Tiga kali berkunjung,
baru aku tahu sumber kekacauannya. Memang benar, seharusnya dokternya
ditambah, yang lebih gesit, yang lebih perduli, yang lebih ramah.
Tapi itu gagasan besar yang butuh usaha besar.
Percayalah,
menambah dokter butuh perjalanan panjang, dan semangat panjang pula.
Jika tak percaya, baiklah, kita coba telusuri. Yang paling awal
adalah usulan dokter kepala puskesmas --dengan argumentasi kuat,
dan bila mungkin didukung dengan data hasil survey kecil-- ke Direktorat
Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan.
Jelas berlebihan
jika hari itu juga usulan dibaca bapak direktur. Yakinlah, bapak
direktur tak hanya mengurus puskesmas saja. Kalaupun memang hanya
mengurusi puskesmas, hitung saja ada berapa ribu puskesmas di seluruh
negeri. Rasanya wajar saja bila usulan penambahan dokter di sebuah
puskesmas di ibukota bukan prioritas utama. Pasti lebih penting
sebuah puskesmas di sebuah kampung di kaki gunung yang kehabisan
garam oralit, misalnya. Atau sebuah gedung puskesmas di pulau terpencil,
yang ambruk diterjang badai.
Tapi baiklah,
kita sepakat satu minggu kemudian bapak direktur membaca usulan
itu dan --sesuai wataknya yang tak suka menunda pekerjaan-- segera
menghubungi dokter kepala puskesmas. Esoknya ada rapat khusus di
kantor Direktorat Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan, membahas
usul penambahan dokter di sebuah puskesmas di ibukota negara.
Mungkin saja
usul itu dinilai tak beralasan, membesar-besarkan masalah. ''Kenapa
perlu tambahan dokter,'' tanya bapak direktur, misalnya. ''Apa tidak
bisa waktu layanan saja diperpanjang.'' Maka kepala puskesmas, yang
sudah siap dengan jumlah rata-rata pasien per-hari, maju ke depan,
mencoret-coret di whiteboard, menjelaskan perkara sebenarnya.
Ini kan musim
inspeksi mendadak dan turun ke bawah. Maka bapak direktur menentukan
hari sidak --seminggu setelah rapat-- yang menurut catatan dokter
kepala puskesmas adalah hari yang paling banyak pasien.
''Saya sudah
mengerti soalnya, dan akan segera saya sampaikan pada bapak menteri,''
kata bapak direktur, mengangguk-anggukan kepala ketika berkeliling
puskesmas. Tiba di kantor, segera ia --yang tak biasa menunda pekerjaan--
perintahkan sekretarisnya menghubungi sekretaris bapak menteri.
Yakinlah bahwa
urusan bapak menteri jauh lebih banyak. Artinya, kalau dalam agenda
bapak direktur usul penambahan dokter di sebuah puskesmas di ibukota
negeri ada di urutan lima, maka dalam agenda bapak menteri soal
itu --paling sedikit-- di urutan enam.
Tapi kita sepakat
lagi, minggu berikutnya bapak direktur dipanggil bapak menteri untuk
menjelaskan masalahnya.
Tidak, bapak
menteri tak perlu turun ke bawah. ''Itu gunanya delegasi wewenang
dan tanggung-jawab,'' gumam bapak menteri pelan, setelah bapak direktur
ke luar ruangan. Ia buka map berisi usulan itu, menconteng 'v' tanda
setuju, dan membubuhkan paraf di kanan atas map. Ia letakkan map
itu bersama puluhan map lain, sebelum diambil sekretarisnya.
Lantas --memang
ini usaha yang butuh waktu dan semangat panjang-- bapak menteri
--yang sadar betul ia berurusan dengan soal kesehatan masyarakat--
boleh saja langsung setuju. Namun tak berarti esok sudah ada seorang
baru di puskesmas yang tamat fakultas kedokteran, bersuara lembut,
senyum ramah, dan gesit.
Masih perlu
koordinasi dengan walikota karena puskesmas menumpang di kantor
kecamatan. ''Bicarakan juga tambahan ruang puskesmas,'' pesan bapak
menteri pada bapak direktur yang akan mewakili Departemen Kesehatan
dalam rapat koordinasi dengan dewan kota -taruhlah berlangsung seminggu
kemudian.
Rapat boleh
saja berjalan mulus, tapi usul tambahan dokter harus masuk ke Badan
Perencanan Pembangunan Nasional dulu untuk disesuaikan dengan anggaran
tahun mendatang. Dokter apa yang mau bertugas di sebuah puskesmas
tanpa bayaran sepeserpun. Orang kaya apa pula yang mau beramal membayar
rutin gaji bulanan seorang dokter puskesmas --kan lebih baik untuk
anggaran pengobatan keluarga di klinik spesialis atau untuk premi
asuransi kesehatan kelas satu.
Pasti sekali,
Bappenas tak hanya mengurus soal penambahan dokter pada sebuah puskesmas
ibukota. Sebutlah, jika dalam agenda bapak direktur usulan itu berada
di urutan lima, dan dalam agenda bapak menteri --paling tidak--
di urutan enam, maka dalam agenda bapak Ketua Bappenas --paling
bagus-- di urutan tujuh.
Mungkin saja
pada saat yang bersamaaan Departmen Luar Negeri atau Departemen
Pertahanan juga mengusulkan tambahan aparat, dengan alasan yang
tidak kalah kuatnya.
Sampai di Bappenas,
tak bisa lagi main asal sepakat menentukan satu minggu. Menghitung
ratusan miliar dan mencocokan dengan puluhan ribu rencana pos pengeluaran,
adalah pekerjaan raksasa yang butuh kecermatan tinggi --walaupun
berakibat sedikit lamban.
Tapi, yakinlah,
usul tambahan dokter di sebuah puskesmas di ibukota akan segera
direaliasasikan --tentu jika anggaran tahun mendatang memungkinkan.
Jadi, langsung saja, beberapa lama kemudian...
Ada penerimaan
dokter puskesmas -pastilah ada ribuan dokter yang mengajukan lamaran--,
lantas seleksi, penataran doktrin kesehatan masyarakat, dan job
training sebelum tugas penuh --mudah-mudahan dokter gesit yang terampil,
plus syukur-sykur dengan suara lembut dan senyum ramah.
Hanya saja --memang
agak berlebihan-- mungkin saja ketika dokter baru itu mulai maka
sudah diperlukan lagi tambahan dokter lainnya. Perjalanan panjang,
dan semangat panjang, kembali harus ditempuh.
Jangan
gagasan besar
Jadi, walau aku tahu dokternya kurang, segera aku buang gagasan
besar itu, sambil mencoba-coba mencari-cari jalan keluar lainnya
yang tidak tergolong gagasan besar.
Sykurlah,
kemarin dulu --ketika datang ke puskesmas untuk ketiga kalinya--
aku bisa temukan satu kelemahan yang tampaknya bisa diatasi tanpa
perlu gagasan besar ; penambahan dokter.
Aku
menemukannya karena kemarin jatuh pada hari Senin, ketika semua
pegawai negeri wajib ikut apel bendera.
Begini
persisnya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku sudah rencanakan
tiba di puskesmas pukul setengah sembilan. Puskesmas, tak beda dengan
kantor kecamatan dan kantor negara lainnya. Buka resmi memang pukul
delapan pagi, kenyataan urusan lain. Buktinya, pada kunjungan kedua
aku tiba di tempat itu pukul delapan kurang dua menit dan menunggu
bengong sampai pukul delapan lewat tiga puluh enam menit.
Sedang
waktu kunjungan pertama, aku datang pukul sembilan lewat lima belas
menit, mendapat nomor antrian 32 dan bertemu dokter pukul sebelas
lewat dua puluh dua --persis, karena aku memang selalu melirik arlojiku.
Jadi
untuk kunjungan ketiga, aku yakin kalau sekitar pukul setengah sembilan
sudah tepat. Tak perlu menunggu loket buka terlalu lama, tapi juga
tak mendapat nomor antrian puluhan.
Cuma
kemarin itu hari Senin, ketika semua orang ikut apel bendera. Jadi
semua rencanaku, --yang sudah disesuaikan dengan rapi berdasarkan
dua pengalaman buruk sebelumnya-- tak berjalan sesuai harapan.
Artinya
aku kembali terjebak dalam antrian karena puskesmas baru mulai beroperasi
seusai upacara bendera. Padahal menunggu antrian di loket itulah
salah satu masalahnya.
Orang-orang
transparan di ibukota
Baiklah aku cerita tentang puskesmas itu. Jelas tak semua penduduk
ibukota mampu datang ke klinik spesialis dengan ruang tunggu sejuk
berAC dan resepsionis yang cantik.
Ke puskesmas
yang kumaksud --di salah satu kecamatan di ibukota-- berduyun-duyun
orang yang tak mampu ke klinik spesialis datang mengadukan sakitnya,
dan berharap sembuh dengan membayar tiga ratus perak.
Itulah mereka
yang tinggal di gang sempit di antara dua jalan besar, di barisan
gubuk tepi sungai, di barak konstruksi jalan layang, di gubuk pembangunan
apartemen, di barisan kardus sepanjang rel kereta api, di kompleks
pelacuran, di seberang sungai, di kumpulan rumah susun, di rumah-rumah
tua yang terlantar, di mushola, di sekeliling kolam air mancur,
di dalam taman-taman umum, di pelataran parkir pusat pasar, di kompleks
perumahan pegawai pemerintah kelas lima, maupun di rumah-rumah kontrakan
berukuran enam kali tujuh meter.
Itulah mereka-mereka
yang tinggal di kawasan transparan, yang terlihat nyata oleh orang
yang lalu-lalang.
Dengan keragaman
itu, antrian di loket puskesmas persis seperti gado-gado. Ada seorang
ibu setengah baya yang bangun tidur --siapa pula yang bisa menunda
sakit-- masih dengan rambut acak-acakan, daster kebesaran, dan wajah
meringis.
Tiga baris di
depanku adalah seorang ibu muda yang sepertinya baru pulang mengantar
anaknya ke sekolah dasar negeri, satu blok dari puskesmas. Ia menunggu
gelisah --terus menerus melirik ke loket dan ke belakang --karena
waktunya memang sempit; antara mengantar anak dan menyiapkan santap
siang keluarga.
Jauh di depan
di urutan kedua, berdiri seorang bapak tua berambut putih. Ia -tampaknya
seperti seorang pensiunan pegawai negeri-- menggunakan pantalon
hitam rapih dengan hem putih bergaris-garis coklat. Berdiri tenang
di garis antrian, berkali-kali ia melirik ke belakang, mengerutkan
dahi sambil menaikkan gagang kaca-matanya yang tebal. Agaknya ia
mau periksa mata.
Tadi malam sebelum
tidur istrinya sudah menyiapkan pakaiannya, menyiapkan uang receh
pas untuk ongkos bisnya, membangunkan pukul enam pagi, menyeduh
kopi lebih awal dari biasa, melepasnya di depan pintu pukul tujuh
persis. Dan ia --yang sudah menyusun kalimat-kalimat yang akan disampaikan
pada dokter-berhasil merebut urutan kedua berkat jasa besar istrinya.
Tapi ia masih
kalah dengan si mbok berkebaya biru dengan keranjang belanjaan,
yang berdiri tegak di urutan pertama. Si mbok --yang sudah melimpahkan
tugas menyiapkan sarapan pada putri sulungnya-- baru saja usai belanja
dari pasar pagi di seberang stasiun.
Sayang aku tak
bisa menduga-duga penyakit apa gerangan yang menimpanya. Gembrot
memang, tapi masih dalam batas wajar, berdiri tegak tanpa wajah
meringis.
Sedang dua ibu
di urutan tengah, menggendong bayi masing-masing, adalah hasil nyata
kampanye kesehatan masyarakat. Aku yakin keduanya bertetangga, janjian
pergi bareng ke puskesmas setelah mencocokkan kalender pemeriksaan
bayi --sudah tiba waktunya untuk kembali menimbang bayi.
Kedua ibu rumah tangga muda itu memang sasaran utama kampanye pemeriksaan
kesehatan rutin, dan keduanya tampak bangga menjadi bagian dari
masyarakat sehat dunia --seperti tertulis di poster WHO yang ditempel
di kiri atas loket antrian. "Amati perkembangan bayi anda ,"
tulis poster berwarna hijau itu.
Di barisan paling
belakang terlihat seorang anak muda dengan jins belel dan baju coklat.
Bisa jadi ia pekerja bangunan jalan layang yang kehujanan semalaman
penuh. Berdiri lunglai dengan wajah pucat, hening menatap tanah
basah di depannya, tak peduli pada gadis berambut panjang di depannya
--yang menurutku cukup layak untuk diajak ngobrol.
Kuduga si gadis
berambut panjang bermata bulat hitam punya masalah dengan kulitnya.
Mungkin ia butuh obat untuk jerawat di sebelah kiri hidungnya, atau
ia menemukan bercak-bercak di punggungnya, atau setiap pagi ada
helai-helai rambut gugur di bantal.
Tentu saja ia
mungkin juga mengidap penyakit kronis, kanker payudara, misalnya,
atau penyempitan pembuluh darah. Mungkin saja. Penyakit tidak memandang
kaya miskin --kalau pengobatan memang iya.
Dua baris di
belakangku persis, seorang pegawai negeri dengan lencana Korpri
di dadanya sedang asyik membaca koran. Pulang dari puskesmas ia
akan menghadap kepala bagian, menyerahkan surat sakit, menghirup
kopi dingin di meja, dan pulang ke rumah. Apapun sakitnya, hari
ini pastilah menyenangkan buatnya.
Dari kerutan
di keningnya dan mata yang mengecil saat menelusuri huruf-huruf
di koran, aku duga ia diserang sakit perut --karena kebanyakan makan
ikan asin dengan sambal terasi. Itu sebenarnya bisa diatasi dengan
sebutir tablet di kios rokok seharga lima puluh perak. Tapi aku
tahu ia hanya pegawai negeri kebanyakan yang tak bakal rugi --dan
juga tak akan merugikan negara-- jika absen sehari atau lima hari
sekalipun.
Aku sendiri
segar bugar, tapi ibuku baru operasi katarak dan butuh obat paska
operasi. Aku tak mau ibu terjebak dalam antrian yang menyebalkan
ini, walau harus kembali adu argumentasi dengan dokter yang ngotot
agar ibu diperiksa rutin juga. ''Saya kan harus tahu perkembangannya,
bukan hanya menulis resep,'' kata dokter itu judes, pekan lalu.
Padahal aku
lihat sendiri waktu dan tenaganya sangat terbatas. Paling ia tanya
apa keluhan --tanpa melihat ke arah pasien karena sibuk menulis
buku laporan-- memegang kening pasien --sambil menanyakan umur--
menempatkan stetoskop pada dada pasien selama lima detik --tak perlu
tidur terlentang-- atau menyorot mata pasien dengan senter kecil,
dan menulis resep. Beres.
Aku tak mau
ibuku menunggu berjam-jam hanya untuk prosedur mekanis yang tak
meyakinkan --apalagi dengan suara judes.
Sambil antri
dengan tertib, aku cari-cari alasan lain atas ketidak-hadiran ibu,
walau aku sebenarnya tak bisa berkonsentrasi karena berdiri di urutan
ke delapan belas.
Jengkel karena
arloji sudah pukul sembilan dua puluh empat --ada tujuh belas orang
di depanku-- dan loket masih belum buka. Kulihat ke belakang antrian
mulai berbelok ke arah gerbang kantor kecamatan, dengan tambahan
sebelas orang baru --dan akan makin bertambah panjang jika loket
makin lama dibuka.
Padahal antrian
hanya pembukaan. Dari loket, para pasien harus naik ke ruang tunggu
di lantai dua, menunggu panggilan berdasarkan nomor urut. Dengan
antrian dua puluh sembilan orang di loket, maka suasana di ruang
tunggu nanti pasti makin kacau balau.
Kursi di ruang
tunggu hanya enam belas --empat kursi pada empat baris-- sehingga
belasan orang harus berdiri menyandar pada tembok sambil sesekali
berjalan mondar-mandir melemaskan otot punggung.
Kelompok
pengacau
Pada kunjungan ke dua dulu, ketika aku memegang nomor 32 selepas
pukul sebelas, aku bersua dengan kelompok lain. Itulah saatnya kelompok
ibu-ibu --yang usai menyelesaikan persiapan makan siang dan menjemput
putra-putri mereka dari sekolah-- tiba di puskesmas ini.
Putra-putri
si sakit inilah yang menambah kekacauan di ruang tunggu. Seluruh
sudut ruang tunggu mereka jelajahi, mengintip dari celah pintu ke
ruang periksa, melompat-lompat di tangga, lari berkeliling menelusuri
barisan kursi, main petak umpet, main lompat karet, atau main bola
sepak dengan gawang tas sekolah.
Semuanya
mereka lakukan di ruang tunggu berukuran delapan kali dua belas
meter. Inilah gerombolan pengacau sesungguhnya.
Pada
kunjungan kedua itu, ketika loket buka pukul delapan empat puluh
enam, dan aku masih duduk bengong di ruang tunggu pukul sepuluh
lewat dua puluh tiga, beberapa korban telah jatuh.
Aku
masih ingat wajah anak perempuan kecil yang jatuh di tangga dengan
kening berdarah. Pipi kakaknya --yang menuntun ia ke tangga-- merah
bara akibat tamparan keras si ibu, yang aku yakin menderita sakit
kepala berat.
Siang
terik itu semakin panas dengan tangis kedua anak itu, diselingi
pekik suara si ibu yang bertarung dengan seorang anak muda yang
bertahan pada ketertiban nomor urut.
''Salah
sendiri, kenapa anaknya tidak dijaga,'' ujar si pemuda menantang
si ibu yang panik.
''Kau anak setan!'' teriak si ibu dengan air mata mulai menetes.
Untunglah suster tak ragu-ragu mengambil putusan, tanpa bicara apapun
ia tarik si ibu dengan putrinya masuk ke ruang periksa dokter.
''Tai anjing!'' sumpah serapah anak muda itu, yang aku yakin juga
menderita sakit kepala yang tak kalah beratnya.
Korban
ringan lain adalah seorang putri kecil jatuh terpleset saat melompat
tali karet dan terkilir di bawah mata kaki. Dia berteriak nangis.
Lantas seorang anak laki pemain bola benjol kepala setelah berlari
sekuat tenaga mengejar bola ke arah tembok tapi ternyata tak bisa
menghentikan lajunya. "Brak," dia tabrak telak dinding
puskesmas.
Sedang
korban materi, sebuah tas sekolah yang jatuh dari jendela di lantai
dua ke genteng rumah sebelah. Si anak pemilik terisak-isak dan si
ibu --yang agaknya tertekan oleh darah yang mengucur di depan matanya,
dan tangis serta pekik suara di telinganya-- tak sabar, mencubit
si anak yang langsung ikut pula meramaikan koor tangisan siang itu.
Masih
ada botol minuman yang pecah, tumpahan bubur dari seorang bayi yang
dijejali makan oleh ibunya, genangan kencing seorang bayi lain,
dan dahak kental seorang kakek yang tak kuat melihat darah.
''Ibu-ibu jaman sekarang memang tak bisa menjaga anak,'' komentar
seorang ibu di sampingku. Aku cuma melirik kosong, tak tau mau berkomentar
apa karena aku bersimpati kepada korban-korban yang jatuh dan para
ibu mereka. Dan aku yakin Tuhan tak mungkin hanya menawarkan satu
jalan keluar untuk sebuah kekacauan besar seperti itu.
Aku
ingat-ingat lagi perjalanan antri di loket yang baru buka pukul
delapan lewat empat puluh enam sampai duduk di ruang tunggu menyaksikan
korban-korban berjatuhan. Dan aku temukan bahwa arus perjalanan
pasien tersendat-sendat. Memang, seperti yang kubilang hanya gagasan
kecil, sumber masalah adalah penantian bergerombol.
Mengatus
arus
Lihatlah, jika pukul delapan loket sudah buka --jangan suruh pasien
datang lebih siang karena sakit tak bisa ditunda- lantas suster
siap memanggil pasien pada pukul delapan lewat satu menit --jangan
menunggu orang berkumpul dulu di ruang tunggu-- dan dokter siap
bertugas pukul delapan lewat dua menit --ingatlah kembali doktrin
kesehatan masyarakat. Jika itu yang terjadi, maka tidak akan terjadi
kekacauan. Korban pun tak bakal jatuh.
Jadi, pukul
delapan tepat si ibu gembrot yang pulang belanja tiba di depan loket
dan mendapat potongan kertas bernomor 'satu'. Ia naik ke lantai
dua, dan persis ketika ia ingin duduk suster sudah berteriak 'nomor
satu'.
Pada saat itu
--pukul delapan lewat dua menit-- si bapak pensiunan tiba di depan
loket dan mendapat potongan kertas bernomor 'dua'. Ia naik ke ruang
tunggu dan duduk tertib. Tapi baru saja ia mulai mengingat-ingat
kalimat yang akan ia katakan pada dokter, suster sudah berteriak
'nomor dua'.
Pada saat itu
--pukul delapan lewat empat menit-- sebutlah seorang bapak yang
tangan kanannya luka ketika memperbaiki atap bocor, tiba di depan
loket dan mendapat potongan kertas bernomor 'tiga.'
Ia naik ke lantai
dua, duduk --dan ketika akan meletakkan tangan di lengan kursi--
suara suster terdengar kembali, 'nomor tiga'. Pada saat itu --pukul
delapan lewat enam menit-- seorang tukang bakso yang kakinya tertumpah
air mendidih, tiba di depan loket dan mendapat potongan kertas bernomor
'empat'...
Dengan arus
lancar seperti itu, dan jam layanan yang lebih awal, maka tidak
akan ada massa gelisah yang tidak terorganisir di ruang tunggu.
Tidak akan ada tumpukan kejengkelan di ruang tunggu.
Dan tak akan
ada juga balerina dan pemain bola yang berkumpul di ruang tunggu.
Jadi yang mengganggu adalah kenyataan bahwa arus perjalanan pasien
tersendat-sendat, dan layanan baru mulai pukul setengah sembilan
lebih! Itulah sumber masalahnya.
Aku menemukan
gagasan itu pada hari Senin, karena pegawai negari wajib ikut apel
bendera --yang selesai sekitar pukul delapan tiga puluh. Lantas
masih ada lagi pengisian absensi dan berkemas-kemas sekitar lima
belas menit.
Pada jam itu
--pada hari Senin-- barisan pengantri mulai menumpuk, yang siap
disusul dengan gerombolan pengacau sepulang sekolah nanti. Artinya
kekacauan besar bakal terulang kembali. Aku mulai cemas sendiri
membayangkan apa yang bakal terjadi tak lama lagi.
Aku tahu kalau
upacara bendera adalah nasionalisme, aku juga tahu kalau penambahan
dokter itu masalah besar.
Tapi sekedar
usulan bekerja sesuai jam kerja rasanya bukan soal besar. Atau mungkin
aku hanya membesar-besarkan masalah? ''Itu hanya kecelakaan pada
suatu hari yang sial.''
Lagipula mungkin
saja Bapak Direktur Kesehatan Masyarakat, Bapak Menteri Kesehatan,
Bapak Ketua Bappenas, Bapak Walikota, dan bapak-bapak lainnya tak
setuju dengan gagasan puskesmas yang bersaing dengan klinik pribadi.
''Ya memang
begitulah pelayananan masyarakat, kalau tak terima jangan ke puskesmas,''
mungkin begitulah pikiran mereka. Padahal jelas sekali aku amat
ingin membawa ibuku ke klinik pribadi spesialis mata, di jalan seberang
sana.
***
ceritanet©listonpsiregar2000