itu selalu menciptakan kehidupan.
Ia yakin bahwa ini berlaku untuk semua kesenian besar dan sejati;
demikianlah karya seni yang dinamakan Friman Santa Johan serta semua
karya yang telah melengkapkannya dari abad ke abad.
Ia
gembira menghadapi waktu sedikit hari lagi yang hendak disisihkannya
untuk dipergunakannya seorang diri, jauh dari universitas dan dari
rumah, supaya ditulisnya sajak untuk memperingati Anna. Di dalamnya
akan disiapkannya semua hal seada-adanya yang oleh penghidupan ditebarkan
dalam perjalanannya --beberapa gambaran tentang segi-segi terbaik
dalam watak Anna; Tonya yang sedang berkabung; beberapa persitiwa
ketika pulang dari melayat; jemuran yang tergantung di tempat ia
menangis dulu sebagai kanak-kanak, dimana taufan mengamuk.
***