draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Setelah setiap hari bertambah gelap dan dingin dan basah dan menjemukan, sampailah juga bulan November. Lebih dingin. Lebih gelap. Sering matahari tidak terbit sama sekali, sampai malam datang tergesa-gesa, gelap pada pukul empat sore hari. Angin kencang meniup pucuk-pucuk cerobong asap yang menyembul dari setiap bangunan kota tua, dan menimbulkan bunyi lolong-lolong panjang, mirip dengan suara mulut botol ditiup. Daun-daun pepohonan menguning dan rontok lalu membusuk di tanah yang becek. Cuaca gelap membuat orang-orang murung, udara berbau basah cendawan.

Kehidupan senyatanya sebagai imigran di London, lengkap dengan empedunya yang pahit, mulai dirasakan oleh Jagger Melayu. Bahkan, setelah mengalami tiga bulan lebih hidup di London, di lubuk hati dia merasakan susah dan bosan.

Telah sejak seminggu yang lalu, Elaine memulai kontrak bekerja pada satu perusahaan film independen milik kawannya, sebagai sutradara untuk suatu film dokumenter mengenai ecstasy. E, drug baru yang di desain khusus untuk rekreasi dan menjadi trend di dunia pesta anak muda di kota London.

Semula drug ini menjadi trend di Amsterdan dan di California, dan baru-baru di awal tahun 1990-an mulai populer di kalangan para kaum muda Inggris, terutama London. Drug tersebut didesain khusus untuk dinikmati bersama dengan musik trance dan lampu warna gemerlap lantai dansa. Tetapi bukan masalah ecstasy yang merisaukan benar bagi Jagger, dia yakin, Elaine, tidak seperti dia, adalah tipe yang tidak mudah teradiksi oleh drugs.

Ritme pekerjaan Elaine dan beban pekerjaan rumah yang asinglah yang menyodorkan kenyataan lain pada hubungan perkawinan Jagger dan Elaine. Kesibukan pekerjaan baru berjalan satu minggu, dan mereka sudah memiliki hubungan yang berbeda dari semula.

Kini, segala sesuatu teratur dan diatur. Dingin begitu dirasakan Jagger. Elaine berangkat setiap pagi pada pukul tujuh, supaya tidak terjebak rush-hour di dalam tube, kereta bawah tanah yang membawanya ke pusat kota yang tua, Central London, di mana kantornya berada. Elaine pun mulai sering mengeluhkan penderitaan hidup di London dengan bayi kecil, sambil berusaha bekerja mencari nafkah, bersuamikan orang Indonesia. Seorang bernama Jagger berasal dari Jogja.

Sebagai perwujudan kebijaksanaan dan rasa tanggung-jawabnya, sebelum mulai bekerja, Elaine memikirkan keluarganya dahulu. Jagger dan Sanca belum pernah tinggal di belahan bumi bagian jauh, di dekat kutub utara. Keduanya butuh pakaian winter, jaket tebal, sweater, sepatu boot, dan pakaian dalam untuk musim dingin, jadi perlu Elaine mengacarakan shopping untuk mencari sale.

Sambil mendorong trolley di super market Marks & Spencers di High Street Kensington, tak jauh dari istana Kensington, kediaman Lady Diana Spencer yang cantik, Elaine terbelalak melihat harga-harga barang. Setelah lama tak berada di London dan menjadi terbiasa dengan membayar beberapa ratus rupiah untuk sarapan bubur sayur yang dijual setiap lepas subuh oleh mBokde Adi, tetangganya di kampung, harga-harga Marks & Spencer terasa terlalu mahal buat Elaine.

Dalam shock ringan yang membuatnya makin tegas melangkah, langsung Elaine mendorong trolley-nya ke sudut obral yang bertanda sale. Di pilih-pilihnya barang di antara barang-barang stock lama yang di jual murah, dan di dapatnya beberapa baju untuk Sanca, dan satu sweater untuk Jagger.

Kita semua bisa-bisa jatuh miskin! Pikiran Elaine resah, berkecamuk di dalam benaknya, ketika dia berjalan cepat-cepat ke halte bus di Kensington Park Road untuk pulang. Bawaannya hanya dua tas plastik besar berisi pakaian obral Marks & Spencer. Pakaian itu tebal-tebal, kebanyakan untuk Sanca, yang pasti setiap saat membutuhkan ganti pakaian yang bersih. Karena itu, dua tas belanja plastik tak cukup untuk memenuhi kebutuhan winter Sanca dan Jagger. Untungnya, ada Karen, sahabat Elaine sejak mulai kerja di film, satu-satunya teman yang sudah pernah punya anak. Maka Sanca bisa melungsur bertumpuk-tumpuk pakaian bekas yang masih baik dari Oscar.

Jagger tidak bisa melungsur siapa-siapa, bahkan pakain Elaine terlalu besar untuknya. Jadi Jagger harus membeli semua pakaian winternya, artinya, Elaine yang mengantar ke toko, mencarikan sale, memilihkan yang tidak kampungan, dan membayarkannya juga.

Jagger belum pula punya rekening bank, uang sangunya dari tanah Jawa yang makin hari makin dirindukannya, sudah habis. Tak berdaya dia, membeli susu pun tak mampu.

Biaya tinggi, dan sayangnya, Jagger, yang berasal dari satu kampung di kota Jogja, tidak punya uang yang berarti. Setelah dahulu membeli tiket, mengurus visa dan sebagainya, uang Jagger yang ditabungkan selama ini habis sudah. Padahal kebutuhan terus membidik. Jagger tidak bisa mencukupi semua biaya itu.

Jadilah Elaine bekerja, meniti lagi karier sebagai pembuat film dokumenter independen. Sebenarnya Elaine tidak hendak mengeluh soal ini, karena sejak semula dia siap menghadapi berbagai kesulitan yang muncul dari perkawinannya dengan Jagger. Persoalan finansial tidak sedemikian merisaukan Elaine, yang sebagai profesional mampu menuntut gaji cukup besar, cukup untuk menopang hidup keluarganya di London.

Namun, yang kurang dibayangkan adalah kerinduannya sebagai seorang ibu yang masih menyusui. Kerinduan itu tak terkira dan menyiksa perasaannya. Derita ini membawakan keluhan yang membutuhkan dokter.

Kerja film tidak mengenal waktu, maka terpaksalah Sanca dibiasakan minum susu formula, akibatnya kekebalan tubuhnya menurun dan dia jatuh sakit. Buah dada Elaine juga sakit. Membengkak. Meradang. Namun, Sanca, anak lucu yang terbayang-bayang haus di mata hatinya, berada jauh di sana, di rumah, bersama dengan ayahnya.

Dokter menasehati Elaine untuk memerah sendiri susunya dan menyimpannya di dalam lemari es agar bisa dihangatkan untuk Sanca setiap Sanca membutuhkannya. Sambil mendengar penjelasan dokternya itu, Elaine membayangkan bayinya lapar, dan dadanya pun mendesir, susu deras muncrat dari pori putingnya. Basah menembus kutangnya, menembus T shirtnya.

Selalu saja begitu setiap dia teringat Sanca. Susunya diperah sendiri tanpa alat (dicoba pompa karet tapi sakit) dan hasilnya lebih dari tujuh botol 250 ml, kadang sampai sembilan botol. Setiap pagi keluarga Jagger punya ritus kecil, mencek persediaan susu ibu di kulkas dan melambaikan ibu pergi.

Jagger pun tak pernah membayangkan menjadi ayah rumah tangga, seharian mengasuh anak, mengurusi kompor di dapur dan persediaan makanan yang ada. Dia menjadi semakin cekatan mengganti popok dan merawat bayi. Dia banyak menimang, membaca perasaan dan kemauan Sanca yang semakin hari semakin lekat kepadanya. Sembilan botol berisi susu Elaine merupakan makanan Sanca selama ditinggal berburu oleh ibunya. Kini Jaggerlah yang harus menjadi ibu.

Menjadi ibu berarti harus ingat dan waspada, kapan harus menghangatkan susu, kapan harus melatihkan Sanca memakan makanan lembut, kapan harus mandi, kapan harus bermain-main, apa yang harus dimainkan dan kapan harus tidur serta dengan pakaian apa. Konsentrasi yang terus menerus kepada anak yang masih lemah itu merupakan pengabdian seorang ibu, dan meski sangat membahagiakan, di lain sisi, ada keletihan dan kebosanan pula di situ.

Selain itu, Jagger juga harus menyiapkan makanan buat dirinya dan Elaine juga. Dan dia Cuma bisa memasak cara Indonesia, itupun Cuma sekedar menumis-numis saja dan menggoreng-goreng saja.

Semula, yang merisaukan Elaine Cuma satu, yakni kebiasaan Jagger untuk memasang heater non stop tanpa pernah mematikannya, apalagi membuka jendela flat lebar-lebar untuk bertukar udara. Sebagai ibu dia khawatir udara hangat itu membiakkan bakteri-bakteri penyakit. Terbiasalah dia menelpon dari kantor ataupun dari lapangan, menanyakan hal-hal pengurusan rumah tangga. Kebiasaan ini membuat kesal suaminya, seperti merasa tidak dipercaya oleh istri.

Padahal Jagger merasa berjuang juga, banting tulang untuk mengasuh anaknya sendirian di rumah. Selama Elaine pergi bekerja, Jagger di rumah bukan menganggur, melainkan melakukan seluruh pekerjaan ibu rumah tangga. Kadang-kadang Jagger berpikir, begini ini rasanya jadi ibu rumah tangga; sakit juga bila tidak dihargai.

Apalagi bila Elaine menegurnya karena kesalahan-kesalahannya di bidang menggunakan peralatan masak, mencuci baju, menjaga kebersihan dapur, dan menawarkan makanan serta jenis-jenis kegiatan kepada Sanca. Peralatan-peralatan yang semuanya asing bagi Jagger. Sering dipersalahkan, Jagger merasa bahwa semua perjuangannya tidak dihargai.
***bersambung

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo

ceritanet©listonpsiregar2000