novel Dokter Zhivago 36
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

"Allah Kudus, Kudus dan Jaya, Kudus dan Kekal, kasihanilah kami." Apa ini? Dimana dia? Orang mengangkat keranda ke luar. Ia harus bangun. Ia tertidur berpakaian lengkap d dipan pada pukul enam pagi. Ia yakin badannya panas. Kini orang mencari dia di seluruh rumah, tapi tak ada yang berpikir hendak menengok di sudut terpencil perpustakaan di belakang lemari buku.

"Yura! Yura!" Markel memanggilnya. Mereka mengangkat peti mayat. Markel harus membawa karangan-karangan bunga, tapi dimanapun tak diketemukannya Yura untuk membantunya; celakanya pula, ia tertahan di kamar tidur, tempat timbunan karangan bunga, sebab pintu kamar tidur terhalang oleh pintu lemari pakaian yang terbuka di bordes.

"Markel! Markel! Yura!" teriak orang dari bawah. Markel menyingkirkan halangan bunga dngan sekali pukul ke pintu, lantas lari ke bawah dengan beberapa karangan bunga.

"Allah Kudus, Kudus dan Jaya, Kudus dan Kekal," kata-kata itu hanyut pelan-pelan ke jalanan dan tinggal di sana; seolah ada bulu yang dengan halusnya menyapu udara; semuanya berayun-ayun --karangan bunga, orang lewat, kepala kuda berjambul, pedupaaan yang goyang dirantai dalam tangan pendeta serta bumi putih di bawah kaki mereka.

"Yura! Ya Allah! Akhirnya!" Shura Schlesinger mengoncang-goncang bahunya. "Mengapa kau? Keranda lagi diangkut. Kau ikut?"

"Ya, tentu."
***

ceritanet©listonpsiregar2000