edisi
2, Senin 15 Januari 2001
ceritanet
situs
nir-laba untuk karya tulis
laporan New
York Attitude di Times Square
Ningrum
Sirait
Ada
yang yakin peralihan milenium sebenarnya jatuh tanggal 31 Desember
2000 ke tanggal 1 Januari 2001, jadi bukan peryaaan meriah yang
sudah berlangsung setahun sebelumnya. Tapi siapa yang peduli.
Tahun baru, di tahun yang manapun, hanyalah salah satu alasan
universal yang dipakai di seluruh pelosok dunia oleh segala jenis
orang untuk berpesta; di Bundaran HI Jakarta, di Lapangan Merdeka
Medan, maupun di Time Square New York. Dan aku berdiri diantara
berjuta umat yang menunggu jatuhnya bola kristal dari puncak
Times Square.
Di
Amerika, New York punya kekhususan, karena menurut waktu Eastern
Coast memasuki tahun baru lebih cepat dari bagian lainnya. New
York sendiri amat bangga dengan statusnya, memang bukan ibukota
resmi Amerika Serikat saja tapi ibu kota dunia. ''The New York
Attitude,'' kata para New Yorker. Kebanggaan yang dipajang di
spanduk, baliho, berita TV, dan dalam wawancara walikotanya ; "Selamat
datang di ibukota Dunia." Bah! bangga kalilah bapak ini, tapi
kayaknya memang begitulah lagak orang New York.
Pas
sehari sebelum perayaan tahun baru, New York dihantam badai salju
yang tidak biasa. Tapi tumpukan salju dengan suhu minus 10 derajat
Celcius jelas tak boleh menggalkan semangat bertahun baru di
Times Square. Berbekal selimut tebalpun jadilah. Dan aku yakin
aku -asli lahir di Medan dan kalau selesai sekolah di Madison
nanti akan pulang lagi ke Medan-- bukan satu-satunya pendatang
khusus. Liputan langsung TV CNBC dan ABC menegaskan banyak turis
manca negara
yang memang khusus datang ke New York sekedar menikmati 'The
New York Attitude' di Times Square ini.
Itu
berarti masuk Times Square -sama seperti masuk ke Bundaran
HI atau Lapangan Merdeka-- perlu perjuangan kecil yang sekaligus
berarti perencanaan matang untuk memenangkannya. Yang pertama
berangkat seawal mungkin; acara memang jam dua belas malam,
tapi aku sudah berangkat selepas tengah hari. Di dalam kereta
akupun berjmupa dengan gerombolan pejuang lain, persis kayak
rombongan dari Pulau Samosir di pelabuhan Belawan yang mengantarkan
anaknya yang mau merantau ke Jawa.
Lengkap.
Ada yang bawa selimut, keripik, bir, tustel, dan alat-alat perang
seperti topi, sarung tangan, mantel, terompet, dan lain-lain.
Terlambat sikit sudah tidak dikasih masuk lagi. Jam empat sore
saja banyak jalan yang ditutup. Dan sekali awak masuk ke wilayah
dalam, payah pula kalau mau coba ke luar lagi. Makin malam penghalang
makin ditambah dan ruang gerak makin kecil. Aku beruntung masuk
kelompok pejuang yang menang, dan pas jam tujuh malam aku sudah
dimuka bola kristal, yang dari tempat berdiriku cuma sebesar
bola kaki. Dimana-mana, di antara penghalang dan polisi banyak
panggung panggung musik, yang ini sama juga dengan pentas dangdut
malam tahun baru di kampung awak. Bedanya, yang ini kelas dunia
dengan Bon Jovi, misalnya, cuma sudah lihatnya jauh, itupun dari
layar monitor.
Makin
malam, makin berjubel. Mulai dari yang sopan sampe yang setengah
gila. Warna-warni, kecuali eksibisionis yang tidak ada karena
suhu dingin. ''Gila juga,'' kupikir. Menahan kencing berjam-jam,
capek ditambah melawan dingin yang membeku hanya untuk menunggu
jatuhnya bola kristal itu pada pukul sebelas malam lewat lima
puluh sembilan menit lima puluh detik. Ya, puncak acara hanya
sepuluh detik sampai ke jam dua belas pas. Jam sebelas malam,
mulai dibagikan topi, rumbai-rumbai, dan terompet gratis pemberian
kota New York. Tahun ini walikota didampingi tamu kehormatan
si petinju legendaris 'Mulut Besar' Muhammad Ali, yang tampil
gemetar karena Parkinsonnya. Selama menunggu puncaknya yang nantinya
Cuma sepuluh detik itu, minuman jalan terus dan polisi patroli
terus. Persis seperti di film-film, begitu ada tanda tanda tak
enak, diangkatlah langsung yang diduga bakal mengganggu itu.
Digari dan hilang dari peredaran massa.
Terus 60 detik
menjelang peralihan, seluruh massa yang memadati jalan di
sekitar Times Square menjerit menghitung. Jelas tak semua
orang bisa melihat turunnya bola kristal, tapi ada bantuan
kamera ke berbagai layar monitor. Akupun histeris memulai
hitungan mundur 10, dan Auld Lang Syne yang memaknakan usainya
sesuatu terdengar lebih mengharukan. Yang bercium, ya berciumlah.
Yang minum, minum terus karena pesta berlanjut terus di semua
panggun. Selepas tengah malam itu New York larut menyambut
tahun baru 2001.
Esoknya New York
kembali menampilkan wajah tipikal kota besar yang habis berpesta,
atau seperti sebuah gereja pada hari Senin pagi di masa liburan
anak sekolah. Kota yang nyaris mati. Salju dibiarkan menumpuk
di berbagai tempat. Kotor. Mungkin justru inilah wajah asli
New York, bukan seperti yang terlihat di film-film maupun
kartu natal. Sisa botol minuman keras bercampur muntahan
orang mabuk sama sekali tidak menyisakan tempat untuk spirit
apapun sebagai bekal di hari pertama tahun atau millennium
baru.
Hari itu aku
yakin perpindahan waktu sama saja dimanapun juga. Di Porsea,
di Jakarta, di New York, waktu tetap adalah waktu, yang belum
tertaklukkan manusia. Bagaimanapun menjalani histeria dan
keharuan diantara berjuta orang tetap meninggalkan perasaan
unik. Apalagi di New York, di ibukota dunia. Kelak suatu
saat aku bisa berkata, 'Aku pernah rasakan 'The New York
Attitude' di Times Square.
***
Madison,
USA
14
Januariy 2001, setelah sisa-sisa New York Attitude terkikis
habis dan hidup normal kembali
situs
nir-laba untuk karya
tulis
ceritanet
kirim
tulisan
©listonpsiregar2000
|