ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 29, Jumat 7 Desember 2001
___________________________________
sajak
Patung
Penari
Arie
MP Tamba
Lalu
kau bertanya
tentang
lentik jemari
melecut
angin
Kisah
senja berdarah
tersingkap
gelombang
rambut
di
balik kain hitam
Hingga
tubuh menggigil
terkenang kemarin
rindukan
kau
Bersama
mimpi tengadah
menyusu
buah
dada bintang purba
Di
antara
kedua
telapak
gelas
terjatuh
menjelma
kemuraman
patung
dibasah
hujan
Seseorang
melangkah lentur
di
celah luka
dan
debar fana
Maka
menarilah
menghentak perlambang
pada
setiap langkah
cahaya
berkibaran
Maka
menarilah
membangunkan
esok
berupa
degup
samudera
pagi
merah
Hingga
ruang dan waktu
menjelma
segurat
impian
Dan
patung penari
membiarkan
tubuh
beringsut
dari
batu berlumut
Tangisan
menepi hampa
kisah
kepergian
menghampar
tiba
Kupu-kupu
bersayap
gelap
membentur
lengan
hinggap
di tangan
penari
melanda
bosan
Hingga
kemurkaan
teriris
alis
sendiri
Di antara
bulan berlompatan
menjumlah
perih
di halaman
Bersama musik
menyuruk gelap
mengulangi tarian gagal
Ketika para penari
memandang luka
membatu
di dada
kehilangan tutur
malam keseribu
Bahwa kelahiran
menautkan sunyi
pada bibir penari
hingga tarian
mendamba lentur
sia-sia
biar menyetubuhi
gerak sendiri
dalam gulungan
selendang
menderu lunak
Ketika terjamah
patung penari
menahan gigil
Menatap
mimpi-mimpi
berguguran
di jemari sendiri
***ceritanet©listonpsiregar2000