novel Dokter Zhivago 34
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

Menjelang pukul dua pagi. Telinga Yura mengiang-ngiang. Tadi ada selingan dengan teh dan petits fours dan kini orang mulai berdansa pula. Tak ada lagi yang mau mengganti lilit-lilin di pohon kalau habis menyala.

Yura berdiri tercenung di tengah kamar dansa, memperhatikan Tonya sedang berdansa dengan orang tak dikenal. Ia berayun menghampirinya, mengibaskan ujung gaun satinnya yang pendek seperti ikan, lalu menghilang.

Gadis itu sangat rusuh. Selama waktu selingan ia menolak teh dan memuaskan hausnya dengan jeruk, bukan main banyaknya, yang dikupasnya, lalu diusapnya jari-jari dan sudut mulut dengan sapu tangan sebesar kembang buah. Terus menerus ia ketawa dan bicara dan selalu ia keluarkan sapu tangan tadi serta menyisipkannya kembali di ikat pinggang atau di lengan atau di leher gaun yang terlipat.

Kini ketika ia lewat depan Yura, putar-putar dengan pasangannya tak dikenal, ia menangkap dan menekan tangannya sambil senyum. Saputangan yang dipegangnya tadi, tinggal di tangan Yura. Ia menekannya ke bibir dan memejamkan mata. Di sapu tangan ada bau pesona tangan Tonya campur bau jeruk. Inilah sesuatu yang baru dalam hidup Yura, tak pernah dialaminya sebelumnya, sesuatu yang tajam menusuk ke seluruh raga jiwa dari atas ke bawah. Bau kekanak-kanakan yang naif ini seperti ucapan seorang kawan penuh perasaan yang dibisikkan dalam gelap. Ia tekankan sapu tangan itu ke mata dan bibir, terbius oleh bau akrabnya. Pada saat itu ada tembakan meletus di dalam rumah.

Tiap orang berpaling, melihat ke tabir yang tergantung antara kamar dansa dan kamar duduk. Sepi sesaat. Lalu gaduh. Beberapa orang berlari-lari kian kemari, ada lagi yang mengejar Koka ke kamar duduk; dari situlah bunyi tembakan berasal dan masih saja keluar orang-ornag lain, menangis, bantah membantah dan bicara berbareng.

"Apa dibuatnya, apa dibuatnya." Berulang-ulang Komrarovsky berkata dengan putus asa.

"Borya, Borya, kau hidup, bukan?" jerit Nyonya Kornakov dengan histeris. "Mana dokter Drokov? Katanya di sini, O tapi mana, mana dia? Kau berani mengatakan, itu hanya goretan? Ini buktinya, aku selalu benar. Dia yang nyuruh kaum penjahat itu! Sekarang kau lihat, manusia macam apa mereka itu. O sayang, kasihan, kau mati sahid untuk keyakinanmu. Itu dia sampah, itu dia, kucakar matamu, si busuk, kau tak luput sekarang! Apa Tuan Komarovsky? Tuan? Dia tembak tuan? Wah saya tak betah, saat ini duka, tuan Komarovsky, aku tak punya waktu untuk mendengarkan kelucon. Koka, Koka sayang! Kau percaya? Dia coba membunuh ayahmu. Ya... Tapi Tuhan... Koka! Koka!

Khalayak bergegas ke luar kamar duduk, masuk kamar dansa. Paling depan nampak Komarovsky yang dengan ketawa meyakinkan tiap orang bahwa ia tak apa-apa; dengan sapu tangan ia menepam goretan di tangan kiri. Mereka diikuti kelompok lain yang agaknya menyeret Lara pada kedua belah lengannya.

Yura tercenung --Gadis ini lagi! Dan lagi-lagi dalam keadaan luar biasa! Dan lelaki berambut abu-abu itu pula di dekatnya Tapi kali ini Yura kenal lelaki itu. Dialah pengacara tekrmuka Komarovsky yang ada sangkut pautnya dengan tanah milik ayahnya. Tak perlu membungkuk. Kedua-duanya pura-pura tak saling mengenal. Dan si gadis... Jadi gadis inikah yang menembak? Kepada si jaksa? Tentu ada alasan politis. Kasihan. Dia menghadapi malepetaka. Alangkah cantik dan tinggi hati! Dan orang-orang kurang ajar ini menyeretnya, melipat lengannya seolah menangkap pencuri! Tapi ia lekas sadar bahwa ia keliru. Lara nyaris pingsan, orang mengangkatnya, hampir-hampir menggendongnya ke kursi terdekat; di situ ia akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Yura menghampirinya untuk menolong membuatnya siuman, tapi tantas berpikir, lebih baik memperhatikan si koban sekedarnya.

"Tuan dapat saya tolong? Saya dokter," tergurnya pada Kornakov. "Coba saya lihat tangan tuan. O, tuan beruntung. Dibebatpun tak perlu. Tapi bolehlah setetes iodine. Itu Felitsata Semionovna, dia tentu punya sedikit iodine."

Felitsata dan Tonya mendekati mereka, nampak pucat dan terkejut. Mereka tuturkan padanya supaya pergi dan mengambil jasnya. Ada pesan dari rumah mereka agar mereka lekas pulang.

Yura kuatir sekali, dia lupakan segala dan segera mengambil barang-barangnya.
***

ceritanet©listonpsiregar2000