Sambil menggigit
cambuk kuda dengan giginya, Aziz Ahmad menyelipkan obloing hitam
'Chanel Paris' ke dalam celana wolnya, dan merenungkan pertanyaan
: bagaimana caranya menjadi Maradona dalam buzkashi Afghanistan?
"Saya suka
olahraga ini. Setiap main saya selalu memainkan yang terbaik,"
katanya. Waktu itu setengah main dan timnya sedang kalah. Ada Saran?
"Kami perlu main lebih bagus," kata Ahmad sambil memegang
tali kekang kudanya. Apakah kudamu punya nama? "Turuk,"
katanya. Apa artinya Turuk? "Semua kuda buzkashi namanya Turuk,"
katanya. "Itu artinya kuda buzkashi."
Ahmad bukan
seorang penyair, namun tidak diragukan lagi dialah pemain buzkashi
ternaik yang masih hidup dari olahraga tradisional buzkashi. Olahraga
yang hanya ditemukan di Afhganistan ini merupakan kombinasi antara
polo dan rugby, yang dimainkan dengan domba atau kambing tanpa kepala,
yang kalau diurut ke belakang sampai pada jaman Alexander Agung
dulu.
Olahraga ini
menikmati kebangkitannya kembali sejak Aliansi Utara merebut Kabul
dari Taliban November lalu. Perayaan hari raya Nowbuz di Kabul baru-baru
ini, yang merupakan Tahun Baru di Afghanistan, menghadirkan buzkashi
yang paling meriah sejak Taliban berkuasa enam tahun lalu.
Taliban melarang
olahraga ini di wilayah-wilayah yang mereka kuasai, namun tetap
dimainkan oleh orang Tajikistan dan Uzbekistan yang mendominasi
Aliansi Utara.
Melarang buzkashi,
menurut seorang pemain Mohammed Dod, merupakan kekejaman paling
buruk yang dilakukan oleh rajim Taliban. "Taliban sangat tidak
populer di kalangan rakyat karena mereka tidak membolehkan kami
main buzkashi," katanya.
Tidak ada yang
bisa menjelaskan kenapa sebenarnya Ahmad amat jago. Dia mulai main
ketika berumur 17 tahun di kampung halamannya Propinsi Kunduz di
kawasan Utara. Apa rahasianya? "Latihan. Aku latihan lengan,"
katanya.
Dia bertemu
salah satu dari dua istrinya dalam pertandingan. Persisnya, dia
mendapat istrinya itu dan tiga mobil sebagai hadiah dalam satu kejuaraahn.
"Dia suka
sekali olahraga ini," katanya sambil tersenyum untuk pertama
kalinya. "Tentu saja dia tidak bisa datang kemarin dan menonton,
tapi dia suka menonton video buzkashi di televisi."
Dod mungkin
tidak sejago Ahmad, namun dia mengakui kejagoan Ahmad. "Dia
itu Maradona, dia yang paling jago," katanya merujuk pada pahlawan
sepakbola Argentina. "Aziz Ahmad amat kuat dan anggun. Dia
membawa kambing seberat 80 kg seperti membawa sehelai sutra."
Ahmad naik ke
kudanya untuk paruh kedua, memakai topi berbulu yang agak berkerucut
dan melesat pergi.
Dalam buzkashi,
tim penunggang kuda berlomba merebut bus, atau binatang yang tidak
punya kepala lagi, dari lawan yang cuma bisa dideskripsikan seperti
rebutan dalam rugby tapi sambil menunggang kuda. Jika
seorang pemain berhasil merebut bus, maka dia memacu kudanya berkeliling
bayrak atau bendera di ujung lapangan dan menaruh binatang tanpa
kepala itu di lingkaran kapur yang disebut daira hallal.
Para pemain
sering sekali terluka, jatuh terinjak-injak kuda, ketika sedang
berupaya mengangkat binatang tanpa kepala dari tanah. Cambuk melecut
kuda memekik, dan sumpah serapah pemain bersatu sementara pembawa
acara mengumumkan hadiah bagi skor berikutnya. "Komandan Rashid
akan menghadiahkan 20 Lakhs (atau sekitar US$ 40) bagi pemain berikut
yang bisa menempatkan bus di daira hallal.
Satu tim terorganisir
di sekeliling kandang kuda. Para pemilik kuda menyumbangkan kudanya
untuk pemain, dan kadang membayar pemain tertentu untuk menunggang
kudanya. "Aziz Ahmad menunggang kuda mili Komandan Nasir,"
teriak pembaa acara ketika Ahmad melesat dengan kudanya.
Ahmad main untuk
tim Panshit, yang merupakan tim milik Menteri Pertahanan Mohammed
Qasim Fahim. Jenderal
Fahim biasanya duduk di kuris berlapis beledru merah di tribun VIP
Gelanggang buzkashi Kabul sambil makan kismis dan menyaksikan para
pemainnya bak Kaisar Romawi di Koloseum.
"Fahim
punya kuda dan pemain yang bagus. Dia selalu menang," kata
Amin, mantan Komandan Taliban yang membelot ke Aliansi Utara. "Itulah
sebabnya dia amat populer." Amon
mengatakan kuda-kuda Fahim mendapat latihan khusus. "Mereka
harus melompat tanpa rasa takut."
Suatu kali,
katanya, dia menyaksikan lomba kuda halang rintang di televisi dan
melihat kuda berhenti di depan palang penghalang. "Kuda-kuda
asing itu tak bisa main buzkashi," katanya.
Hhari itu bukan
hari baik Ahmad karena dia tidak menghasilkan skor. Halil
dari tim lawan yang mendapatkan hadiah uang US$ 400. Ketika
ditanya mana yang lebih penting ; uang atau olahraga, Ahmad dengan
cepat menjawab uang. "Tapi aku suka olahraga ini. Aku ingin
olahraga ini dimainkan di seluruh dunia.
***
Diterjemahkan
dari Financial Times, Tuesday 26 March 2002