sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 2, Senin 15 Januari 2001

 

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

cerpen Mencari Arti
Yusuf Arifin

Dimanakah engkau Arti? Sudah habis kutelusuri pelosok kota ini. Namun hanya bayangmu dipelupuk mataku yang senantiasa tampak. Sementara engkau raib lenyap tiada isyarat. 'Temui aku di kota kita pernah mengikat janji. Hidupku tak jauh dari surau, langgar ataupun masjid,' begitu ucapmu saat kau memutuskan untuk berpisah dariku.

Terpana dengan keputusanmu aku mengiyakan. Cinta yang membakar membuatku mati rasa. Kesedihan yang amat sangat membuatku lupa bertanya mengapa engkau harus pergi. Satu pertanyaan yang dulu tak kutanyakan itu sekarang sudah bertambah menjadi ribuan pertanyaan. Dan kini setiap kali kuintip wajah-wajah dibalik kerudung putih itu-selalu bukan wajahmu yang tertangkap--setiap kali pertanyaan itu bertambah. (Sangat susah untuk menemukan alasan mengintip wajah di balik kerudung di dalam masjid untuk aku yang laki-laki.)

'Arti namaku. Hanya Arti. Tak tahu mengapa demikian.' Perkenalan yang aneh. Kau tiba-tiba saja ada di hadapanku memperkenalkan diri. Bahkan mengapa namamu Arti pun tak pernah aku tanyakan, apalagi aku bahas. Entah mengapa aku menerimamu begitu saja dan tak pernah bisa lagi melepaskanmu. Mirip kesadaran tiba-tiba manusia akan keberadaan waktu yang kemudian mengungkungnya. Sejak perkenalan itu, seperti katamu kemudian, pagi menjadi lebih benderang.

Tentu saja kemudian kita berpacaran. Saling merayu. Merajuk. Walau kita malu mengakuinya secara terbuka, juga berciuman. Bahkan berulang-ulang kali.

Dimanakah engkau Arti? Tahukah engkau kalau aku berada di kotamu, kotaku, kota tempat kita mengikat janji? Tahukah engkau kalau aku mencari-carimu? Benarkah kau ada di sini?

Pernah sebenarnya aku datangi orang yang mengenal kita berdua di kota ini. Kalau-kalau ada yang pernah bersimpang denganmu. Tak ada gunanya. Ingat nama kita berdua saja mereka tidak. Dengan penuh keheranan mereka memandangku, seolah bertanya bukankah baru kali ini kita bertemu? Ini yang sering membuatku ragu, jangan-jangan engkau, Arti, hanya mimpiku.

"Kita sedang bermimpi."
"Mengapa?"
"Karena kita bahagia."
"Lalu?"
"Tidakkah kau mengerti? Kebahagiaan membuat waktu menjadi relatif, nisbi. Tak ada ujung tak ada pangkal. Waktu berjalan lebih cepat dari seharusnya. Satu hari terasa satu jam. Satu tahun lewat tanpa kau sempat catat apa yang sudah kau lakukan. Wuussss, seperti kalau kita bermimpi. Kerangka waktu adalah yang pertama kali tidak berlaku."

Berapa tahun usia perkawinan kita Arti? Pagi lebih benderang dibandingkan saat kita berpacaran. Waktu seperti terbang memayungi kita yang sedang bermimpi. Sungguh mengherankan bahwa kemudian hanya ada satu kebiasaan yang aku ingat dari masa perkawinan kita.

Ingatkah kau Arti, setiap malam bulan purnama kita suka berjalan-jalan tanpa tujuan. Hanya berdua. Kadang-kadang kita kemudian duduk hingga pagi memandangi rembulan kuning pucat di taman kota. (Satu-satunya taman yang ada di kota kita.) Atau kita sekadar duduk-duduk pinggir sungai dengan pasirnya yang lembut berebutan menggelitik kaki telanjang kita. Aku tak pernah mengerti mengapa tak pernah kita temui satu ularpun yang biasanya keluar malam-malam bermalas-malasan di tebing sungai. Mereka sepertinya menyingkir memberi kesempatan kepada kita atau kepadamu lebih tepatnya untuk menikmati sungai itu.

"Sentuhlah embun pagi ini. Bisakah kau rasakan?, inilah hasil persetubuhan alam yang sempurna. Betapa murninya."

Aku tak mengerti maksudmu, tetapi tentu saja aku lakukan apa yang kau minta. Toh tak ada ruginya menuruti permintaanmu. Ada sebuah rasa dingin yang menyentuh, terasa hingga ke tulang belakangku.

Ya. Untuk mencarimu juga aku datangi taman itu. Menunggumu. Tetapi mengapa banyak sekali gelandangan yang memenuhi taman itu? Apakah mereka dulu juga menyingkir waktu kita masih sering ke sana ataukah karena engkau aku dulu tak merasakan kehadiran mereka. Dan ular. Di pinggir sungai tempat kita dulu sering melewatkan malam, aku temui ratusan jenis ular yang membuatku bergidik untuk sekadar mendekatinya.

Dimanakah kau Arti? Masih adakah waktumu untuk mengingatku? Atau aku sudah teronggok menjadi sampah sejarah masa lalumu?

Aku masih mencarimu diantara ratusan pamflet puisi yang tercipta dari bayangmu, yang kutempelkan di seluruh kota. Dimanakah kau Arti? Sesaat saja aku ingin bertemu.

London, Awal Januari 2001

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000