ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 32, Senin 4 Maret 2002
___________________________________

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Pulang dari mall yang sulit dibedakan dengan mall lain di Jakarta atau di kota besar lainnya, Elaine, yang gagal menemukan sale yang memuaskan, mengajak Jagger masuk ke sebuah toko buku khas. Toko buku yang dikelola oleh keluarga Iran itu mengkhususkan diri dalam buku-buku mengenai Arab dan Islam.

Jagger mencatat sesuatu yang baru di dalam batinnya. Dulu, di Indonesia, dia tidak begitu tertarik dengan buku-buku agama Islam, kecuali ketika di tahun 1980-an muncul sebuah penerbit bermutu di Bandung yang menerbitkan buku-buku mengenai revolusi Iran, dan tulisan-tulisan karya Ali Syariati yang menggugah. Memasuki toko buku ini Jagger merasakan perasaan yang sama dengan ketika dia pertamakali memegang buku berjudul Haji karangan Ali Syariati, yakni perasaan berdebar berpengharapan.

"Do you need any help?" tegur wanita Iran setengah baya yang anggun. Dia duduk di sudut menghadap sebuah mesin kasir sambil, rupanya, membaca sebuah buku tebal. Dengan gerakan mengalir ia melepas kacamata bacanya, menandai halaman bukunya dengan sebuah pembatas halaman, dan berdiri menyambut Jagger menggendong Sanca, berjalan di depan Elaine.

"Can I help you, Sir?"
"Ah, yes, ah no. I only looking."
"Please take your time, if you need anything, please ask me."
"Yes, thank you. Are all these Moslem books?"
" Many are Muslim books, but not all. We specialize in Arab culture, and as you know, there are many Christians in places like Lebanon. Are you Muslim?"
"Yes, I am Moslem. Alhamdulillah."
" Where from?"
"Indonesia."
"Ah, a long-long way away. You must miss your country very much. It is a beautiful country."
"Have you been there?"
"Yes, I was there on holiday a long time ago with my husband. We went to Bali, and then to Jogja, yes, a beautiful country. An old people in a beautiful country."
"I come from Jogja"
"Oh, how interesting. We are from Iran."

Jagger, Elaine, dan Sanca di dalam gendongan lalu menyusuri rak-rak buku, yang memanjang membentuk tiga lorong, jauh ke bagian belakang toko itu. Lantai toko tertutup karpet merah tua yang bermotif sulur-sulur indah berwarna hitam dan hijau gelap, dan Jagger menduga, bahwa itu adalah karpet Persia. Entah dari mana dia menyimpan pengetahuan di benaknya, bahwa karpet Persia terkenal berkwalitas baik di dunia.

Karpet itu terasa nyaman diinjak, dan seluruh ruangan toko buku itu beraroma rempah-rempah dan dupa-ratus. Tanpa sadar itu mengingatkan Jagger akan bau di sekitar upacara tradisional yang berasap bakaran kemenyan, sekaligus juga bau jejamuan Jawa. Sepoi rasa rindu menghembus dataran jiwanya, dan kesan wajah wanita Iran yang anggun di dalam usianya itu menukik menjadi satu arti. Matanya itu, matanya! Bulat dan jernih, namun memancarkan penderitaan diam yang dalam dan lama.

Kapankah kiranya keluarga Iran ini datang ke mari? Mungkinkah mereka itu pengungsi dari Revolusi Islam-nya Ayatollah Khomeini? Kapan tepatnya Revolusi itu terjadi? 1979-kah? Ah, Jagger sudah tak ingat pasti, namun dia ingat bahwa ada drama penyanderaan Kedutaan Besar Amerika oleh mahasiswa Revolusioner, pengadilan-pengadilan revolusi diikuti dengan pembunuhan-pembunuhan, dan operasi penyelamatan oleh helikopter Amerika yang gagal karena kecelakaan. Lalu benaknya bertanya-tanya lagi, membayangkan bagaimana orang-orang Iran yang mampu, melarikan diri dari Revolusi yang berdarah itu.

Wanita setengah baya itu mendekatinya, dan berkata:

"I have been to Indonesia, with my husband, a longtime ago, in the nineteen-seventies."
"Oh, yes?"
"Yes, my husband was a diplomat. We lived in Jakarta for a while."
"Oh, have you been to Jogja?"
"Yes, on holiday. We went to see the temples there. Beautiful country!"
"Yes, it is. So you see Borobudur and Prambanan?"
"Yes, I think so, it was so long ago. Before the revolution in Iran."

Jadi benar, pikir Jagger. Wanita ini lari dari revolusi di negaranya. Dan karena dia bersuamikan seorang diplomat di tahun tujuhpuluhan, pasti dia sekeluarga berada di pihak lawan dari revolusi itu sendiri. Kini mereka hidup dipengasingan. Menjual buku di London.

Toko itu hening. Hanya mereka pengunjung yang ada di situ. Sanca yang berada di gendongan selendang merah bergambar naga itupun diam. Aroma ruangan membawa suasana mengarah kepada keheningan, kesucian.

"Is it true that not long ago some terrorists bombed Borobudur?"
"Ha? Bomb?"
"Yes, I read about it in the papers, some time ago. Some years ago, I would say. They bombed Borobudur, or did they not?"

Jagger mulai mengerti. Wanita itu menanyakan tentang peristiwa pemboman beberapa stupa di candi Borobudur. Jagger lupa persisnya, namun sebenarnya kejadian yang mengejutkan masyarakat luas itu terjadi pada tanggal 20 Januari tahun 1985. Tak lama sebelumnya, malam Natal tahun 1984, bom TNT meletus di gedung Seminari Malang, setelah di bulan Oktober tahun itu juga serangkaian bom meledak di gedung gedung bank BCA, konon pelakunya adalah anggota Gerakan Pemuda Ka'bah, sebuah anak organisasi Partai Persatuan Pembangunan.

Diduga bom-bom itu diledakkan oleh kelompok-kelompok Islam yang tidak puas dengan penanganan satu kasus pembantaian ummat Islam oleh tentara, yang dikenal sebagai Peristiwa Priok di paruh akhir tahun 1983.

Jagger membaca di koran-koran, seorang mubalig diputuskan bersalah mengotaki peledakan beberapa stupa di candi Borobudur, dan divonis pengadilan dengan hukuman seumur hidup. Ada foto yang terkenang di matanya, bayangan seorang buta berjenggot dan bersorban. Tak ingat pasti dia kapan tahun kejadiannya. Ia menjawab wanita Iran yang ramah itu:

"Oh yes, yes, I think Borobudur was bombed in the 1980's."
"Oh, what a shame!"
"Yes. But it is fixed now."
"Did they get the terrorists?"
"Yes. I think so."
"It was such a beautiful place, Borobudur."
"Yes, it is fixed now."
"It was the Muslims, wasn't it?"
"Yes, I think so."
"How can one create such destruction in the name of Islam? Excuse me, I say this to you as a Muslim as well. "
"Yes, I am Moslem. But not fanatic."

Jagger tak ingin dibayangkan sebagai Muslim fanatik yang akan tega merusak cagar budaya moyang sendiri. Juga tak rela jika kaum Muslim di Indonesia dibayangkan sebagai teroris.

"In Indonesia, most Moslem are very tolerant. Also, there are many Christians, many Hindu, and many Budhists in Indonesia."

Elaine memperhatikan, bahasa Jagger membaik. Jagger meneruskan.

"And also, in Indonesia, the Christian Bible, calls God Allah. Ay - double El - heich. You know, Alloh Subhana Wa Taala ?"
"Yes. Of course!"
"And Allah is the god of Muslims. All right? But in Indonesia, the Christian Bible calls god Allah as well. Same spelling, only pronounced different.
bersambung

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo

ceritanet©listonpsiregar2000