ceritanet situs karya tulis - edisi 300, mei 2020                                           Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak    cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

cerpen Order Nasi Goreng Istimewa
Bala Seda

Selepas lulus kuliah di Yogyakarta, Andre memulai rutinitas baru sebagai work hunter. Memelototi iklan baris lowongan kerja di koran KR (Kedaulatan Rakyat) merupakan kebiasaan baru yang saban hari dilakukannya. Puluhan surat lamaran kerja telah dikirimkan. Beberapa even job fair pun sudah sering disamperinnya. Saking semangatnya bergerilya mencari kerja, teman dekatnya, Agus sampai menggodanya, “Andre, kamu sekarang udah kayak orang kerja kantoran. Hanya saja kerjanya cuma mencari lowongan tok.”

“Aseemm lu Gus,” jawab Andre, rada kesal tapi tak bisa menampik komentar jujur itu.

Andre sebenarnya ingin segera bekerja untuk mengurangi beban orang tuanya. Kadang dirinya sedih memikirkan ayah-ibunya di kota tempat asal, yang masih transfer bulanan biaya hidupnya di Yogya.

Sudah sekitar tiga bulan lebih sejak orang tuanya hadir dalam acara wisuda. Saat itu yang terpancar dari wajah ayah-ibu adalah rona kebahagiaan dan kebanggaan menyaksikan para wisudawan yang penuh percaya diri bakal segera meniti karier. Sayangnya, bagi Andre, itu belum menjadi kenyataan.

Ayahnya sudah beberapa kali menelepon, “Bos, gimana, udah dapat panggilan kerja?” Bos adalah sapaan akrab ayahnya kepada Andre. Awal-awalnya, Andre bisa menjawab dengan santai sambil tersenyum. Tetapi ketika berulang kali ditelepon dengan pertanyaan sama, berat juga menjawabnya dengan tetap santai dan senyum.

Di lain waktu, ibunya pernah mengirim pesan whatsapp (WA), “Nak...cobalah untuk tes PNS di sini," sementara dia sudah bertekad bekerja di bidang swasta, seperti ayahnya, dan menolak jadi pegawai negara berbaju cokelat.

Berbagai upaya kerap dilakukan Andre untuk menambah pundi-pundinya sekaligus mengurangi beban trasnfer bulanan dari orangtuanya. Dia pernah ikut berjualan pulsa telepon, tetapi masalah sokongan modal dan seretnya omzet membuat jualan pulsa itu berhenti.

Alternatif lain pun dicoba. Berbekal kemampuan gitarnya, Andre pernah bergabung dengan band, yang rutin manggung tiap minggu di sebuah cafe. Tetapi, lagi-lagi nasib apes tidak menjauh. Belum sampai dua bulan, Andre didepak dari grup band tersebut. Alasanya? Gaya petikan gitarnya tak cocok.

Di tengah ketidakpastian tersebut, akhirnya dia melirik ke motornya menjadi driver pada perusahaan transportasi berbasis online. Karena tempat mangkalnya di sekitar Kotagede, Andre sering dapat orderan dari sebuah perusahaan distributor komputer setempat, yang punya banyak karyawan anak-anak muda.

Order Nasi Goreng
Malam itu, jam tangan Andre menunjukkan tepat pukul sembilan, ketika dia yakin order sudah tidak ada lagi. Tiba-tiba muncul pesan orderan dari seseorang bernama Aisyah dengan alamat kantor distributor komputer tersebut.

Awalnya Andre sempat tertegun dan membatin, “Kok... jam segini masih ada karyawan di kantor ya? Cewek pula!” karena sudah hafal jam pulang kantor normal pukul lima sore. “Jangan-jangan orangnya lembur di kantor,” jawabnya sendiri di dalam hati.

Diliriknya telepon genggamnya: orderan nasi goreng Surabaya di Jalan Gedongkuning dan disingkirkannya keraguannya dengan menyalakan motor untuk segera meluncur.

Karena jaraknya tidak begitu jauh, dan tidak ada antrian panjang pembeli, maka tidak sampai 20 menit Andre sudah sampai di halaman depan kantor. Diteleponnya Aisyah si pemesan dan terdengar suara seorang cewek, “Sabar ya mas...saya turun ke bawah,” yang agak serak. Secara naluri Andre mendongak dan melihat ke lantai dua dan ruangannya sudah gelap sama sekali. Bisa terlihat dari bawah kalau tidak ada aktivitas di sana.

Hampir sepuluh menit Aisyah tidak juga turun. Andre mulai tidak sabar. Pagar besi kantor diketuk-ketuknya beberapa kali dengan kunci motor dan beberapa menit kemudian muncul seorang cowok gendut dengan rambut tipis yang nyaris botak. Sambil membuka pagar, cowok tersebut -yang dia duga office boy- bertanya standar, “Cari siapa ya mas?”

Ada perasaan aneh dan bulu ronanya seketika merinding.

Tapi dia jelaskan order nasi goreng sambil menjelaskan, ”Tadi mbaknya bilang mau turun,” diikuti lirikan mata ke lantai dua tersebut dan dia kaget di dalam hati, Wah...lampunya menyala beberapa detik, kemudian mati lagi.

Si office boy botak menimpali, “Mas... maaf, saya baru aja dua bulan kerja di sini. Setahuku gak ada karyawan atau orang di kantor yang namanya Aisyah.” Kemudian, sambil menggeser tubuhnya, cowok tersebut menoleh ke dalam area kantor mempersilakan Andre melihat, mencoba meyakinkan Andre sambil berkata, “Setiap hari cuma saya yang tidur di sini dan nungguin kantor ini.”

Andre cukup lama menyusuri pandangannya ke dalam kantor di lantai satu dan mendongak ke lantai dua, yang lampunya sudah mati kembali. Kantor itu memang sudah sepi sama sekali. Dia terbengong dan cowok yang nyaris botak itu, yang mengenalkan diri sebagai Haris, menyentaknya, "Coba telepon lagi Mas."

Tapi cuma ada dering menanti. Dicobanya sekali lagi, juga tak diangkat.

Akhirnya, dia menyerah meski diliputi keheranan. Dia melongok ke lantai atas, berharap lampu nyala lagi walau cuma sedetik dua detik tapi tetap gelap gulita.

Andre pulang dan nombok karena orderan nasi goreng itu tidak ada yang menebus. Malam itu, menjelang pukul 11 malam, dia simpan nasi goreng itu di dapur rumah kontrakannya untuk sarapan pagi. Kesal rasanya dia dan mengumpat dalam hati, Kalau mau makan nasi goreng, ya aku masak sendiri. Murah, tapi rasa penasarannya yang lebih mengemuka malam itu dan sempat mengganggu tidurnya.

Siapa Aisyah pemesan nasi goreng itu? tanyanya berulang kali di dalam hati sampai akhirnya bisa juga tertidur lelap.

Anak Indigo
Tiga hari kemudian, pada jam istirahat kantor sekitar pukul 12 siang, Andre menerima order menjemput orang di kantor tersebut. Suasana kantor cukup ramai dan sambil menunggu, dia menyaksikan para karyawan yang ke luar kantor untuk istirahat makan siang.

Sewaktu masih berdiri di samping motor, seorang karyawan menyarankan, “Mas, masuk aja ke dalam, nunggu di ruang tamu,” sambil menunjuk ruangan kecil di depan kantor. Andre beranjak masuk dan sambil duduk melihat ruangan di seberangnya, dengan jejeran beberapa meja kerja. Ada beberapa karyawan yang masih berada di dalam kantor karena membawa bekal makan siang dari rumah.

Selang beberapa menit kemudian muncul pemesan order jemputan, “Sebentar ya mas, tunggu orangnya.” Ternyata yang mau diantar adalah anak dari pengorder.

“Ehhh... dek Doni salaman dulu dong sebelum pulang. Dadah...” terdengar beberapa suara karyawan dari ruangan seberang, disusul kemunculan anak berusia sekitar 10 tahun berseragam sekolah. Nampaknya, anak itu pulang sekolah tapi mampir ke kantor orang tuanya.

“Ayo Don udah dijemput nih,” kata ayah anak tersebut sambil memberikan tas sekolah miliknya. Pada momen inilah muncul hal aneh. Doni memutar badannya, berbalik arah berjalan ke sebuah meja kosong sambil menyorongkan tangan, layaknya ingin bersalaman.

Hah...siapa yang mau disalamin? Andre tersentak dan bertanya-tanya dalam hatinya karena tidak ada orang di meja itu.

Ayah Doni memandang ke Andre sambil berkata santai tanpa ekspresi, “Doni punya kelebihan.” Sebuah informasi pendek yang tetap belum mampu mengurangi keterkejutan di wajah Andre.

Di atas motor, Andre yang masih penasaran mencoba bertanya ke Doni, “Dek, di kantor tadi, kamu mau salaman sama siapa? Kan nggak ada orang di meja itu.”

“Ada si mbak kok mas,” ujar Doni mantap. “Kalau Doni ke kantor ayah, pasti mbak itu juga ada di kantor,” lanjutnya dengan lebih meyakinkan.

Andre pun sadar bahwa Doni seperti anak-anak indigo yang sering didengarnya di televisi. Masih terbayang-bayang dengan ketakutan atas pengalaman aneh tadi, Andre tidak bertanya-tanya lagi ke Doni di sepanjang perjalanan. Andre khawatir kalau tiba-tiba di atas motor, Doni malah melihat penampakan gaib lagi.

Aisyah dan Haris
Esoknya, Andre mampir dan membeli rokok di kios kecil penjual rokok dan bensin eceran, di seberang kantor tersebut. Andre sempat ngobrol sejenak dengan pemilik kios tersebut dan iseng bertanya,”Pak, apakah penjaga kantor yang bernama Haris sering ke sini?”

“Walah mas... kantor ini sudah hampir setengah tahun sampai sekarang nggak ada penjaga lagi,” pemilik kios menimpali. “Setiap pagi ada yang bersih-bersih kantor tapi kalau sore langsung pulang. Gak ada yang tidur di kantor, dan nggak ada yang namanya Haris,” lanjut bapak pemilik kios.

Andre tertegun mendengarnya: misteri dan pertanyaan makin banyak yang bergelayut di benaknya namun tak ada yang bisa menjawabnya.

Beberapa minggu kemudian, selepas magrib, telepon genggam Andre kembali bergetar. Di telpon genggamnya ada orderan dari Aisyah, yang minta dijemput di kantor distributor komputer itu untuk diantar ke Jalan Kaliurang Km 5.

Andre waswas dengan sosok Aisyah ini. Bulu kuduknya otomatis merinding, tapi akalnya memilih nekat untuk menerima orderan karena masih penasaran order nasi goreng yang tak tertebus dulu walau tak berharap akan menagih utang tebusan itu. Rasa penasaran telah menyingkirkan ketakutannya.

Sekitar sepuluh meter dari kantor tersebut, dari jauh sekilas terlihat seorang cewek berdiri di depan gerbang kantor. Berpakaian putih, agak kurus, dan cukup tinggi. Ketika Andre sampai di sana, cewek itu menyapa lebih dulu, “Mas Andre ya?”

Andre tidak menjawab tetapi balik bertanya, “Mbak Aisyah?” dan cewek berumur sekitar dua puluhan tahun tersebut cuma menggangguk pelan. 

Kurang lebih dua menit pertama di atas motor suasana hening dan ada hal yang aneh. Andre merasa seperti sedang tidak mengangkut seorang penumpang. Tarikan motornya ringan sekali dan spontan dia melirik ke kaca spion motornya, sekilas kelihatan lambaian baju putih yang diterpa angin.

Sekadar basa-basi, Andre bertanya, “Mau ke tempat kos ya mbak?” karena Andre yakin cewek tersebut tinggal di kos-kosan sekitar kampus.

“Mau ke rumah mas Haris,” jawab cewek tersebut pelan dan agak memelas. Mendengar nama Haris, Andre mulai deg-degan, yakin ada hal aneh sambil membayangkan kembali pertemuannya dengan office boy bernama Haris dan penjelasan bapak pemilik kios depan kantor.

Untuk mencairkan suasana, Andre bermaksud menanyakan kepada Aisyah perihal orderan nasi goreng beberapa waktu lalu namun pertanyaan tersebut tidak jadi terlontar.

Itulah momen terakhir yang Andre ingat, setelah sekitar lima menit melaju ringan di atas motor dengan lambaian baju putih di belakangnya.

Sontak Andre dan motornya berada persis di depan ruang jenazah RS dr. Sardjito. Padahal jaraknya dari kantor itu lumayan jauh, yang seharusnya ditempuh minimal dua puluh menitan.

Perempuan berpakaian putih, agak kurus, dan cukup tinggi itu raib tak berbekas. Andre cuma bengong terpaku di depan ruang jenazah rumah sakit. Tiba-tiba dia merinding, merasakan tatapan mata Haris menusuk tajam ke tubuhnya.
***

Tulisan lain

Kenangan Pribadi Dengan Mas Arief Budiman - Bela Kusumah Kasim

Berdoa - Sitor Situmorang

Kent

Tentang Yang Tidak Pernah Ada 3 - Victoria Tokareva (Dr. Victor A. Pogadaev

205 Tahun letusan Tambora - Ibnu Dpu

Nama dan Pertanda - Sitor Situmorang

Ode Untuk Pak D - Firmansyah Evangelia

Sevenoak

Virus Corona, Semangat Kampung, London Pinggiran - Liston P Siregar

Tentang Yang Tidak Pernah Ada 2 - Victoria Tokareva (Dr. Victor A. Pogadaev)

Tuktuk Siadong-Tomok - Sitor Situmorang

vevey

 

 

Tentang Yang Tidak Pernah Ada 1- Victoria Tokareva (Dr. Victor A Pogadaev)

Kapal Sendal - Edwin Anugerah Perdana

Balige - Sitor Situmorang

Bristol

Pelangi Sore Hari di Siguragura Asahan - Sitor Situmorang

Pro-demokrasi? Jangan Pilih Anak dan Mantu Presiden Jokowi - Liston P Siregar

Devon

Mau Salam Menyalam, Malah Rempong - Liston P Siregar

Kristus di Danau- Sitor Situmorang

Skotlandia

Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo atau Koalisi Cebong-Kampret? - Liston P Siregar

Tamasya Danau Toba - Sitor Situmorang

Loch Ness

©listonpsiregar2000