draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo
Prijosusilo
Hal lain yang dicatat oleh Jagger,
adalah bantuan sosial yang diberikan pemerintah kepada penduduk
yang tidak berpenghasilan. Belum tiga hari berada di London, Elaine
sudah mengajaknya ke kantor dinas sosial untuk mendaftarkan diri
sebagai keluarga tidak yang punya pekerjaan. Sambil menggendong
Sanca di dalam selendang batik Jogja yang dibeli di pasar Beringharjo,
Jogja, Jagger menemani Elaine naik bus kota.
Kantor dinas sosial tersebut
berada di lantai dasar sebuah gedung yang kurang terawat. Arsitekturnya
bukan gaya kuna, melainkan kotak-kotak praktis dari beton tahun
1960-an dan cat didingnya sudah pada mengelupas. Dua lapis pintu
kaca harus dilewati, lalu orang harus mengambil tiket antrian pada
sebuah mesin self-service yang dijaga seorang satpam kulit hitam
bergigi emas, berseragam putih-hitam. Inilah pertama kalinya ia
melihat kombinasi warna hitam, putih, emas, dan kombinasi itu indah
nian walau sekaligus agak menakutkan.
Di dalam gedung, pengap berbau
keringat dan nafas manusia, pertanda tempat itu sering dipakai berkumpul
orang-orang miskin. Ruangan luas, penuh dengan bangku-bangku pelayanan,
ditekan oleh langit-langit yang rendah. Lantai dilapisi karpet biru
yang sudah uzur, dan di atas karpet itu diatur kursi-kursi tunggu
dan meja-meja yang diutunggui oleh pegawai-pegawai. Banyak di antara
mereka tampak belum mandi, belum menyisir rambut. Di atas setiap
meja terdapat kode digital, huruf dan nomor yang menyala, yang harus
dicocokkan dan dipatuhi warga yang mengurus bantuan. Artinya: mengisi
berlembar-lembar formulir, wawancara, dan datang lagi setiap dua
minggu untuk melaporkan perkembangan usaha mencari pekerjaan.
Ternyata tidak seperti yang
dibayangkan di Jogja, menerima bantuan tunjangan orang miskin itu
bukannya enak melulu. Urusan itu juga sebaliknya, merepotkan, menghinakan,
dan mengecilkan orang. Jumlah uang yang diberikan hanya mencukupi
sekedarnya dan banyak orang yang terjerat di dalam sistem bantuan,
bertahun-tahun tak mampu bangkit dan hidup layak Apalagi yang kecanduan
alkohol, akhirnya menggelandang. Banyak yang mati tercekik muntah
sendiri.
***
bersambung
draft
novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
menerima usul, saran dan kecaman ke
Bramantyo
Prijosusilo
©listonpsiregar2000ceritanet