Jakarta selalu membuatku terpana, baik karena keragaman warnanya
dan juga karena kekejamannya. Berkali-kali aku --yang dalam jargon
Orde Baru dulu dicap dengan orang daerah supaya mau tunduk sama
orang pusat-- datang ke Jakarta, dan berkali-kali pula aku terpana.
Kunjungan ke Jakarta tidak pernah lewat kosong begitu saja. Selalu
saja ada renungan kecil tentang hidup yang kubawa pulang ke Medan,
ke daerah.
Bahkan
secara fisik sekalipun aku yakin orang Jakarta amat berbeda dengan
orang Medan atau orang-orang non-Jakarta lainnya. Di mataku wajah
orang Jakarta berwarna merah tembaga dengan sorot mata bergelut
mencari harapan untuk esok hari yang tidak pernah pasti. Mungkin
belum jadi etnis baru, tapi sekedar entitas yang sepakat untuk hidup
dengan nilai super gigih atau mati.
Di
Medan, dan juga di kota-kota Indonesia lain yang aku pernah kunjungi,
nilai super gigih atau mati masih lebih individual. Ada satu dua
orang yang seperti itu. Tapi di Jakarta, rasanya, semua orang --dan
setiap hari-- harus hidup dengan pilihan super gigih atau mati,
termasuk keluargaku dan temanku --yang setelah beberapa tahun tinggal
di Jakarta masuk terhisap masuk ke jantung pusat nilai Jakarta.
Dan, menurut statistik, ada sekitar 13 juta orang dengan karakter
seperti itu yang saling berinteraksi --atau tepatnya bergulat--
di sebuah tempat yang sempit, panas, dan mahal. Terpana aku!
Itu
soal kegigihan. Ada lagi ketidak-perdulian. Baru-baru ini begitu
aku keluar dari bandara Soekarno-Hatta, aku kembali melihat jalan
tol yang mulus dan lancar. Cuma detik itu juga aku langsung membayangkan
gambar-gambar di TV atau di koran-koran ketika Jakarta direndam
banjir. Jalan tol yang mulus, waktu itu, sudah seperti sungai. Aku
sempat berpikir apa yang sudah dilakukan sehingga sungai itu bisa
jadi jalan mulus lagi.
Belakangan
sepanjang yang aku tahu ternyata belum ada yang dikerjakan. Jadi
kalau tahun depan banjir lagi, mungkin akan seperti sungai lagi,
dan aku di daerah akan menyaksikan lagi gambar-gambar yang sepertinya
menunjukkan kelumpuhan Jakarta. Cuma selagi belum banjir, gunakan
sajalah jalan tol yang mulus dan lancar itu.
Aku
juga tak suka sama politikus murahan Jakarta. Cilakanya sudah murahan,
koran-koran dan TV Jakarta masih saja mengutip pernyataan mereka.
Di Medan, dan dimana-mana, tentu ada politikus murahan --karena
syarat utama untuk menjadi politikus adalah murahan-- tapi peliputan
media tentang mereka tidak sehebat media Jakarta.
Di Jakarta, politikus murahan --dan korup lagi-- yang justru dijadikan
panutan. Semua komentar atau pernyataan mereka jadi berita. Seperti
tidak ada saringan sama sekali, padahal salah satu fungsi media,
katanya, adalah menjadi mercu suar bagi masyarakat, jadi bukan cuma
menjual oplagh dan iklan.
Dan
persis di samping jalan tol yang mulus tadi, di samping para politikus
murahan itu, aku langsung juga bisa melihat wajah-wajah orang di
Jakarta di terminal, di warung tegal ataupun bergantungan di bis
pulang sehabis mencari makan. Menyaksikan sisi yang lain ini, terpana
lagi aku.
Makan Daerah di Jakarta
Makanan di Jakarta juga yang membikin aku terpana. Acara dan selera
makan di Medan selalu kuanggap sebagai ritual yang tidak dapat tergantikan
di kota lain. Tapi Jakarta selalu punya tandingan, dalam bentuk
miniatur memang tapi dari seluruh selera makan kota-kota lainnya.
Cerita mengenai mie kutieau Medan ada diberbagai sudut Jakarta.
Begitu juga berbagai jenis makanan daerah lain, mulai dari sup contro,
pelecing kangkung, gudeg Jogya dan lain- lainnya.
Anehnya, makanan ini tidak menembus tempat-tempat besar dan mewah.
Tak tepat rasanya kalau mengartikan sebagai cerminan tentang yang
orang daerah tidak pernah menjadi besar dan mewah di Jakarta. Tapi
jelas konsumsi makanan daerah ini cukup untuk orang-orang yang sudah
tahu apa jenis makanan itu, betapa enaknya, dan darimana asalnya.
Cukuplah kalau rasanya sudah kena sedikit saja ke ujung lidah; sudah
cukup mengobati rasa rindu akan makanan kampung sendiri.
Makan
di Jakarta jadi ritual berburu dengan kawan-kawanku. Tidak semua
tempat bisa kucoba dan tidak semua tempat mengena di lidah. Tetapi
aku yakin kalau Jakarta punya semuanya, mulai dari kemunafikan,
kemewahan, politikus kotor, orang sukses, LSM, segala jenis sekolah
yang menjamur, dan --tak kalah pentingnya-- makanan daerah dalam
versi yang mendekati aslinya.
Sekali
siang aku diajak kawan-kawanku makan, para pegiat LSM yang amat
natural berperilaku menjadi tuan rumah pengundang yang baik. Pertanyaan
utama adalah mau makan apa dan dimana? Ini bukan soal kenikmatan
saja sebenarnya, tapi aku perlu memastikan apakah bakal makan ditempat
para borju yang untuk duduk saja perlu standar etike, plus pengetahuan
yang sistematis tentang urutan memasukkan makanan ke mulut, atau
makan yang berkeringat dan bersendawa seenaknya untuk menyatakan
kepuasan makan.
Tapi
kawan-kawan LSM pengundang rupanya bukanlah LSM ala bayaran konglomerat,
tapi LSM yang mengkritik demi untuk meluruskan, maka segera aku
siapkan untuk makan di warung tegal dan pasti berkuah karena kepasanan.
Warung
tujuan kami biasa saja, tidak berbeda dari kebanyakan warung di
Jakarta. Jenisnya tidak terlalu menjurus ke warung tegal tapi tetap
masuk kategori kaki lima. Letaknya di bawah rel kereta api di Jalan
Gondangdia, di pinggiran Menteng, jadi dekat ke pusat kekuasaan.
Kalau ada demonstrasi --yang ternyata sekarang sudah kurang populer--
aku jamin daerah ini akan cepat sepi.
Aku
cukup heran melihat banyaknya mobil parkir, dan mobil-mobil bagus.
"Wuah..", kupikir, "apa ini jenis warteg yang kubaca
yang sering didatangi oleh profesional muda yang baru meniti karir
dan belum sanggup makan di café kelas atas?"
Warung
itu tidak besar besar, cuma bisa menampung kurang lebih 20 orang
yang duduk mengitari meja dengan kursi panjang tanpa sandaran. Yang
memisahkan tamu yang duduk makan dengan orang lain yang lalu lalang
di jalanan luar adalah selembar kain bekas spanduk. Di tengah-tengah
makanan yang berjenis rupa, terlihat duduk bertahta dengan keasyikannnya
sendiri sang pemilik, yang rupanya merasa masih perlu turun tangan
langsung untuk menghitung bayaran tamu yang sudah selesai makan.
Rombongan
kami, rombongan orang kelaparan, mencari tempat duduk. Tidak ada
yang duduk lebih enak karena dekat dengan makanan atau yang tidak
enak di ujung sendiri jadi tak bisa meraup makanan pilihannya. Semua
yang duduk mendapat kesempatan dan pelayanan yang sama.
Sesudah
mengambil piring masing masing, semua bergerak bebas mengambil lauk
pendamping sesuka hati. Akupun ikut bergerak, mengambil paru goreng,
sambal pete, dan tak lupa kupesankan es teh manis dingin, yang sudah
pasti paling pas untuk udara Jakarta yang panas menyengat.
Waktu
aku mau tambah, kawan-kawan menyuruh aku bergerak sendiri. Sambil
berjalan kulirik si pemilik dan tak sekalipun dia melirik atau menanyakan
apa saja yang sudah kumakan. Dia duduk asyik di tahtanya ngelamun
karena sedang tidak ada tamu yang membayar. Sungguh aku terpana!
Bagaimana
mungkin orang-orang yang duduk semeja denganku --orang-orang Jakarta
yang hidup dengan nilai super gigih atau mati-- akan menghadapi
si pemilik itu dan membuat pernyataan jujur tentang apa-apa saja
yang sudah dimakannya. Si pemilik menghitung dan si tamu membayar.
Terlintas
di benakku, kalau ada tamu yang tidak jujur? Seorang kawanku tersenyum,
"ya sudah pasti ada." Tapi bagaimana si pemilik warung
bisa bertahan, batinku? "Ahhh," lanjutnya dengan yakin,
"di Jakarta rasanya masih lebih banyak orang jujur daripada
yang tidak jujur."
Aku berontak! Bagaimana mungkin Jakarta yang menyimpan begitu banyak
polemik tentang kejujuran dan kebusukan ternyata masih mampu mempertontonkan
suatu kejujuran di lapisan bawah, di suatu warung sederhana di bawah
rel kereta api.
Kupandangi semua orang yang makan disana, semuanya lahap tak perduli
dan seolah-olah cuma aku sajalah yang punya kegusaran; tentang kontradiksi
Jakarta dan kejujuran. Aku catat baik-baik di benakku bahwa ketika
orang selesai makan, maka dia sebenarnya bukan hanya melakukan transaksi
pembayaran, tapi lebih merupakan pertanggung jawaban kejujuran,
atau akuntabilitas publik yang terbuka kepada sang pemilik.
Di
Jakarta, akuntabilitas publik --yang diteriakkan para politikus
murahan dan dipajang besar-besar oleh media utama-- terjadinya di
bawah rel kereta api. Di situ tidak ada polisi, tidak ada hakim,
tidak ada jaksa, tidak ada petugas tibum, dan juga tidak ada anggota
DPR. Lagi-lagi aku terpana!
Seandainya
Aku masih belum puas. "Tapi bagaimana kalau sebagian besar
pembeli tidak jujur?" desakku. Kawan-kawanku tersenyum. Yang
tadi menjawab malas-malasan; " aahhh nggak apa. Masih banyak
kita disini yang bisa melihat, atau Tuhan pasti maha tahu!"
Makin
sulit aku bayangkan kalau di Jakarta orang masih membawa-bawa Tuhan
untuk urusan makan malam di bawah jalan kereta api. Atau mungkin
orang-orang masih bersedia jujur karena ongkosnya --secara ekonomis
dan hukum-- relatif tidak seberapa besar. Seandainya mekanisme seperti
ini diterapkan di toko emas --dan kalaupun tertangkap cuma ditegur
satpam saja-- maka mungkin semua orang akan berbohong gila-gilan.
Aku
lirik si pemilik yang tetap duduk enak di tahtanya. Aku pikir ini
bukan persoalan murah atau mahal, makan gratis atau tidak. Sederhana
saja ; kau bohong atau tidak. Kalau kejujuran bisa relatif maka
kebohongan adalah absolut
Sungguh
-- aku berharap-- suatu saat nanti agar lebih banyak lagi orang
makan di warung ini, terlebih-lebih para politikus yang kejujurannya
sudah menipis. Alangkah mengenanya bila orang-orang Jakarta yang
sedang menjual kekuasaan, atau partai politik yang terus-terusan
bergolak, dan politikus korup yang kerap membohongi publik, mau
duduk bersama dan makan di warung itu.
Buat
mereka pastilah tidak ada artinya nilai dari harga makanannya, tapi
aku benar-benar meragukannya karena bisa jadi mereka --secara naluriah--
sudah tidak bisa lagi mengatakan yang sejujurnya. Mungkin, kalaupun
aku tegaskan bahwa aku yang akan membayar semua yang mereka makan,
maka mereka tetap saja tidak bisa lagi untuk mengatakan yang sebenarnya.
Tidak bisa, jadi bukan tidak mau.
Pertanggung-jawaban
pribadi dan publik dalam bentuk paling sederhana di warung kejujuran
ini agaknya mampu mengajarkan mereka tentang proses akuntabilitas
dengan makna yang lebih dalam. Seandainya orang-orang sekelas Akbar
Tanjung, Rahardi Ramelan, Habibie, atau Hashim Djojohadikusumo mau
makan di waring itu, aku bayangkan si pemilik tadi mungkin akan
berkata "Pak, bukan berapa harganya yang saya persoalkan, tetapi
apakah bapak mengatakan yang jujur?"
Dan
aku yakin akan jauh lebih sulit lagi bagi mereka untuk mengakui
; "ya saya khilaf, tadi saya memang bohong."
Seandainya
para aparat pemerintah dan politikus di Jakarta dipaksa makan di
warung itu satu atau dua kali seminggu, mungkin pelan-pelan mereka
bisa juga belajar tentang kejujuran. Mungkin
saja, tapi soalnya mana mungkin mereka mau belajar dari orang-orang
kecil di bawah jalan kereta api di Gondangdia, Jakarta Pusat. Padahal
nyata-nyata jelas tempat belajar seperti itu ada di pusat kota Jakarta.
Terpana aku.
***
ceritanet©listonpsiregar2000