ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 30, Selasa 8 Januari 2002
___________________________________

novel Dokter Zhivago 30
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

"Jangan sentuh mofku!" Emma Ernestova mengulurkan tangannya hendak membantunya menanggalkan mantel; ia menyambutnya dengan pelbagai 'O' dan 'Ah,' mengatakan bahwa Victor Ippolitovich sedang keluar, tapi ia hendak menunggu di situ.

"Tak mungkin. Aku tergesa. Mana dia?" Ia menghadiri perayaan Natal. Dengan menggenggam secabik kertas yang memuat alamat, ia lari turun ke kelompok tangga muram yang dikenalnya itu dengan gambar lambang di kaca jendelanya, lalu menuju ke rumah kaum Sventitsky di Muchnoy Gorodok.

Baru sekaranglah, ketika ia keluar kedua kalinya, ia melihat ke sekeliling di dalam kota dan malam musim dingin.

Udara dingin seperti es. Jalan ditutup es tebal yang hitam berbungkah macam beling dari dasar botol bir yang pecah. Hawa yang dihirup menyakitinya; hawa itu tebal oleh salju beku abu-abu, mencucuh dan menggelitik parasnya seperi bulu-bulu kelabu yang beku dimantelnya.

Dengan hati berdebat ia berjalan di lebuh-lebuh kosong di depan pintu beruap rumah-rumah makan yang murah. Muka-muka merah macam sosis atau kepala kuda dan kepala anjing, dengan jenggot bercerangah es, bermunculan dari kabut. Semua jendela di rumah-rumah dilapisi tabir es dan salju hingga putih seperti kapur; bayangan berwarna pohon-pohon Natal yang bercahaya serta bayang-bayang mereka yang berpesta, bergerak-gerak di permukaan jendela yang tak tertembus sinar itu, seolah ada pertunjukan 'lentera mujizat' di jalanan.

Ketika lewat di depan gedung tempat kediaman Pasha di Jalan Kamerger, Lara pun berhenti dan hampir pingsan. "Aku tak sanggup terus. Tak betah,' ucapannya hampir keras. "Aku naik, kuceritakan semuanya." Dikumpulnya tenaganya dan masuklah ia lewat pintu gerbang berat yang terhias.
***

Dengan muka merah dan lidah terjulur ke pipi, Pasha berdiri di depan cermin, bergulat dengan krab, kancing dan lobang kancing di muka kemejanya yang dikanji. Ia hendak ke pesta. Jiwa remajanya membuatnya malu, ketika Lara masuk tanpa mengetuk dan melihatnya sebelum ia selesai berpakaian. Namun ia lekas menanggap kerusuhannya. Lara nyaris tak mampu berdiri. Ia mendekat, menyingkap ujung gaunnya pada tiap langkah, seolah merandai di tempat penyeberangan.

Ia bergegas menjemputnya. "Ada apa? Apa yang terjadi?"

"Duduklah di sisiku. Duduk, tak usah selesai berpakaian. Aku buru-buru, sebentar lagi mesti pergi. Jangan sentuh mofku. Tunggu, jangan lihat sedetik, berpalinglah."

Ketika Pasha menurut, Lara yang memakai mantel dan gaun menanggalkan mantel itu, menggantungnya dan memasukkan pistol dalam kantongnya; kemudian ia balik ke dipan.

"Sekarang kau boleh lihat. Nyalakan lilin dan matikan lampu listrik."

Ia gemar bicara dalam gelap diterangi lilin, maka Pasha selalu menyimpan lilin sedikit. Ia memasang lilin baru di tampuknya atas landasan jendela, lantas menyalakannya. Apinya berkedip dan berkerisik, memancarkan bintang-bintang kecil, lalu meruncing seperti panah, kemudian tenang. Kamar diterangi cahaya halus. Ditentang nyala lilin, es meleleh di kaca jendela, meninggalkan rekah hitam seperti lobang pengintip.

"Dengarkan Pasha," ujar Lara. "Aku kesulitan, kau mesti menolongku. Jangan takut dan jangan tanya-tanya. Tapi jangan beranggapan kita bisa seperti orang-orang lain. Kau mesti bersungguh hati menghadapi soal ini. Aku terus dalam bahaya. Kalau kau cinta aku, kalau kau tak mau aku binasa, jangan kita undurkan perkawinan kita."

"Tapi itulah justru yang kuinginkan," sela Pasha. "Kita kawin, kapan saja menurut kehendakmu. Tapi apakah kesukaranmu? Jangan siksa aku dengan teka-teki."

Tapi Lara menghindari pertanyaannya dan mengalihkan percakapan. Mereka lama omong-omong tentang macam-macam hal yang tak sangkut paut dengan kemalangan Lara.
***
ceritanet©listonpsiregar2000