edisi 2, Senin 15 Januari 2001

ceritanet
situs nir-laba
untuk
karya tulis

novel Dokter Zhivago 2
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Waktu ibunya masih hidup, Yura tak tahu bahwa ayahnya telah lama meninggalkan mereka dengan main perempuan dan minum-minum di Siberia dan luar negeri, pun bahwa ia telah melarutkan kekayaan keluarganya ke segenap penjuru angin. Ia selalu mendengar bahwa ayahnya jauh bekerja di Petersburg atau di salah satu pasar malam besar, biasanya di Irbit.
Ketika ibunya yang tak pernah kuat itu mulai kurus kering, iapun bepergian ke Perancis Selatan dan Italia Utara untuk berobat. Yura dua kali kut dengannya. Ia sering diserahkan pada orang-orang yang tak dikenalnya, sering berganti pengasuh. Ia menjadi biasa dengan segala perobahan ini, maka dengan latar belakang belang belonteng ini, dilingkungi ketidak-tentuan yang terus-menerus, iapun tak heran akan ketidak-hadiran ayahnya.

Ia ingat bahwa sewaktu kecilnya banyak sekali barang-barang yang dikenal dengan nama keluarganya. Ada pabrik-pabrik Zhivago, ada bank Zhivago, gedung-gedung Zhivago, peniti dasi Zhivago, bahkan sebuah kue yang sebetulnya bernama baba au rhum, dikenal sebagai roti Zhivago; ya pada suatu ketika cukuplah orang berpesan pada sais kereta saljunya: ''Ke Zhivago!," maka lebih baik dari pada pesanan "Bawa aku ke Timbuktu!" Ia akan membawa kita dalam kereta saljunya ke sebuah kerajaan mukjizat di ujung dunia. Taman melingkupi kita sesunyi tamasya di dusun: burung-burung gagak menaburkan hujan es, waktu hinggap di dahan besar pohon-pohon ru; kokoknya berbunyi seperti ranting patah; anjing-anjing datang berlarian menyeberangi jalan dari kandang-kandang baru di tempat terbuka, dimana matahari bersinar menjelang magrib.
Semua itu sekonyong-konyong hilang. Mereka jatuh miskin.
***

Suatu hari dalam musim panas tahun 1903, dua tahun setelah ibunya wafat, Yura menyusur ladang-ladang dalam kereta terbuka yang dihela dua kuda bersama pamannya Kolya. Mereka hendak mengunjungi Ivan Ivanovich Voskoboynikov, seorang guru dan penulis buku-buku pelajaran yang populer yang tinggal di Duplyanka, tanah milik Kologrivov yang mempunyai pabrik sutra dan menjadi pelindung besar bagi kesenian.

Hari itu dirayakan Pesta Sang Perawan Kazan. Musim panen mencapai puncaknya, tapi tak nampak seorangpun, entah lantaran perayaan atau lantaran isitrahat tengah hari. Ladang-ladang yang baru separuh dipanen, macam kepala seorang tawanan yang dicukur separuh, tinggal terbakar surya. Burung-burung terbang berputar di atas. Gandum yang sudah matang berdiri tegak sunyi senyap. Jauh dari jalanan, timbunan-timbunan panen menjulang di atas batang-batang yang terpancang, dan kalau kita tatap lama-lama, mereka seakan bergerak, seperti para pengawas yang berjalan di kaki langit untuk membuat catatan.

"Ladang-ladang ini milik tuan tanah atau petani?" tanya Nikolai Nikolayevich kepada Pavel, pesuruh penerbit yang duduk miring di bangku kereta dengan bahu terangkat dan bersilang kaki, hingga kentara bahwa ia tak bisa mengendara.

"Milik majikan." Pavel menyalakan pipanya serta menghisapnya: setelah lama berdiam diri ia todongkan ujung cambuknya ke jurusan lain. "Itulah yang kami punya! - Ayo lekas," serunya kepada kuda-kuda; ekor dan lambung mereka diawasinya seperti tampuk alat-alat lokomotif. Tapi kuda-kuda itu tak beda dari kuda lain di seluruh dunia; kuda yang terdekat menghela bebannya dengan ketulusan bersahaja yang kodrati, sedangkan kawan-kawannya melengkungkan kuduk laksana angsa; bagi yang tak mengetahui halnya ia seperti pemboros waktu tanpa pikiran lain selain hendak berlagak menurut irama bunyi gentanya.

Nikolai Nikolayevich membawa cobaan cetak buku Voskoboynikov tentang masalah tanah; penerbitnya telah meminta pengarang buku itu supaya memeriksanya kembali, menghadapi penyensoran yang makin keras.
"Orang sudah main keras di sana," tuturnya pada Pavel. "Seorang pedagang digorok dan peternakan kuda seorang zemsky (pejabat resmi yang mengurus soal-soal petanahan) dibakar. Apa pendapatmu tentang semua ini? Apa kata orang di dusunmu?"

Tapi Pavel rupa-rupanya malah mempunyai pendirian lebih muram daripada sensor yang meminta Voskoboynikov melunakkan nafsunya dalam pendiriannya mengenai masalah agraria.

"Tuan harapkan ucapan apa dari mereka? Kaum petani itu susah dikekang. Nasib mereka terlalu baik. Itu tak baik bagi orang-orang macam kami. Coba beri mereka tambang, demi Tuhan, sebentar lagi yang satu lagi sudah mencekik kerongkongan yang lain. Ayo jalan!"

Inilah kedua kalinya Yura ikut pamannya ke Duplyanka. Ia menyangka telah mengenal jalan itu; tiap kali sehabis melewati ladang-ladang di kanan kiri dengan garis tipis hutan rimba di depan dan di belakangnya, iapun mengharapkan jalan berbelok ke kanan. Membuka pemandangan bergelombang atas tanah milik Kologrivov, yaitu tanah terbuka yang terbentang sepuluh mil panjangnya, dengan sungai mengkilap jauh dan jalan kereta api di seberangnya. Namun tiap kali ia keliru. Ladang menyusul ladang, lalu ditelan hutan-hutan. Pergantian tamasya demi tamasya seluas itu menimbulkan perasaan seolah tak ada jarak, hingga orang berpikir dan mimpi tentang hari depan.

Buku-buku yang kelak membuat Nikolai Nikolayevich termashur belum juga ditulis, tapi segala gagasannya telah menemukan bentuk. Namun ia belum sadar bahwa waktunya sudah dekat.

Segera ia akan mendapat tempatnya antara para pengarang sejamannya -para profesor unversitas dan filsuf-filsuf gerakan revolusioner-sebagai seseorang yang sungguhpun mempunyai pengalaman seperti mereka, namun sedikitpun tak sama dalam jalan pikirannya, kecuali dalam pemakaian istilah. Mereka semua tanya kecuali berpegangan pada dogma ini atau itu serta puas dengan kata-kata dan gejala lahiriah, tapi dia, Pater Nikolay, seorang pendeta, pernah menjadi penganut Tolstoy dan idealis revolusioner dan kinipun masih bergerak. Ia mendambakan buah idaman, penuh ilham namun konkrit yang akan menunjukkan jalan terang dan mengubah dunia menjadi baik, idaman yang mungkin disalah-artikan bahkan oleh seorang anak atau si tolol yang dungu, seperti halnya halilintar atau gemuruh guntur. Ia dambakan sesuatu yang baru.
Yura suka menemani pamannya. Ia mengenangkan dia pada ibunya,. Seperti ibunya iapun bergerak bebas dan senang dengan yang ganjil-ganjil. Dengan tinggi hatinya ia mempunya rasa sama rata dengan semua mahluk, pun mempunyai pembawaan untuk memahami segala sesuatu dalam sekejap mata, untuk mengungkapkan buah pikirannya yang mula-mula timbul sebelum kehilangan arti dan daya hayatnya.

Yura gembira bahwa pamannya mengajaknya keDuplyanka. Tempat itu indah dan hal inipun mengingatkannya pada ibunya yang mencintai alam dan sering membawanya jalan-jalan di dusun.

Iapun ingin bertemu kembali dengan Nicky Dudorov, meskipun Nicky yang dua tahun lebih tua itu mungkin meremehkannya. Nicky adalah anak sekolah yang tinggal bersama keluarga Voskoboynikov; ketika ia berjabatan tangan dengan Yura, ia sentakkan kedua belah lengannya sekuat tenaga dan menunduk rendah sekali sampai rambutnya meloncat ke kening menutup separoh mukanya.
***

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000