ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 31, Jumat 18 Januari 2002
___________________________________

novel Dokter Zhivago 31
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

"Musim dingin itu Yura mempersiapkan karangan tentang susunan urat saraf mata untuk perlombaan Medali Emas di universitas. Walaupun ia hanya berwewenang dalanm ilmu kedokteran umum, iapun hampir mempunyai pengetahuan spesialis tentang fisiologi penglihatan. Minatnya untuk itu berhubungan dengan segi-segi lain dalam wataknya --bakatnyauntuk mencipta serta perhatiannya atas daya khayal dalam senin dan susunan gagasan menurut logika.

Saat itu ia bersama Tonya naik kereta salju sewaan ke rumah Sventitsky.

Setelah enam tahun tinggal serumah semasa kecil dan dewasa, mereka saling mengenal tentang segala hal yang dapat dimaklumi; masing-masing mempunyai tabiat dan kebiasaan, termasuk caranya ketawa tentang lelucon dari tiap mereka; pun mereka tahu waktunya untuk berdiam diri bersama-sama. Sekarang juga mereka boleh dikatakan berdiam diri saja dalam kenderaan, sibuk dengan pikiran masing-masing, dengan mulut terkatup erat terhadap hawa dingin.

Yura menggagas tentang tanggal perlombaan, pun bahwa ia harus lebih bertekun untuk karangannya. Kemudian pikirannya diselewengkan oleh keramaian pesta akhir tahun di jalanan, hingga meloncat ke soal-soal lain. Ia telah menjanjikan kepada Gordon sebuah tulisan tentang Blok untuk harian stensilan mahasiswa yang diterbitkannya; anak-anak muda di kedua ibu kota tergila-gila pada Blok, terutama Yura dan Gordon. Tapi pikiran inipun tak sanggup memikat perhatiannya lama-lama.

Mereka jalan terus dengan dagu terperosok dalam krah, menggaruk-garuk kuping dan melanjutkan pikiran masing-masing, namun ada satu hal yang terpikir oleh mereka berdua.

Kejadian di depan ranjang Anna tadi merobah mereka dalam pandangan masing-masing, seolah baru saja diberi daya penglihatan.

Bagi Yura, kawan lamanya Tonya yang sampai waktu itu merupakan sebagian hidupnya yang dengan sendirinya sudah harus ada saja, tak perlu diartikan lagi, tiba-tiba menjadi rumit, mahluk yang paling sulit didekati, paling rumit untuk dibayangkan. Ia telah menjadi wanita. Dengan melebih-lebihkan khayalannya, dapatlah ia membayangkan diri sendiri sebagai kaisar, pahlawan, nabi, penakluk, namun tak bisa sebagai wanita.

Kini sesudah Tonya meletakkan tugas mulia lagi sulit sekali atas pundaknya yang kurus rengkeh ini (sekarang ia nampak kurus dn rengkeh padanya, sekalipun ia gadis yang sehat betul), iapun merasakan simpati yang hangat serta rasa kagum campur malu-malu yang merupakan permulaan kasih sayang.

Perobahan sikap Tonya terhadap Yura sama dalamnya.

Yura merasa, akhirmya mungkin lebih baik mereka tak jadi pergi tadi. Ia resah tentang Anna. Mereka nyaris berangkat, waktu mendengar bahwa ia merasa kurang enak; merekapun masuk kamarnya, tapi ia menyuruh mereka ke pesta dengan tajam seperti sebelum itu. "Bagaimana cuaca seakrang?" tanyanya. Mereka pergi ke jendela untuk menjenguk ke luar . Waktu mereka berpaling, tira-tirai berbentuk jaring itu tersangkut pada gaun baru Tonya, terseret di belakangnya, macam cadar pernikahan. Semua ketawa, sebab penyerupaan itu cepat sekali mengesan.

Yura menengok keliling dan melihat apa yang sebentar tadi dilihat Lara. Gerat-gerit amat keras dari kereta salju di jalanan beku itu menimbulkan gema panjang sekali dari pohon-pohon yang ditimbuni es di pelataran dan di jalan-jalan. Cahaya yang bersinar lewat jendela-jendela penuh salju beku merobah tumah-rumah menjadi peti penuh permata indah yang beruap. Di dalamnya membara kehidupan Natal di Moskow; lilin-lilin menyala di pohon-pohon, para tamu mundar-mandir dan berkelakar dengan berpakaian istimewa, main umpetan dan 'cari cincin.'

Ia mendapat kesan bahwa Blok adalah suatu perujudan Natal dalam penghidupan dan kesenian Rusia modern --Natal dalam kehidupan di kota Utara ini, Natal di bawah langit berbintang di kota modernnya dan di sekitar pohon berbinar di kamar tamu abad keduapuluh. Tak perlu menulis artikel tentang Blok, pikirnya, yang perlu hanyalah melukis versi Rusia dan Pemujaan Magi dari Belanda, dengan salju di dalamnya dan serigala-serigala rimba cemara yang gelap.

Waktu mereka lewat Jalan Kamerger, Yura melihat ada lilin melelehkan selingkaran kecil lapisan salju di salah satu jendela. Sinarnya laksana kerlingan mata yang sengaja menengok ke jalanan, seolah api itu mengawasi kereta-kereta yang lewat dan menanti seseorang.

"Lilin menyala di meja, lilin menyala..." bisiknya pada diri sendiri --permulaan sajak yang kacau, tak berbentuk; diharapkannya sajak itu akan membina ujudnya sendiri, tapi ia tak mendapat apa-apa lagi.
***
ceritanet©listonpsiregar2000