ceritanet situs karya tulis - edisi 300, mei 2020                                           Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak    cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

memoar Kenangan Pribadi Dengan Mas Arief Budiman (3 Januari 1941 - 23 April 2020)
dari buku: Arief Budiman, Melawan Tanpa Kebencian
Bela Kusumah Kasim

Telepon di meja kerja saya di Kantor Radio SBS-Melbourne sore itu berdering. Saya sedang sibuk menyiapkan wawancara via telepon di studio rekaman. Kemudian saya terpaksa buru-buru kembali ke meja kerja menyambar gagang telepon, “Halo, this is Bela Kusumah, Indonesian Languange Program.

Di ujung telepon menyapa, “Hi Bela, did you know that Dr. Arief Budiman is in Melbourne?”

Rupanya teman saya, Lisa Ting mahasiswi PhD-Asian Law di Universitas Melbourne memberi tahu kedatangan Arief di Melbourne. Jawab saya waktu itu, ”Ya saya sudah mendengar berita itu, sekarang Arief sudah ada di Melbourne ada urusan apa? Memberikan 'lecture' atau seminar? Nginap di mana sekarang?” saya agak kaget, campur merasa gembira bahwa cendekiawan yang sudah sering saya wawancara lewat telepon ada di Melbourne. Padahal beberapa bulan lalu saya mewancarai dia yang dipecat sebagai dosen di Universitas Satya Wacana di Salatiga.

Wawancara-wawancara AB sering saya siarkan untuk mengimbangi pernyataan-pernyataan klasik dari pejabat pemerintah Indonesia, terutama dalam menanggapi masalah sosial politik. Di era Pemerintahan Otoritas Suharto, tidak banyak tokoh-tokoh intelektual yang bersedia mengomentari, memberikan pendapatnya dan mengkritik politik pemerintah terutama tentang topik-topik panas seperti reformasi, demokrasi, perubahan sosial, apalagi masalah yang paling dianggap 'tabu' seperti, KKN pemerintahan orba, masalah Timor Timur, dan Papua. 

Arief BudimanSore itu, saya diantar Lisa Ting mengunjungi International Guest House yang terletak di kawasan Universitas Melbourne, Carlton. Apartemen tempat menginap AB lokasinya di kawasan universitas tertua di Melbourne, yang berderet dikerumuni pohon-pohon rimbun. Saya ketuk pintu dengan rasa tak sabar dan menyapa, ”Halo Mas Arief, kok tidak memberi tahu mau ke Melbourne, kalau tahu saya jemput di Airport.”

“Halo Bela, oh dengan Lisa, silahkan masuk, tidak perlu buka sepatu,” Mas Arief menyambut kami, dan mempersilahkan duduk.

Pertemuan pertama kali itu tidak pernah saya lupakan.

Saya mengenal nama Arief Budiman melalui koran-koran media Indonesia. Tahun 1972 ketika saya masih kuliah di UNPAD-Bandung, saya pernah membaca di harian Kompas tentang para aktifis yang melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran HI menentang proyek Taman Mini. Saya ingat sejumlah nama, Arief Budiman, Goenawan Muhamad, WS Rendra, dan aktivis lainnya yang diciduk oleh aparat Orde Baru akibat tindakan-tindakan yang dianggap menentang otoritas pemerintah.

Saat pertemuan pertama itu, setelah ngobrol- ngobrol, saya mengajak AB makan malam di sekitar kawasan kampus, ”Oh Mas Arief mungkin belum makan, kalau mau kita makan malam saja di luar, di sekitar Lygon Street itu banyak kafe dan restoran.”

“Terima kasih Bel. Saya besok pagi harus presentasi, jadi saya mau siap-siap. Kalau bisa tolong masakin supermie, saya tidak bisa masak Bel, saya bawa satu karton Super Mie dari Indonesia. Ya tolong masakin ya,” kata AB sambil ketawa.

Sambil berbincang-bincang, Lisa mengeluarkan beberapa bungkus Super Mie dan kami mulai masak tanpa dicampur telor dan sayur, karena kulkas kosong kecuali beberapa botol minuman soft drink.

Malam itu kami pamit dan berjanji besok pagi saya akan menjemput Mas Arief untuk mengantarnya, dan yang paling penting buat saya, bisa hadir menyaksikan presentasi tokoh yang dikenal orang 'kiri' di hadapan anggota panel.

Dr. Areif Budiman adalah satu dari tiga calon yang akan dinilai oleh anggota panel untuk menduduki posisi penting di Universitas Melbourne. Dari belasan calon yang melamar posisi tersebut, pada tahap akhir, tepilih tiga kandidat, yaitu Dr. Chales Coppel (PhD Universitas Monash), dan Dr. Ann Kumar (PhD Australia National University-ANU Canberra) dan Dr. Arief Budiman, dosen yang dipecat dari Universitas Satya Wacana.

Pagi itu, saya berangkat lebih pagi, tergesa-gesa menuju Riversdale Road dari apartemen saya di Surrey Hill menuju Lygon St. ke arah guest house di Melbourne University.

”Selamat pagi Mas Arief, maaf agak terlambat, susah cari parkir, kita harus cepat-cepat nih, presentasinya jam 10 pagi ya,” sapaku.
“Ya, saya sudah siap, kita jalan kaki saja, letaknya masih di sekitar kampus,” jawab AB
”Mana tasnya Mas, saya bawakan, lho tidak pake jas dan pake dasi Mas, ini Melbourne University, universitas paling bergengsi di Victoria Mas,” jawab saya serius.
“Ah saya sudah biasa begini saja,” jawab AB sambil memasukan lipatan kertas ke dalam saku celananya.
”Nggak bawa bahan-bahan presentasi Mas?” tanyaku agak penasaran.
“Sudah ini,” jawabnya sambil menunjukan lipatan kertas-kertas yang sudah kucel dalam sakunya.

Saya pikir memang ini dosen PhD gayanya santai, cuek, dan 'down to earth' lagi. AB akan tampil untuk presentasi sebagai persyaratan melamar posisi Kepala Pengkajian Indonesia. Bayangkan, sepatunya kucel, pake baju tangan pendek, celana masih kelihatan baru keluar dari koper. Penampilannya sangat sederhana sekali.

Dalam ruangan gedung sudah hadir anggota panel yang duduk di kursi menghadap para tamu yang hadir. Mata saya menyapu ruangan mencari wajah-wajah yang saya kenal di dalam ruangan: Dr. Charles Coppel, Ibu Nani Polard, Dr. Lea Jallinek, Dewi Anggraeni, dan serta sejumlah mahahasiwa Indonesia dan Australia.

Arief Budiman 2Setelah protokol memperkenalkan Dr. Arief Budiman dan anggota panel, presentasi dimulai. Arief Budiman berdiri sambil mengambil lipatan kertas di saku celananya, dan mulai membeberkan dalam Bahasa Inggris tentang 'Islam, Budaya dan Politik di Indonesia'. Bagi para mahahasiswa post graduate, topik tersebut sangat menarik khususnya peran Islam di Indonesia, yang dimotori oleh dua organisasi Islam terbesar, Muhamadiyah dan Nahdatul Ulama. AB juga menjelaskan teori Clifford Gerts tentang abangan, priyayi, dan santri, serta perkembangan sosio–ekonomi di kelas ‘grass root’. Presentasi AB, bagi saya seperti kuliah umum gratis, yang membuka wawasan saya lebih luas dan membuka kesempatan saya untuk mengenal lebih dalam pemikiran-pemikiran ‘sosialis’ lulusan Harvard itu.

Selesai presentasi, para tamu berbaur dan AB dikerumuni oleh para mahasiswa dan para dosen dari berbagai fakultas. Kami kemudian meninggalkan Gedung berjalan menuju sebuah cafe di Lygon St, sebuah kawasan yang terkenal dengan restoran dan kopi aroma Italia.

”Mas presentasinya menarik, semoga Mas bisa diterima, nanti Mas Arief bisa membantu mengisi majalah Suara Independen, kita bisa ketemu dengan teman-teman berdiskusi,” komentar saya dan disambut Dr. Lea Jallinek yang fasih Bahasa Indonesia. Lea sering ke Indonesia untuk melakukan studi tentang anak-anak jalanan.

”Pak Arief semoga diterima ya, kalau diterima kapan Pak Arief kembali ke Melbourne?” tanya Lea penuh rasa antusias.
”Oh saya sudah ada pekerjaan di Jepang, Universitas di Tokyo sudah mengundang saya untuk mengajar di sana,” jawab AB dengan santai.
”Ya tapi kalau di terima kami harap Mas Arief bisa bertugas di Melbourne dong,” jawab saya tanpa bisa menyembunyikan rasa antusias.

Suatu hari (saya lupa persisnya), saya mendapat telepon dari Lisa Ting, Ketua Australia-Indonesia Legal Development Foundation, yang memberi tahu Mas Arief diterima di Melbourne University sebagai the Head of Indonesian Study, University of Melbourne.

Berita gembira itu membuat saya terharu dan saya sebarkan ke teman-teman di Melbourne.

Krisis Moneter dan Suharto Lengser

Jalan tol M1 yang menuju ke kantor Radio SBS di Ballet Centre cukup ramai. Seperti biasa setiap hari Selasa saya berangkat agak pagi untuk menyiapkan program radio jam dua siang. Di perjalanan saya mendengarkan Radio ABC Program ‘Asia Pacific’ yang meliput masalah perkembangan politik, yang siang itu ABC menyiarkan liputan menarik, dengan presentasi dan analisa yang tajam, disertai dengan wawancara-wawancara yang mendalam. Para pendengar bisa menelpon untuk memberikan komentar dalam acara 'Live Talkback', yang hari itu meliput tentang Indonesia yang sedang dilanda Krisis Ekonomi.

Penyiar mewanwancarai Dr. Harold Crouch -pakar ekonomi ‘Indonesianist’ dari Australia National University, ANU di Canbera. Sambil mengendarai mobil, pikiran saya terpusat meneengarkan penyiar yang menanyakan: Apa solusi dari Krisis Moneter di Indonesia? dan Apakah harus ada perubahan sistim ekonomi yang radikal, atau harus ada perubahan politik, yang berarti Presiden Suharto harus mengundurkan diri?

Dalam wawancara itu Dr. Harold Crouch pada dasarnya menjawab bahwa krisis moneter di Indonesia bisa diatasi kalau ada perubahan sistim ekonomi yang lebih transparan, bukan dengan perubahan politik, yang artinya Suharto tidak harus mengundurkan diri. Mendengar komentar itu, saya buru-buru mempercepat mobil menuju ke kantor. Saya pikir krisis moneter di Indonesia sudah buntu dan tidak ada jalan selain perubahan politik. Suharto harus turun. Setibanya di kantor saya bergegas masuk ke studio untuk menelepon acara Live Talkback. 

Setelah memperkenalkan diri saya diberi kesempatan untuk berbicara, ”I do not agree with Dr Harold Crouch.” Saya mengatakan, "Bahwa krisis moneter di Indonesia hanya bisa diatasi dengan perubahan politik. Pemerintah Orde baru sudah berupaya mengubah kabinet dan memberlakukan regulasi di bidang ekonomi, namun karena sistim KKN dalam pemerintahan yang sudah mengkristal, maka satu-satunya solusi adalah perubahan politik.”Komentar itu disiarkan langsung

“Thank You, Bela Kusumah Kasim, an Indonesian Journalist from Radio SBS – Indonesian Language in Melbourne,” kata penyiar mengakhiri acara Live Talkback.

Setelah selesai menelpon acara radio ABC, saya langsung telepon AB untuk lebih meyakinkan bahwa pendapat saya benar, karena agak khawatir sanggahan terhadap komentar pakar ekonomi Indonesia Dr. Harold Crouch meleset.

”Mas Arief, tadi Dr. Harold Crouch dalam wawancara di Radio ABC mengatakan bahwa untuk mengatasi krisis moneter harus ada perubahan yang signifikan dalam sistim ekonomi Indonesia. Saya tidak setuju Mas, kita sering diskusi soal krismon ini, mestinya harus ada perubahan politik, itu pendapat yang saya ungkapkan pada acara di radio ABC tadi. Menurut pendapat Mas bagaimana?” tanya saya dengan perasaan agak emosional.

“Iya dalam masalah krismon di Indonesia, memang sudah saatnya ada perubahan politik, karena selama ini bantuan dana IMF sering dimanfaatkan oleh kroni-kroni keluarga Cendana. Jadi meskipun sudah banyak perubahan ekonomi, kalau para pemainnya sama, tidak akan berubah,” begitu kira-kira komentar AB via telepon.

Saya bergegas ke meja kerja untuk menulis liputan yang harus siap jam dua siang. Topik Current Affairs hari itu, selain liputan langsung dari RADIO KBR 68 H-Utan Kayu, saya juga menurunkan ulasan dengan judul 'Solusi Politik mengatasi Krisis Moneter di Indonesia.' Dan dengan rasa percaya diri, saya kutip percakapan telepon saya dengan Dr. Arief Budiman.
***
bersambung

Tulisan lain

Oder Nasi Goreng Istimewa - Bala Seda

Berdoa - Sitor Situmorang

Kent

Tentang Yang Tidak Pernah Ada 3 - Victoria Tokareva (Dr. Victor A. Pogadaev

205 Tahun letusan Tambora - Ibnu Dpu

Nama dan Pertanda - Sitor Situmorang

Ode Untuk Pak D - Firmansyah Evangelia

Sevenoak

Virus Corona, Semangat Kampung, London Pinggiran - Liston P Siregar

Tentang Yang Tidak Pernah Ada 2 - Victoria Tokareva (Dr. Victor A. Pogadaev)

Tuktuk Siadong-Tomok - Sitor Situmorang

vevey

 

Tentang Yang Tidak Pernah Ada 1- Victoria Tokareva (Dr. Victor A Pogadaev)

Kapal Sendal - Edwin Anugerah Perdana

Balige - Sitor Situmorang

Bristol

Pelangi Sore Hari di Siguragura Asahan - Sitor Situmorang

Pro-demokrasi? Jangan Pilih Anak dan Mantu Presiden Jokowi - Liston P Siregar

Devon

Mau Salam Menyalam, Malah Rempong - Liston P Siregar

Kristus di Danau- Sitor Situmorang

Skotlandia

Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo atau Koalisi Cebong-Kampret? - Liston P Siregar

Tamasya Danau Toba - Sitor Situmorang

Loch Ness

©listonpsiregar2000