draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo
Prijosusilo
Ketika Elaine mengajak Jagger
melepas dahaga di sebuah pub, kuping Jagger diajari mencatat bahwa
daerah tempat tinggalnya dihuni oleh banyak orang kulit putih selain
Inggris. Dia bayangkan orang berbahasa ibu bahasa Inggris lain,
dari Irlandia, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, Canada, Amerika
Serikat, semuanya dengan logat dan dialek khas yang sulit diikutinya,
banyak tinggal di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian bersama dengan
Elaine dia asyik bermain terka-terkaan, mengamati orang lalu lalang
sambil menebak daerah asal mereka.
Dari Elaine, Jagger jadi tahu,
banyak pula orang dari Eropa daratan, terutama dari Italia, Spanyol,
dan Portugis, menetap di lingkungan flat Elaine. Sebagian dari mereka,
terutama orang Portugis dan Spanyol, ternyata menjajakan diri sebagai
pelacur jalanan di sekitar All Saint's Road, tak jauh dari Portobello.
Selain itu, banyak sekali orang berkulit berwarna, terutama orang-orang
berkulit hitam yang berasal dari kepulauan Karibia dan Afrika jajahan
Inggris. Pula, banyak orang Maroko, banyak orang India, banyak orang
Pakistan, banyak orang Bangladesh, banyak orang Cina, dan ketika
mereka mampir makan nasi di sebuah rumah makan kecil di jalan Portobello
satu hari yang lain, Jagger jadi mengenal sedikitnya satu orang
Melayu dari Kuala Lumpur.
Wanita melayu dari Kuala Lumpur
itu senang sekali berjumpa dengan orang Indonesia. Bagai menyambut
keluarganya sendiri dia menawarkan masakan terbaiknya hari itu,
yang dia namakan nasi ikan lemak, dan mencubit-cubit pipi Sanca
yang mungil. Jagger mengerti bahasa Malaysia yang diucapkannya,
dan merasa senang mendengarnya, namun dia sendiri tak bisa berbahasa
seperti itu dan berbicara di dalam bahasa Indonesia. Perempuan bertubuh
padat pendek itu memperkenalkan suaminya, seorang pria Inggris berperawakan
kecil bernama James. James menikah dengan masuk Islam, dan sangat
antusias dengan agama barunya itu.
Dengan mengusap-usap tangannya
pada celemek putih yang melindungi pakaiannya dari pekerjaannya
di dapur yang terletak di bagian belakang rumah makan itu, James
bergegas keluar dipanggil istrinya yang senang kedatangan tamu dari
Indonesia. James berjabat tangan dengan cara Melayu, tanpa genggaman
erat.
"Sorry, I
can't speak bahasa yet. Do you speak English?"
"Sedikit-sedikit."
"Ah, ha ha ha, yes, sedikit-sedikit. The same, I speak bahasa
sedikit-sedikit. Terima kasih. Ha ha ha!" kemudian dia cepat
menambahkan:
"Are you Muslim?"
"Alhamdulillah, yes"
Mendengar bahwa Jagger adalah seorang Muslim, James menjadi lebih
ramah dan hangat. Lagi dia menjabat tangan, lalu menarik dan merangkulnya:
"Welcome to
London, brother!"
dan kepada Elaine dia
bertanya pula:
"And you sister,
are you Muslim too?"
"Yes, I converted." Jawab Elaine.
Dan Jagger mencatat
untuk kedua kalinya, orang memakai kata Muslim, bukan Moslem di
dalam bahasa Inggrisnya. Semula adalah wanita Iran di toko buku
di dekat Bayswater yang mengucapkannya. Sekarang, justru orang Ingrris
sendiri juga menggunakan kata Muslim. Padahal setahu Jagger di dalam
bahasa Inggris digunakan kata Moslem. Bahkan di Indonesia, banyak
orang bangga menempelkan sticker bertuliskan kata Moslem, misalnya
dalam kalimat keliru, "WE ARE MOSLEM FAMILY".
Kesempatan berbincang
dengan James yang ramah ini digunakan untuk menanyakan pengamatannya
mengenai perbedaan penggunaan kata Moslem dan Muslim.
"Why you say
Muslim, not Moslem?"
"Well of course. I have faith, brother! The real word is Muslim
and anyone can pronounce it."
Kemudian dengan nada lebih rendah,
sambil membungkukkan badannya mendekat ke wajah Jagger bagai sedang
mengungkapkan satu rahasia, James menambahkan:
"It was those
colonialists, bastards, who began to use the word Moslem, brother,
as a politically degrading word. Do you understand, brother? Do
yo know what I mean?"
"And you say Muslim, not Moslem?"
"Yes. I have faith. I am Muslim, one of the brothers. Alhamdulillah.
And you are Muslim too. You know what, brother, we should go sholat-Jum'at
together. There is a masjid near hear, in the youth centre, every
Friday. Come here at a quarter to two next Friday, brother, and
I will show you our local masjid."
Wah, brother-brother
melulu dia ngomongyna, pikir Jagger. Keramahan dan kehangatannya
sangat tulus, seakan dia benar-benar percaya bahwa setiap Muslim
itu bersaudara. Sedangkan di Indonesia, ketulusan sehangat ini hanya
ada di bayangan orang mengenai pelosok desa yang masih lugu. Bayangan,
ya, bayangan saja. Sebab Jagger tahu di desa-desa pun orang sudah
terjerat dalam sistem economi uang yang melibatkan perusahaan-perusahaan
multinasional di bidang pertanian: pupuk, benih, dan pestisida.
Bahkan, semakin lama Jagger merasakan bahwa orang di Indonesia semakin
tidak bersaudara dengan sesamanya. Seolah-olah pembangunan yang
menghasilkan pagar-pagar rumah yang tinggi, juga memagari hati orang
dari sapa suka duka sesama manusia.
Persaudaraan yang
spontan dan hangat ini dipersembahkan oleh orang asing di negeri
jauh, hanya karena merasa seagama. Ini mengharukan Jagger. Tak pernah
dia merasakan persaudaraan antara Muslim sedemikian hangat dan tulus.
Apakah ini karena di sini orang Islam itu minoritas? Mungkin, ah-
siapa tau? Jagger setuju, dan berjanji menjemput James di rumah-makannya,
pada hari Jum'at yang akan datang untuk bersama-sama pergi ke masjid
menunaikan sholat Juma'at.
Ketika cuping
hidungnya mengendus aroma ikan lemak yang hampir dihidangkan, Jagger
tiba-tiba berhitung. Baru berapa hari dia di sini? Berada di negeri
asing selama beberapa hari telah menimbulkan kerinduan-kerinduan
di dalam batinnya. Kupingnya ingin sekedar mendengar orang ngomong
apa saja, asal di dalam bahasa Jawa atau Indonesia. Ah- bahkan boleh
pula bahasa Batak seperti sering didengar diucapkan antara awak
bus kota di Jakarta! Atau juga bahasa Sunda! Atau bahasa Madura
yang tidak dia tau, atau bahasa Bali yang lucu di kupingnya!
Tetapi bukan hanya
kerinduan bunyi dan irama bahasa yang dirasakan kini. Setelah bertemu
dengan wanita bekas diplomat di toko buku, kemudian bertemu James
di warung makan, dia juga merasakan kerinduan akan agama Islam.
Menyusul angan baru: alasan berkunjung ke toko buku diplomat Iran
itu lagi.
***
bersambung
draft
novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
menerima usul, saran dan kecaman ke
Bramantyo
Prijosusilo
ceritanet©listonpsiregar2000