ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 29, Jumat 7 Desember 2001
___________________________________

novel Dokter Zhivago 29
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

Pekerjaannya pada keluarga Kologrivov tidak menghalangi Lara menamatkan sekolahnya dan mulai berkuliah di Universitas. Ia belajar dengan baik, hingga akan berpromosi tahun depan, tahun 1912.

Dalam musim semi tahun 1911 muridnya Lipa lulus sekolah. Ia sudah bertunangan dengan insinyur muda, Friesendank. Keadaannya baik dan asalnya dari keluarga baik-baik. Orang tua Lipa setuju tentang tunangannya, tapi keberatan kalau ia kawin semuda itu. Gadis manja, kesayangan keluarga yang keras kepala itu, membuat gaduh, berteriak-teriak kepada orang-tuanya dan menghentak-hentakkan kakinya.

Di rumah-tangga makmur ini Lara telah diterima sebagai anggota keluarga, hingga tak ada yang mengingatkannya pada hutangnya, ataupun hutang itu memang sudah dilupakan. Ia hendak membayarnya lama sebelum itu, andaikata tak ada pengeluarannya yang rahasia.

Tak setahu Pasha, ia mengirim uang pada ayahnyadi Siberia, menolong ibunya yang pengomel dan serba kekurangan, pun pengeluaran Pasha sendiri dikuranginya dengan membayar sebagian dari ongkos makan dan pemondokannya, langsung ke induk semangnya. Dialah yang mencari kamar untuknya dalam gedung baru di Jalan Kamerger dekat Teater Kesenian.

Pasha yang sedikit lebih muda dari Lara, cinta kegila-gilaan padanya serta menutup tiap keingingannya sekecil-kecilnya. Sehabis mengkhususkan diri dalam ilmu di sekolahan, iapun atas nasehat Lara belajar Bahasa Yunani dan Latin agar memperoleh gelar dalam Kesusasteraan dan Sejarah. Idaman Lara ialah agar setelah masing-masing berpromosi dalam tahun depan, mereka akan nikah dan pergi mengajar di salah satu ibu-kota propinsi di Ural.

Musim panas tahun 1911 Lara untuk akhir kalinya ikut keluarga Kologrivov ke Duplyanka. Tempat itu sangat digemarinya, kesayangannya lebih dari kesayangan para pemiliknya sendiri. Mereka mengerti hal ini maka, tergubahlah suatu kebiasaan. Apabila kererta api kotor lagi panas itu meninggalkan mereka di stasiun dan bagasi sedang dimuatkan ke sebuah kereta, sedang keluarga itu duduk di situ pula sambil mendengarkan sais dari Duplyanka dengan kemeja merahnya dan jas tak berlengan, yang menuturkan kabar setempat semusim itu, maka Lara yang dibuat bungkam oleh kesunyian tamasya yang tak bertepi, yang harum dan lagi bersemadi itu, dia menuju ke rumah dengan mengayun kaki.

Jalanan kecil yang terinjak rata oleh para musafir dan jemaah itu menuruti rel, kemudian melenggok ke ladang-ladang. Di sini Lara berhenti, menutup mata, lalu menyedot sebanyak-banyaknya hawa yang mengantarkan segala bau dari tamasya luas itu. Alam di situ lebih disayanginya daripada kerabatnya, lebih baik dari kekasihnya, lebih bijak dari buku. Sejenak ditemukannya kembali arti hidupnya. Dia ada di bumi untuk memberi isi pada pesonanya yang bergairah dan untuk menyebut tiap hal pada namanya yang tepat, atau jika ini tak dikuasainya, maka demi cinta hidupnya ia hendak melahirkan para ahliwaris yang akan menggantinya untuk berbuat begitu.

Musim panas itu ia tiba-tiba letih oleh banyaknya tugas yang dilakukannya. Ia lekas jengkel, kesal dan cerpat dibuat sakit hati oleh yang remeh temeh. Kepekaannya ini hal yang baru semata-mata, tak sesuai dengan fitratnya yang dulu senantiasa amat lunak lagi lapang.

Keluarga Kologrivov sayang padanya seperti biasa ingin dia tinggal bersama mereka, tapi kini setelah Lipa dewasa, ia mengganggap dirinya berlebih dalam rumah. Ia menolak gajinya. Mereka memaksanya menerima. Waktu itu juga ia memerlukan uangnya, sedangkan tak ada jalan lain untuk mendapatkan uang karena jika ia mencarinya secara pribadi, tapi masih tinggal bersama mereka sebagai tamu, hal itu akan memalukan, pun juga mustahil dalam prakteknya.

Ia yakin bahwa kedudukannya curang, tak tertahankan lagi, maka dikhayalkannya bahwa mereka semua menganggapnya beban dan hanya menunjukkan muka manis padanya. Ia membebani diri sendiri dan dari kaum Kologrivov, secepat dan sejauh ia dapat dibawa oleh kakinya. Tapi menutrut gagasannya ia harus membayar dulu hutangnya, pada hal saat itu ia tak menemukan akal untuk berbuat begitu. Ia merasa sebagai sandera --berkat kesalahan Rodya si tolol itu-- maka ia pun makan hati dengan segala rasa kesalnya yang tak berdaya

Dengan urat syaraf setegang itu tiap kali ia menyangka orang menghinanya. Kalau kawan-kawan kaum Kologrivov menaruh minat padanya, yakinlah ia, mereka memandangnya sebagai 'penumpang' yang penurut serta korban yang gampang diperoleh; kalau mereka tak menegurnya, itu berarti dia terlalu remeh bagi mereka.

Segala kesedihannya tak mencegahnya ikut serta pada kegemaran mereka dengan suka hati. Sepanjang musim panas diadakan pesta-pesta besar di rumah, maka diapun mandi, berperahu dan berpiknik tengah malam di pinggir sungai berdansa dan melepas kembang api bersama orang-orang lain. Dia ikut main dalam sandiwara amatir, bahkan sangat menggemari perlombaan menembak. Dalam perlombaan ini dipergunakan senapan Mauser yang pendek. Pembidikannya bagus, sungguhpun untuk menembak sasaran ia lebih suka pistol Rodya yang enteng. "Sayang aku perempuan," gelaknya. "Aku akan dapat maju sebagai duelis." Namun makin banyak ia melipur diri, makin sedikit ia tahu apa yang dikehendakinya sendiri dan makin celaka rasanya.

Kembali ke kota sehabis liburan, keadaannya tambah buruk, sebab pada segala kesukarannya itu kini dibubuhkan tengkar selisihnya dengan Pasha (ia menjaga dengan hati-hati supaya tak sungguh-sungguh bertengkar dengannya; dipandangnya dia sebagai tempat berlindung yang terakhir). Pasha mulai menunjukkan semacam kepercayaan diri. Percakapannya menjadi sedikit menggurui, hal yang menggelikan baginya, tapi juga menganggu.

Pasha, Lipa, Keluarga Kologrivov, uang --semua kesulitannya berpusing-pusing dalam otaknya. Ia jemu dan mual dengan kehidupan. Hidup membuatnya kegila-gilaan. Ia ingin melepaskan segala hal yang pernah dikenal atau dialaminya, tapi malah dimulainya sesuatu yang sama sekali baru dan belum dicoba. Dengan perasaan demikian tibalah ia pada putusan berbahaya pada Hari Natal Tahun 1911. Ia hendak meninggalkan keluarga Kologrivov sekarang, seketika itu, ia akan berdiri sendiri, maka untuk itu ia akan meminta uang pada Komarovsky. Dia berpikir bahwa sesudah semua kejadian antara mereka serta tahun-tahun kebebasan yang direbutnya untuk diri sendiri itu, Komarovsky harus menolongnya secara satria, tanpa tuntutan, keterangan atau syarat.

Dibekali gagasan demikian, berangkatlah ia ke Jalan Petrovka, malam hari tanggal 27. Pistol Rodya yang terisi dan berpasak, disimpannya dalam mofnya. Kalau Komarovsky menolak atau menghinanya dengan cara apapun, ia akan menembaknya.

Berjalanlah ia dilebuh-lebuh yang berdandan ria dengan hati yang amat rusuh, tak melihat, tak menyadari apa-apa kecuali adanya tembakan pistol yang sudah meletup dalam hatinya --dan dalam hatinya ia sama sekali tak mengacuhkan siapa yang akan disasari tembakannya. Tembakan itu didengarnya sepanjang jalan Petrovka, terbidik pada Komarovsky dan pada dirinya sendiri, pada nasibnya serta sasaran kayu di pohon jati atas padang rumput Duplyanka.
***

ceritanet©listonpsiregar2000