Dengan sorot mata kemerahan,
Matahari menegakkan punggungnya yang terasa renta. Angin berkibar
tanpa bendera. Seakan-akan menyorongkan kemarau yang begitu dalam
pada setiap desah nafas sepanjang jalan kemerdekaan, yang menjadi
keterbatasan bagi kebebasan pemilik kekuasaan.
Matahari baru mengusap
peluh. Ruang kost yang berbatasan dengan berbagai impian mengepung
sepenuh 'kemontokan' yang tak pernah bisa ditawar dengan harga apapun!
Mendadak, dirasanya guncangan
halus menerpa dengan lembut pada ketidakpercayaan yang menelikung
sekujur belulang. Ruang kamar yang berlangitkan kardus dan dinding
triplek dengan ukuran fantastis: 4X6 itu, seakan-akan berdiang menunggu
bara yang bakal meledak, tanpa memahami penjuru api yang mulai menjalar.
''Tidak ada apa-apa,
tapi kami harus memperoleh apa-apa,''tiba-tiba suara Embun menyibak,
mengkandaskan berkas kesejukan.
Ketajaman keberlinangan air
itu seakan-akan memporakporandakan kesenyapan yang mengalirkan darah
dan air mata dalam kelengangan yang ada.
Mau tak mau, Matahari mendongkak.
Sepasang kerawanan di balik kelembutan pandangan Embun membuatnya
menghela nafas panjang beriringan debur pantai yang tiada pernah
selesai.
''Tak ada yang harus menemukan
aku dan saya. Lantaran kami dan kita sudah bukan bagian dari mereka
lagi. Mereka sudah menjadi komunikasi massa yang terpecah dalam
kehingaran berbagai predikat. Saya bisa aku, tapi aku belum tentu
saya. Kita hanya jadi omong kosong dalam kekitaan yang ada, dan
mereka cuma penonton yang sama sekali tak memarfumi keberadaan,
Mereka telah menjelma sisa-sisa kopi yang melupakan berbagai predikat,''
keluh Matahari lirih.
Sang Embun merengkuh erat pundak
Matahari.
''Masih banyak dermaga yang
bakal menerima berbagai badai, namun selamatkan pelayaran itu sebagai
ikrar tak kunjung padam. Debur ombak adalah kesetiaan untuk kehidupan.
Mengapa mercusuar yang kehilangan cahaya harus diperdebatkan? ''tepis
Embun sembari menggelendot manja dan merebahkan kelembutan nafsu
di kedua pangkuan kesengsaraan Matahari.
Kali ini, Matahari menyapu pandang
lumat-lumat. Kedua kepala dalam lenguh tertatih-tatih saling bersahutan,
menukar keakraban alis mata Matahari yang perlahan menengadahkan
bibir dalam keranuman hidup yang dimiliki sang Embun.
''Ah, tepislah. Sudah waktu
Embun mulai berlalu,' 'tukas Embun sembari merenggangkan kemesraan
yang hadir. Matahari hanya mampu meluruskan persendian yang terasa
rapuh
.''Apa tak lebih nikmat
menyudahi kepalsuan itu Embun,''. Mendengar lenguhan Matahari, Embun
mendadak menghentikan langkah. Kepalanya berputar diikuti liukan
tubuh nan memukau.
''Kenapa,'' sungut Embun pendek.
''Aku cemburu,''
Mendadak kegelapan malam melingkupi
penjuru kamar. Bahkan sosok sang rembulan sebagai lilin kegulitaan
malam hari lenyap dari peredaran. Rembulan padam dalam emosi. Matahari
seolah sengaja membakar luka yang mengalirkan nanah dalam dada.
Sementara sang Embun dengan tekun menggeriapkan pandangan dengan
sorot yang sarat keanehan tanpa perlu dimengerti.
''Mengapa,''
''Tak selamanya apa-apa mampu menjadi darah,''
''Tapi darah ini menjadi dapur dan dermaga,''
''Ah,...apakah tak ada lagi luka yang sembuh atau pengganti kepul
asap dalam setiap persinggahan,' 'suara Matahari menurun dalam keluh
yang panjang.
Dadanya meliuk dalam gemuruh
musik yang tak pernah dimengerti. Dendam itu seakan mengalir dari
berbagai penjuru dan membenamkan Matahari dalam kekosongan kepala.
Sang Embun menggeleng gamang, sebelum kemudian meneruskan langkah
dan menutup pintu kamar dalam kesendirian.
***
Kepengapan sinar lampu yang
bernyanyi, menikam penjuru ruang. Kepala bergeleng diiringi keliaran
hentakan kaki seakan-akan merubah berbagai irama-irama tradisi dalam
nadi kebersahajaan. Musik yang bertalu menjadi gambar-gambar hidup
dalam siluet kaku penuh kekosmopolitan yang sulit dipahami.
Beberapa halusinasi perawan
berjoget riang diantara ketersiaan kelelakian. Tak ada lagi nafas
perjaka yang mampu dipertanggungjawabkan. Kemudian kolonialisme
uban-uban gentayangan menyeret-seret keranda uang sebagai harga
kemenangan.
''Joged Nek Antan,'' jerit suara
perawan yang tertindas.
''Mari cucung manis rupawan, peluk erat-erat duniawi,''balas suara
yang gamang, sedangkan bebayangan kelembutan keluarga sudah ditinggalkan
dalam mimpi-mimpi bahagia.
''Gantian Nek Antan. Kawanan
bujang tak perlu gadis sedang cari mangsa,'' gerutu suara dari bagian
dunia di kepengapan ruang lain. Alasannya sepele Nekno tak bakal
tahu geliat kelelakian yang menebar dalam berbagai aroma alkohol.
Hanya saja, mendadak suasana
kelam itu dihentikan hentakan mikropon yang menyebutkan dengan bariton
padat, memberikan helaan nafas pada pergantian dunia yang ditawarkan.
''Sambutlah penampilan penari
Embun, sosok primadona suksesi duniawi yang bakal membawa surga
dalam kelupaan yang sudah terbiasa,'' pekik sebuah suara yang merebut
kegaualauan seantero gedung itu.
Perlahan-lahan, diiring dentum
'Sephia' yang meledak dalam dawai-dawai 'penghancuran irama', sebuah
sosok yang lembut tampil mendedahkan lenggokkan Sekapur Sirih.Dengan
mengenakan carikan-carikan kain yang sekedar menempel, kegemulaian
tubuh sang penari yang penuh birahi itu mencabik-cabik pesona sekujur
pedalaman ruang.
Lewat buaian kelentikan Zapin,
secara sensasional kelelakian, sang penari secara perlahan mulai
membuai kemontokan tubuhnya sendiri. Gesekan lengannya terasa meninabobokkan
hasrat yang tertunda dari berbagai desahan ludah yang kembali memasuki
keserakan kerongkongan.Lalu, dalam kejauhan erotisme, cabikan kain
yang tersisa mulai melucuti diri. Buah dada yang semula bersembunyi
mulai menampakkan wajah asli.
Sekejap, penjuru dinding dan
keterbatasan langit-langit yang terlanjur terbuai mulai memelototkan
birahi yang selama ini senantiasa dijadikan topeng-topeng kekelaman
malam.Goyangan sang penari semakin bebal, cabikan kain semakin jatuh,
terserak. Keterbukaan semakin menyayat, memaku berbagai kehadiran
yang menyaksikan sebuah ketulusan yang sangat jujur sekali.
Hanya saja, dari sudut kursi
yang sangat tersembunyi, Matahari menyeka air mata yang berdarah
di antara lekuk pipinya yang semakin tiris. Demi Tuhan, sang Embun
yang telah melampiaskan janji pemakaman dalam ikrar perkawinan 'terpaksa'menari
telanjang di depan mata massa.
''Demi realitas, kalau hidup
memang sudah jadi barang dagangan. Dan aku tak bisa menjual apa-apa,''
ratap naluri yang menggedor sepanjang nurani Matahari.
Sementara, sang Embun terus
saja asyik mencampakkan kebohongan dunia dalam penggal-penggal yang
terpatah-patah.
Tanpa dirasa kedua kepingan bola mata Matahari meleleh. Kedua pipi
memucat dalam lesung pipit kesengsaraan yang tak mampu ditebus!
***