Dimanakah engkau
Arti? Sudah habis kutelusuri pelosok kota ini. Namun hanya bayangmu
dipelupuk mataku yang senantiasa tampak. Sementara engkau raib
lenyap tiada isyarat. 'Temui aku di kota kita pernah mengikat
janji. Hidupku tak jauh dari surau, langgar ataupun masjid,'
begitu ucapmu saat kau memutuskan untuk berpisah dariku.
Terpana dengan keputusanmu aku mengiyakan. Cinta yang membakar membuatku
mati rasa. Kesedihan yang amat sangat membuatku lupa bertanya mengapa
engkau harus pergi. Satu pertanyaan yang dulu tak kutanyakan itu sekarang
sudah bertambah menjadi ribuan pertanyaan. Dan kini setiap kali kuintip
wajah-wajah dibalik kerudung putih itu-selalu bukan wajahmu yang tertangkap--setiap
kali pertanyaan itu bertambah. (Sangat susah untuk menemukan alasan mengintip
wajah di balik kerudung di dalam masjid untuk aku yang laki-laki.)
'Arti namaku. Hanya
Arti. Tak tahu mengapa demikian.' Perkenalan yang aneh. Kau tiba-tiba
saja ada di hadapanku memperkenalkan diri. Bahkan mengapa namamu
Arti pun tak pernah aku tanyakan, apalagi aku bahas. Entah mengapa
aku menerimamu begitu saja dan tak pernah bisa lagi melepaskanmu.
Mirip kesadaran tiba-tiba manusia akan keberadaan waktu yang
kemudian mengungkungnya. Sejak perkenalan itu, seperti katamu
kemudian, pagi menjadi lebih benderang.
Tentu saja kemudian
kita berpacaran. Saling merayu. Merajuk. Walau kita malu mengakuinya
secara terbuka, juga berciuman. Bahkan berulang-ulang kali.
Dimanakah engkau
Arti? Tahukah engkau kalau aku berada di kotamu, kotaku, kota
tempat kita mengikat janji? Tahukah engkau kalau aku mencari-carimu?
Benarkah kau ada di sini?
Pernah
sebenarnya aku datangi orang yang mengenal kita berdua di kota
ini. Kalau-kalau ada yang pernah bersimpang denganmu. Tak ada
gunanya. Ingat nama kita berdua saja mereka tidak. Dengan penuh
keheranan mereka memandangku, seolah bertanya bukankah baru kali
ini kita bertemu? Ini yang sering membuatku ragu, jangan-jangan
engkau, Arti, hanya mimpiku.
"Kita sedang
bermimpi."
"Mengapa?"
"Karena kita bahagia."
"Lalu?"
"Tidakkah kau mengerti? Kebahagiaan membuat waktu menjadi relatif, nisbi.
Tak ada ujung tak ada pangkal. Waktu berjalan lebih cepat dari seharusnya. Satu
hari terasa satu jam. Satu tahun lewat tanpa kau sempat catat apa yang sudah
kau lakukan. Wuussss, seperti kalau kita bermimpi. Kerangka waktu adalah yang
pertama kali tidak berlaku."
Berapa tahun usia
perkawinan kita Arti? Pagi lebih benderang dibandingkan saat
kita berpacaran. Waktu seperti terbang memayungi kita yang sedang
bermimpi. Sungguh mengherankan bahwa kemudian hanya ada satu
kebiasaan yang aku ingat dari masa perkawinan kita.
Ingatkah kau Arti,
setiap malam bulan purnama kita suka berjalan-jalan tanpa tujuan.
Hanya berdua. Kadang-kadang kita kemudian duduk hingga pagi memandangi
rembulan kuning pucat di taman kota. (Satu-satunya taman yang
ada di kota kita.) Atau kita sekadar duduk-duduk pinggir sungai
dengan pasirnya yang lembut berebutan menggelitik kaki telanjang
kita. Aku tak pernah mengerti mengapa tak pernah kita temui satu
ularpun yang biasanya keluar malam-malam bermalas-malasan di
tebing sungai. Mereka sepertinya menyingkir memberi kesempatan
kepada kita atau kepadamu lebih tepatnya untuk menikmati sungai
itu.
"Sentuhlah
embun pagi ini. Bisakah kau rasakan?, inilah hasil persetubuhan
alam yang sempurna. Betapa murninya."
Aku tak mengerti
maksudmu, tetapi tentu saja aku lakukan apa yang kau minta. Toh
tak ada ruginya menuruti permintaanmu. Ada sebuah rasa dingin
yang menyentuh, terasa hingga ke tulang belakangku.
Ya. Untuk mencarimu
juga aku datangi taman itu. Menunggumu. Tetapi mengapa banyak
sekali gelandangan yang memenuhi taman itu? Apakah mereka dulu
juga menyingkir waktu kita masih sering ke sana ataukah karena
engkau aku dulu tak merasakan kehadiran mereka. Dan ular. Di
pinggir sungai tempat kita dulu sering melewatkan malam, aku
temui ratusan jenis ular yang membuatku bergidik untuk sekadar
mendekatinya.
Dimanakah kau Arti?
Masih adakah waktumu untuk mengingatku? Atau aku sudah teronggok
menjadi sampah sejarah masa lalumu?
Aku masih mencarimu
diantara ratusan pamflet puisi yang tercipta dari bayangmu, yang
kutempelkan di seluruh kota. Dimanakah kau Arti? Sesaat saja
aku ingin bertemu.