|
edisi
2, Senin 15 Januari 2001
ceritanet
situs
nir-laba untuk berbagi karya tulis
esei Aremania
Itu Apa
Heyder
Affan
Mengenang
suatu siang, jauh di belakang sana, pada hari-hari awal masa
Kampanye Pemilu 1992 di sekitar alun-alun bunderan Malang.
Iring-iringan simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
dengan seragam serba hijau berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk
gambar bintang. Ada nada marah di wajah mereka, juga dendam.
Pemilu 1992 memang masih sekedar sandiwara, tak perduli dukungan
sebesar apapun sudah jelas Golkar menang mutlak. Dan pawai
kampanye jadi salah satu ajang pelampiasan kekesalan, seperti
terlihat dari iringan massa PPP. Di pinggir, orang-orang menyambut
riang, seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Hanya sekian
menit kemudian mendadak wajah mereka berubah pucat, tatkala
dari arah berlawanan muncul pula arak-arakan Golkar, berwarna
kuning dan lambang pohon beringin; musuh bebuyutan!
"Wah,
ruwet iki pasti tawuran," celutuk mereka yang di pinggir jalan
sambil beranjak menjauh dari kemungkinan bentrokan. Semakin
mendekat arak-arakan, aroma amuk pun terasa menyebar. Kedua
gerombolan pasang kuda-kuda. Besi, pentungan, batu, rantai,
sudah ditangan. Hujatan, cacian dan provokasi mulai keluar. "Golkar
keat, dancuk!" PPP bedes! Kerek!"
Seperti
diduga, batu-batu melayang. Bagaimanapun dalam situasi chaostik
itu, masih ada yang berupaya tetap dingin --turun dari truk
dan melerai massa masing-masing. "Hop, hop! (berhenti,berhenti!)
Dancuk, keat kabeh! (Dancuk, semua tai!) Iki podo Ngalam, podo
Arema, kok tarung! (Sesama warga Kota Malang, sesama Arema,
kok berkelahi!) Ayo salaman!" Suasana amok mencair drastis.
'Arema' rupanya bertuah, punya magis, seperti imam yang harus
dipatuhi. 'Arema' menyebar senyum, menggali kekerabatan dan
kedua rombongan melanjutkan perjalanan, seolah tidak ada lagi
tarung kepentingan politik. Arema?
***
Arema;
Arek Malang atau anak Malang. Sedangkan Ngalam kebalikan Malang,
kota yang tak begitu kecil dan tak begitu besar, penghasil apel
hijau yang asem-asem manis, dan dulu pernah bercuaca amat sejuk.
Malang, hanya sekitar satu jam perjalanan dari Ibukota Propinsi
Jawa Timur, Surabaya, namun menempatkan jurang yang cukup jauh
dalam karakter komunitas, paling tidak komunitas anak muda.
Semula
Arema digunakan sebagai identitas anak-anak muda asal Malang pada
tahun 70-an dan awal 80-an, khususnya bagi yang merantau Jakarta
atau kota-kota besar lainnya. Istilah itu juga akrab di kalangan
geng-geng anak muda Malang, yang saat itu sedang menggejala. Belakangan,
kata Arema dipakai resmi jadi nama klub sepakbola profesional Malang
yang didirikan pertengahan tahun 80-an. Pendirinya mantan Gubernur
Irian Jaya, Acub Zainal. Arema makin menjulang, dan menjadi kebanggaan
anak-anak muda di kota, yang dijuluki sebagai kota kaum pensiunan
itu, setelah Arema memenangkan Piala Galatama 1987. Bayangkan betapa
besarnya makna Arema yang terangkat oleh sebuah klub sepakbola
pendatang baru dari sebuah kota ukuran menengah, Malang, yang menjungkirkan
nama-nama besar macam Niac Mitra Surbaya maupun Pelita Jakarta.
Kebesaran
Arema terus terpelihara sampai sekarang. Jangan heran, hampir di
semua sudut kota Malang, termasuk di gang-gang sempitnya, diriuhi
coret-coret logo klub Arema ; singa mengaum dengan dasar biru tua.
''Kegilaan mereka terhadap klub sepakbola kesayangannya, mirip
kegilaan fans sepakbola manca negara,'' ungkap wartawan Kompas,
Putu Fajar Arcana, yang bukan asli Malang, waktu melukiskan ekpresi
penggila bola kota Malang. Dia menulis, "Jangan diragukan lagi
sepakbola bagi masyarakat Malang ibaratnya rokok bagi lelaki. Olahraga
'rakyat' ini menjadi keseharian yang serius. Bahkan dianggap sebagai
ekspresi 'kejantanan'. Bisa jadi penilaian wartawan tadi agak berlebihan,
tapi ada benarnya jika menengok Arema menggelar pertandingan di
Stadion Gajayana, Malang. Stadion yang berkapasitas 17.000 orang
itu dipadati sampai lebih 25.000 orang. Belum lagi, aktivitas pendukung
resminya yang mencapai 25.000, dengan 'perwakilan' yang dapat dijumpai
di Jakarta, Denpasar atau Batam.
Salah
satu contoh konkrit tatkala PS Arema, yang kini dikelola Lucky
Zainal, berhasil melaju ke delapan besar Liga Sepakbola di Stadion
Senayan tahun lalu. Ketimbang penggila peserta delapan besar yang
lain, kehadiran suporter Arema paling semarak penampilannya, sehingga
hampir semua media terbitan Jakarta saat itu mengangkat khusus
gejala itu. Sebuah tabloid mingguan olahraga malah menampilkan
foto ekspresi para Aremania dalam dua halaman penuh. Lebih dari
itu, seorang penggila bola yang melihat lewat layar kaca kecele
mengira ekpresi Aremania di stadion senayan itu adalah penggila
bola asal Inggris. "Tak hanya rancangan kostum yang menarik," tulis
Harian Kompas," tetapi juga lagu-lagu ciptaan mereka sendiri untuk
mengangkat moral timnya."
***
Lantas
apa hubungan antara kejadian di sebuah siang Kampanye Pemilu
1992 dengan Aremania? Ekspresi 'kegilaan' penggemar sepakbola
di Malang jelas bisa terjadi di kota mana saja, terutama di kota-kota
di mana sepakbola dinisbatkan seolah sebagai iman, sebagai agama,
macam di Brazil atau Inggris. Fenomena seperti itu barangkali
juga terlihat di komunitas bola di Makasar, Surabaya, atau Medan.
Namun, tatkala kegilaan itu -- melalui identifikasi Aremania
sepakbola -- menjadi sebuah semacam 'kanalisasi' konflik atau
apalah -yang jelas bisa meredakan konflik-- tentu membuka banyak
penafsiran.
Ada
banyak contoh dari pengaruh langsung identifikasi lewat Arema
dalam meminimalkan bentrokan atau gesekan antar kelompok masyarakat
di Malang. Peredaman seperti kejadian Kampanye Pemilu 1992, antara
Golkar yang super kuat dengan PPP yang merasa tertipu, acap terulang.
Lantas saat kecamuk kerusuhan 1998 yang melanda sejumlah kota-kota
lain, ternyata Malang, yang sudah dipadati pertokoan dengan 48
kampus dan 100.000 mahasiswa, luput dari aksi penjarahan dan
demonstrasi anarkis. "Dengan memakai pendekatan ala Arema," ujar
petinggi kota itu, saat ditanya resep pengamanan. Rupanya, saat
itu ribuan preman dikumpulkan melalui perkumpulan suporter Arema,
dan ditugaskan mengamankan kota. Berhasil. "Fenomena Aremania
berkembang ke arah kepentingan ekonomi, sosial dan politik, dan
bahkan keamanan," komentar sejumlah pengamat sosial atas kejadian
itu.
Tentu
proses identifikasi Aremania tidak begitu saja terjadi tanpa
proses yang panjang. Makin mengentalnya identifikasi itu tak
luput dari penggunaan bahasa walikan (balikan) di antara komunitas
anak-anak muda Malang. Tidak diketahui secara secara persis kapan
kebiasaan bahasa walikan itu dimulai. Ada yang bilang kebiasaan
berbahasa seperti itu dimulai oleh anggota geng-geng Malang pada
awal 70-an. Yang jelas melalui bahasa prokemnya anak-anak Malang,
kata pengamat sosial budaya Universitas Negeri Malang (UM) Dr
Djoko Sardjono, bahasa walikan makin mengentalkan proses identifikasi
Aremania. Bahkan, mengutip Dr Djoko Sardjono, "Aremania sudah
menjadi semacam subkultur, di mana terdapat persamaan emosi yang
guyub di antara komunitas."
Saya
sendiri pernah 'diselamatkan' oleh bahasa walikan khas Malang.
Waktu itu di Stasiun Senen, Jakarta, saya ingin pulang kampung
ke Malang tapi kehabisan tiket dan berdiri bingung di salah satu
pintu masuk gerbong. Tiba-tiba muncul seseorang, berpenampilan
menyeramkan, dan memang menodong saya minta duit. Tahu kalau
dialeknya khas Malang, saya langsung menyergap dengan bahasa
walikan. "Aku kadit ojir, jes!" (Aku tidak punya uang, mas!).
Sekonyong-konyong dia pasang muka manis. Urusan selesai. Bagi
anak-anak Malang, sudah jadi pegangan agar menggunakan bahasa
walikan di kawasan Blok M supaya bebas dari tekanan para preman
asal Malang yang memang banyak berlalu-lalang di sana.
Terhadap
fenomena identifikasi aremania itu, muncul bermacam analisa.
Sebagian pengamat --dengan sedikit genit dan bagi beberapa orang
mungkin terasa berlebihan-- mengkaitkan hal itu secara kultural
dengan fenomena proletar yang disimbolkan dalam diri Ken Arok,
Raja Singosari pertama dari jaman abad ke 12 silam. Bekas kerajaan
Singosari ini terletak di kecamatan Singosari, sekitar lima belas
menit dari Pusat Kota Malang. Kata mereka, latar belakang Ken
Arok adalah raja jelata, dan berhasil memfusikan berbagai kekuatan
para preman, sekaligus para pendeta untuk melawan kerajaan Kediri. "Sepenggal
sejarah itu, paling tidak menjelma dalam spirit Aremania. Paling
tidak terlihat, saat Aremania menjadi benteng kota yang efektif
untuk melawan perusuh saat reformasi bergulir," kata pengamat
budaya Dwi Tjahyono (Kompas, 15 Desember 2000).
Analisa
yang mungkin tergolong standard, dari para sosiolog -yang buat
saya tamatan Ilmu Administrasi Negara Univeristas Brawijaya terasa
masuk akal juga-- adalah bahwa fenomena Aremania disokong oleh
suatu kesadaran bersama (kolektif) atas dasar persamaan emosi
tentang betapa pentingnya melakukan identifikasi. Dan itu ditemukan
anak-anak Malang melalui sebuah permainan sebelas orang dalam
menendang dan merebut sebuah benda bundar. Olahraga khas orang-orang
bawah itu kemudian dibungkus dalam sebuah kata yang sebelumnya
sudah hidup di Malang secara sosial; Arema, dan kemudian dijahit
lebih kuat lagi dengan bahasa walikan. Kaum muda Malang pun identik
dengan sepakbola, Arema, dan bahasa walikan. Itulah dia Aremania.
***
situs
nir-laba untuk karya
tulis ceritanet
kirim
tulisan
©listonpsiregar2000
|