Mereka
tak ketemu Anna hidup-hidup. Waku mreeka buru-buru naik tangga ke
kamarnya, ia sudah meninggal sepuluh menit yang lalu. Sebab kematiannya
ialah serangan asma, akibat busung paru-paru yang akut. Diagnosanya
terlambat dibuat. Beberapa jam yang pertama, Tonya menjerit-jerit,
memukulkan kepalanya ke lantai dan tak mau kenal siapa-siapa. Hari
berikutnya ia mulai tenang, namun hanya sanggup mengangguk untuk
menjawab segala tegur sapa Yura atau ayahnya; pada saat ia membuka
mulut, ia tercengang oleh kesedihannya, hingga mulai memekik-mekik
lagi seperti kerausukan.
Ia
menyelingi talkin dengan bersujud berjam-jam lamanya di sisi jenasah;
tangannya yang panjang lagi indah menggapai sudut keranda yang berdiri
atas panggungnya, ditimbuni karangan bunga. Ia tak melihat siapa-siapa
di sekitarnya, tapi segera setelah pandangannya bertemu dengan mata
kerabatnya, iapun cepat bangkit, lari keluar kamar, naik tangga
sambil menahan air matanya, sampai ia jatuh ke ranjang dan membenamkan
poedihnya yan berbadai itu dalam bantal.
Akibat
kesusahan dan berdiri berjam-jam tanpa henti serta kurang tidur,
akibat nyanyian nyaring dan kilatan nyala lilin siang malam serta
masuk angin pula, mabuklah Yura oleh rasa kantuk terbius halus,
penuh dukacita serta pesona.
Tatkala
sepuluh tahun yang lalu ibunya wafat, ia baru kanak-kanak. Ia masih
ingat air matanya, sedih dan kecut tak terhibur. Waktu itu dirinya
sendiri tak penting baginya. Bahkan hampir tak dipercaya bahwa mahluk
tersendiri seperti Yura ini ada atau mempounyai harga atau kepentingan.
Yang berarti ketika itu ialah segala yang di luar dan di sekitar
dia. Dari tiap penjuru, dunia luar itu menekan padanya, padat, tak
tersangka, nyata bagaikan rimba; yang menyebakan ia tergoncang oleh
kematian ibunya ialah bahwa di sampingnya ia telah kesasar dalam
rimba dan kini ia sekonyong-konyong kehilangan ibunya, hingga ia
sebatang kara dalam rimba. Rimba ini terjadi dari segalah hal di
dunia; segala yang dikenalnya ada di dalamnya --awan dan papan nama
toko dna puncak menara lonceng dan para penunggang kuda yang berjalan
di depan kereta Sang Perawan Kudus, tak berpici tapi memakai penutup
kuping untuk menghormati Lukisan Suci*. Di dalamnya ada banyak farade
toko dan arkade dan langit malam berbintang yang tak tercapai dan
Tuhan yang Pengasih dan orang-orang keramat.
Langit
tinggi yang tak tercapai itu melentikkan pucuknya sangat rendah,
benar-benar sampai ke ujung gaun pengasuhnya, ketika ia ceritakan
perihal Tuhan; dekat dan mudah tercapai seperti pohon-pohon hazel
dalam parit, bila dahannya direnggut dan buahnya dipetik. Ia seolah
tercempung dalam ember untuk membasuh anak-anak dengan bunga-bunga
merah dan keemasan, maka setelah dimandikan dalam api dan emas itupun
ia berubah menjadi persembahyangan dalam gereja kecil di jalan cabang
dimana ia pergi bersama pengasuhnya. Di situ bintang-bintang dari
langit menjadi sinar-sinar di depan ikon-ikon dan Tuhan yang pengasih
adalah pendeta budiman dan mereka semua hendak bertugas sebaik-baiknya.
Tapi langit itu adalah terutama jagat nyata dari orang-orang dewasa
dan dari kota yang muncul serba gelap di sekitarnya, maka dengan
seluruh imannya yang setengah hewani itu, Yura percya kepada Allah,
penjaga rimba itu.
Sekarang
sudah lama sekali. Selama dua belas tahun di sekolah dan di perguruan
tinggi Yura telah mempelajari karya-karya klasik serta Injil, banyak
sasakala serta penyair, sejarah dan ilmu alam; dibacanya semua itu
seakan kronik dan silisilah keluarganya. Sekarang tak ada yang ditakutinya,
hidup ataupun mati; segala sesuatu di dunia, tiap hal disebut dalam
kamusnya. Ia merasa sama tinggi dengan semesta dan segala dia untuk
Anna kini baginya mempunyai bunyi yang lain dari doa-doa untuk ibunya
yang didengarkannya waktu kanak-kanak. Dulu doanya kacau, pedih
dan ketakutan. Kini ia mendengarkan ibadah, seakan ibadah itu pesan
pribadi untuknya yang langsung mengenai dirinya. Ia menyimak kata-katanya
dan mengharapkan daripadanya makna yang tegas seperti dari diap
uraian lainnya yang sungguh-sungguh. Dan kealimannya ini sama sekali
tidak ada persamaannya dengan perasaannya terhadap semua kekuatan
dari bumi dan langit, yang hanya dihormatinya sebagai nenek moyangnya
sendiri.
***