draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Telah sekian lama Paul mendengarkan Elaine bercerita mengenai lahar merah yang kadang-kadang terlihat mengalir dari kawah gunung Merapi. Di pandangan Jagger, mata Paul terlampau dalam meneluh Elaine, yang sangat menikmati kisahnya sendiri. Apakah ini wajar? Semua orang di situ, sangat menikmati pesta. Mereka bercakap-cakap, tertawa, semua kawan lama.

Jagger merasa sendiri di antara botol-botol wine dan bara api barbeque di halaman belakang sebuah rumah tua di Greenwich, tempat tinggal Laksmi dan Daren. Laksmi adalah sahabat lama Elaine, keturunan India, sedang Daren adalah suaminya. Elaine dan Laksmi mengundang kawan-kawan lain pesta barbeque di rumahnya.

Jagger meninggalkan Paul dan Elaine, membawa segelas wine, merah tua kehitamanan warnanya. Harum menenangkan syarafnya, dirasakan wine itu menghangatkan rongga mulutnya, dia telan pelan-pelan. Hangat meresapi badannya dari kerongkongan sampai lambungnya. Dia menghampiri Daren yang sedang mengurusi panggang, membolak-balik berbagai bentuk sosis dan potongan-potongan daging kambing muda.

"Hi there, grab a plate. All the meat here is halal. Laksmi especially told me to go to the halal butcher's because you are Muslim."
"Oh yes, you have halal butchers?"
"Quite a few. Quite a few. It is the fastest growing religion, you know, Islam. I find it fascinating, you know what I mean?"

Selalu saja ada orang yang mengaku terpesona oleh Islam. Jagger menyesali lagi, kenapa dia tidak pernah belajar agama dengan baik. Jagger berlatarbelakang abangan, tidak dekat dengan syariat Islam. Penghayatan agama secara Jawa itu selama ini mencukupi kebutuhan jiwanya, sampai sekarang. Di negeri asing ini terasa betapa dia butuhkan agama Islam itu, karena mau tak mau, agama Islam itu kini menjadi salah satu cirinya dalam bayangan orang.

"What is fascinating?"
"Well, for instance, the idea of praying five times a day, or the Hajj. Have you been on the Hajj?"
"No, have you?"
"No. But a friend of mine has. Said it was the most amazing experience he ever had. I don't really go in for organized religion. I like free spirituality. I believe in all religions, you know what I mean?"
"But you are Christian, right?"
"Well, I suppose you could say that. Yeah, I celebrate Christmas, enjoy Easter eggs and have been inside a Church more than once. I don't believe in dogma."

Jagger memperhatikan ada selinting ganja di tangan Daren, dan ketika Daren merasakan bibir Jagger yang dower menganga kepingin, dia pun menawari. Setelah menyedot sekepul asap ganja, Jagger merasa lebih tenang. Cemburu di hatinya tak lagi membara. Dia melirik ke arah Paul dan Elaine, dan kini bisa melihat bahwa mereka tidak sedang bercinta. Mereka cuma kawan lama yang saling rindu karena lama tak jumpa.

Hashish yang ditinggalkan Keith ternyata awet lebih dari satu bulan. Selama satu bulan itulah Jagger Melayu menikmati kebebasan menghisap hashish di jalan-jalan di sekitar Portobello, tanpa takut polisi. Bahkan aroma hashish yang wangi menjadi jembatan Jagger membina pergaulan di sekitar Portobello, jalan yang mulai makin disenanginya itu.

Orang-orang berkulit hitam banyak yang nongkrong di trotoar-trotoar di depan pub-pub tua yang banyak berada di pojokan jalan, seperti letak tradisional kelurahan di kota Solo. Banyak di antara mereka berdagang ganja di sekitar pub-pub yang bertebaran di hampir setiap sudut jalan Portobello, dan ketika Jagger Melayu mulai sering lewat, berpakaian biker dan menghisap lintingan hashish yang besar, maka tak lama mereka semua menghafalinya, menegurnya ketika lewat belanja sayuran di pasar tradisional kakilima di Portobello.
***bersambung

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo

ceritanet©listonpsiregar2000