draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

 
Bagian Enam : Bumi Dipijak
Pekan-pekan awal di London bagi Elaine adalah saat-saat menghubungi kawan-kawannya. Elaine memiliki komunitas kawan-kawan yang sangat hidup. Erat dan dalam persahabatan mereka. Mereka dahulu bersama-sama mengawali karir bekerja di bidang pertelevisian, sebagian besar sebagai researcher, di kota Bristol, kemudian di Manchester, dan akhirnya, seiring dengan makin bertambah pengalaman dan ambisi mereka berkumpul lagi di London. Itu berawal di tahun-tahun 1980-an, saat kokoh-kokohnya kekuasaan Si Wanita Besi Margaret Thatcher yang mereka benci. Bersama-sama dengan rekan-rekan segenerasi, mereka mengadakan satu perlawanan budaya, dan kreatifitas mereka melahirkan gaya dan isi pertelevisian baru yang dinamakan Youth TV.

Kini sebagian mereka sudah mapan, mengelola rumah-produksi milik kawan-kawan sendiri. Sebagian lain, bekerja free-lance, dan sukses, karena rajin membina relasi dan mempertanggungjawabkan hasil kerja kreatif mereka dengan baik. Sebagian lagi, menempati posisi-posisi menengah yang strategis di stasiun-stasiun siaran. Jadi meskipun Margater Thatcher terbukti melipat-gandakan jumlah pengangguran dia juga membuka pasar dan kesempatan bagi yang kuat dan menang. Elaine sibuk menghubungi kawan-kawannya, mereka yang menang, yang berhasil mencapai posisi-posisi penting di usia muda.

Jadilah selama sebulan pertama di kota London, Jagger, Elaine dan Sanca sibuk dengan pergaulan di dalam komunitas Elaine. Jika mereka semua bertemu dan nyerocos di dalam bahasa Inggris yang cepat, Jagger berusaha mengikuti. Meski sulit, dia ingin menyerap sebanyak mungkin pengalaman, lahir maupun batin. Beda antara dinner party dan barbeque dan makna kelas yang tersirat di dalam pilihan menu wine dan makanan menjadi pengetahuan baru yang tidak dibutuhkan Jagger.

Yang paling sulit dikendalikan Jagger adalah perasaan-perasaan negatifnya sendiri, terutama rasa cemburu. Kawan-kawan pria Elaine yang lama tak berjumpa, tanpa sungkan memeluki dan menciuminya rindu sebelum menyapa Jagger . Ada pula yang menatap mata Elaine dalam-dalam penuh kagum mendengar Elaine bercerita. Jagger tak mengerti. Perilaku demikian tidak dia temui di Jogja, ataupun di Jakarta, kecuali bila komunikasi itu memang seksual sifatnya. Dia berusaha melihat bahwa ini semua adalah perbedaan budaya, dan dia harus belajar memahai. Ketika di dalam hati panas, pikirannya berusaha mendinginkan.

***bersambung
draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo


ceritanet©listonpsiregar2000