esei Le Pen dan Indonesia?
Liston P. Siregar

Le Pen seperti obat kuat bagi politik Perancis. Pemilihan presiden yang tadinya lesu langsung jadi unjuk rasa jalanan, ekspresi politik yang paling transparan. Bagi orang Perancis --yang tradisi kiri-nya paling keras di kawasan Eropa Barat-- perolehan 16,86 persen suara partai ultra nasionalis -walau tak sampai satu persen diatas partai Sosialis- seperti membunuh karakter bangsa Perancis yang paling mulia ; liberte, egalite, fraternite.

Memang semua orang yakin Le Pen akan kalah dalam duel pemilihan Presiden babak kedua menantang Jacques Chirac -akhir pekan pertama Mei. Tapi yang sudah terjadi amat mengejutkan ; seorang Le Pen -yang berusia 73 tahun dengan cap anti imigran dan sudah tiga kali gagal maju ke babak kedua- bisa mengalahkan pekerja keras Partai Sosialis, Perdana Menteri Lionel Jospin -yang berhasil menerapkan masa kerja 35 jam seminggu. Itulah yang membuat semua orang di Perancis --dan semua pemimpin Eropa Barat-bergerak mendukung Chirac, untuk makin memastikan kekalahan Le Pen nanti.

Apatisme Politik
Salah satu yang membuat Le Pen naik daun adalah isu keamanan. Dari 16 calon presiden, ternyata hanya seorang Le Pen saja yang pertama kali menyentuh masalah keamanan, antara lain dengan janji 200.000 penjara baru di seluruh Perancis dan referendum tentang hukuman mati. Adalah kebetulan kalau daerah-daerah yang relatif tidak aman adalah yang banyak kaum imigran.

Lantas ada juga kemungkinan faktor ucapan 'selamat berpisah.' Mantan anak jalanan yang dulu mengaku pernah menyiksa orang Aljazair ini praktis melekat dalam politik Perancis sejak pemilihan 1974, dan banyak yang menduga tahun inilah panggung terakhirnya. Dengan prediksi sebelum pemilihan -yang amat diyakini banyak orang-- bahwa Le Pen akan kalah dari Jospin, maka banyak pemilih mengambang yang tidak keberatan mencoblos Le Pen --sekaligus menghukum pemerintah kohabitasi Chirac-Jospin yang dianggap tak becus.

Tapi apatisme pemilih Perancislah yang dianggap paling mendorong Le Pen. Perolehan sekitar 4,8 juta suara sebenarnya tak beda jauh dengan tahun perolehan dalam pemilihan 1995, tapi rendahnya partisipasi dalam pemilihan kemarin membuat persentasenya naik, dari sekitar 15 % menjadi hampir 17 %. Angka ketidak-ikut sertaan pemilih mencapai 27 %, yang mungkin biasa di sejumlah negara demokrasi tapi tidak biasa buat Perancis yang partisipasi pemilih rata-rata di atas 80 %.

Jadi begitu Le Pen lolos ke babak kedua, barulah orang-orang yang tadinya abstain menjadi panik dan turun ke jalan. Mereka bahkan dilaporkan siap berkonfrontasi langsung dengan pendukung Le Pen, yang biasanya turun berpawai pada peringatan Hari Buruh 1 Mei.

Ultra Kanan di Eropa
Bangkitnya kubu ultra nasionalis Perancis bukanlah gejala pertama di Eropa; di Austria partai ekstrim kanan Joerg Haider, Freedom Party, masuk dalam pemerintahan koalisi, lantas partai fasis paska perang Gianfranco Fini, Aliansi Nasional, juga masuk dalam kabinet Berlusconi di Italia, dan di Inggris kehadiran British National Party makin terasa.

Dalam pemilu 2001, di daerah pemilihan Odham -yang beberapa kali dilanda kerusuhan rasial- BNP merebut urutan ketiga, di bawah dua partai utama ; Buruh dan Konservatif. Ukuran lainnya ; di London -dalam pemilihan Euro 1999 dan pemilihan walikota London 2000- perolehan NBP naik dari 17.000 menjadi 100.000 suara. Dan pekan ini, dalam pemilihan lokal di Inggris, suara BNP diperkirakan akan makin meningkat, cukup untuk bersiaga awal

Trend ekstrim kanan ini rasanya perlu lebih diperhitungkan jika dikombinasikan dengan partisipasi politik yang rendah -seperti yang sudah terbukti di Perancis. Tahun 2001, misalnya, Partai Konservatif Inggris mencoba mengorek suara sampai titik terakhir dengan isu peraturan imigrasi yang lebih ketat dan anti Eropa. Partai Buruh sudah pasti bakal menang, tapi karena sadar partisipasi akan rendah maka mereka menyebar poster kampanye bergambar Ketua Partai Konservatif, William Hague, dengan gaya rambut Thatcher bertuliskan "Go Out and vote. Or they get in."

Hasilnya Labour tetap saja menang mutlak, walau partisipasi pemilih cuma 59,4% --turun drastic dari 71.4% pada tahun 1997. Tapi survey usai pemilu menunjukkan 54 % lebih dari mereka yang abstain menyatakan bakal mencoblos Buruh, jika memang harus memilih. Seandainya lebih banyak lagi pendukung Buruh yang tak mau datang ke kotak suara, betapa besar harga yang dibayar Partai Buruh.

Orang Perancis tampaknya tidak mau jadi keledai. Tingginya semangat anti Le Pen sekarang ini diperkirakan akan mengangkat partisipasi dalam pemilihan babak kedua dan Chirac bisa menguasai sampai 80 % suara lebih. Di atas kertas Perancis bakal tenang kembali ; karakter liberte, egalite, dan fraternite makin terbukti tahan godaan.

Tiga Kelompok Indonesia
Kalaulah dibandingkan dengan Indonesia, karakter Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila -atau ringkaskan sajalah sebagai keadilan dan demokrasi- rasanya masih aman-aman saja, walau mungkin sudah perlu juga untuk mulai bersiaga. Soalnya, kerja keroyokan Habibie, Gus Dur, dan Megawati selama ini punya potensi untuk mengembangkan apatisme politik.

Jika saja apatisme itu kelak menguat, maka tinggallah uang, keamanan, dan agama yang paling mudah disebarkan. Dan tak terlalu sulit rasanya mereka-reka ketiganya; kelompok yang sudah menumpuk kekayaan selama 30 tahun lebih, kelompok yang bisa memodifikasi keamanan sesuai kepentingannya, dan kelompok yang selalu mencita-citakan negara Islam.

Tidak ada yang salah dengan kemenangan satu dari ketiga kelompok itu, jika merupakan pilihan sadar mayoritas. Cuma di Indonesia belum ada kesempatan kedua seperti di Perancis. Jika 'Lepenisasi' sampai ke Indonesia, sodokannya akan telak, apalagi jika amandeman UUD 1945 --seperti yang naga-naganya bakal terjadi-- dibatalkan dan sistem perwakilan rakyat tetap seperti yang sekarang.
***

©listonpsiregar2000ceritanet