Telah sekian lama Paul mendengarkan
Elaine bercerita mengenai lahar merah yang kadang-kadang terlihat
mengalir dari kawah gunung Merapi. Di pandangan Jagger, mata Paul
terlampau dalam meneluh Elaine, yang sangat menikmati kisahnya sendiri.
Apakah ini wajar? Semua orang di situ, sangat menikmati pesta. Mereka
bercakap-cakap, tertawa, semua kawan lama.
Jagger merasa sendiri di antara
botol-botol wine dan bara api barbeque di halaman belakang sebuah
rumah tua di Greenwich, tempat tinggal Laksmi dan Daren. Laksmi adalah
sahabat lama Elaine, keturunan India, sedang Daren adalah suaminya.
Elaine dan Laksmi mengundang kawan-kawan lain pesta barbeque di rumahnya.
Jagger meninggalkan Paul dan Elaine,
membawa segelas wine, merah tua kehitamanan warnanya. Harum menenangkan
syarafnya, dirasakan wine itu menghangatkan rongga mulutnya, dia telan
pelan-pelan. Hangat meresapi badannya dari kerongkongan sampai lambungnya.
Dia menghampiri Daren yang sedang mengurusi panggang, membolak-balik
berbagai bentuk sosis dan potongan-potongan daging kambing muda.
"Hi there,
grab a plate. All the meat here is halal. Laksmi especially told me
to go to the halal butcher's because you are Muslim."
"Oh yes, you have halal butchers?"
"Quite a few. Quite a few. It is the fastest growing religion,
you know, Islam. I find it fascinating, you know what I mean?"
Selalu saja ada orang yang mengaku
terpesona oleh Islam. Jagger menyesali lagi, kenapa dia tidak pernah
belajar agama dengan baik. Jagger berlatarbelakang abangan, tidak
dekat dengan syariat Islam. Penghayatan agama secara Jawa itu selama
ini mencukupi kebutuhan jiwanya, sampai sekarang. Di negeri asing
ini terasa betapa dia butuhkan agama Islam itu, karena mau tak mau,
agama Islam itu kini menjadi salah satu cirinya dalam bayangan orang.
"What is fascinating?"
"Well, for instance, the idea of praying five times a day, or
the Hajj. Have you been on the Hajj?"
"No, have you?"
"No. But a friend of mine has. Said it was the most amazing experience
he ever had. I don't really go in for organized religion. I like free
spirituality. I believe in all religions, you know what I mean?"
"But you are Christian, right?"
"Well, I suppose you could say that. Yeah, I celebrate Christmas,
enjoy Easter eggs and have been inside a Church more than once. I
don't believe in dogma."
Jagger memperhatikan
ada selinting ganja di tangan Daren, dan ketika Daren merasakan bibir
Jagger yang dower menganga kepingin, dia pun menawari. Setelah menyedot
sekepul asap ganja, Jagger merasa lebih tenang. Cemburu di hatinya
tak lagi membara. Dia melirik ke arah Paul dan Elaine, dan kini bisa
melihat bahwa mereka tidak sedang bercinta. Mereka cuma kawan lama
yang saling rindu karena lama tak jumpa.
Hashish yang ditinggalkan
Keith ternyata awet lebih dari satu bulan. Selama satu bulan itulah
Jagger Melayu menikmati kebebasan menghisap hashish di jalan-jalan
di sekitar Portobello, tanpa takut polisi. Bahkan aroma hashish yang
wangi menjadi jembatan Jagger membina pergaulan di sekitar Portobello,
jalan yang mulai makin disenanginya itu.
Orang-orang berkulit hitam banyak
yang nongkrong di trotoar-trotoar di depan pub-pub tua yang banyak
berada di pojokan jalan, seperti letak tradisional kelurahan di kota
Solo. Banyak di antara mereka berdagang ganja di sekitar pub-pub yang
bertebaran di hampir setiap sudut jalan Portobello, dan ketika Jagger
Melayu mulai sering lewat, berpakaian biker dan menghisap lintingan
hashish yang besar, maka tak lama mereka semua menghafalinya, menegurnya
ketika lewat belanja sayuran di pasar tradisional kakilima di Portobello.
***bersambung
draft
novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo
Prijosusilo