ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 29, Jumat 7 Desember 2001
___________________________________


esei
Muslim Tanpa Masjid?
Catatan Kritis untuk Dr. Kuntowijoyo
M. Najib Azca

Dalam buku kumpulan artikel terbarunya terbitan Mizan (2001), cendekiawan muslim Dr. Kuntowijoyo kembali menyuguhkan sejumlah ide cerdas dan menarik seputar Islam dan umat Islam. Salah satu gagasan orisinal Kunto adalah tesisnya mengenai lahirnya generasi baru di kalangan umat Islam yang disebutnya sebagai generasi 'Muslim Tanpa Masjid' --yang kemudian dipilih menjadi tajuk buku tersebut.

Sebagai narasi pembuka artikel yang menarik --yang juga dikutip di sampul belakang buku itu-- Kunto menulis; "Generasi baru Muslim telah lahir dari rahim sejarah, tanpa kehadiran sang ayah, tidak ditunggui oleh saudara-saudaranya. Bahkan kelahirannya tidak terdengar oleh Muslim yang lain." Diawali dengan paparan ringkas fragmen sesaat setelah kejatuhan Soeharto yang disambut oleh para aktivis mahasiswa dengan sujud syukur, yang menandakan kemusliman mereka, namun segera diikuti oleh sikap penolakan mereka terhadap figur BJ Habibie, yang menurutnya merupakan 'lambang golongan Islam,' Kunto menengarai momen kelahiran lapisan generasi baru muslim tersebut.

Karakter utama generasi baru Muslim tersebut, dalam amatan Kunto, adalah mereka merasa bukan bagian dari umat; mereka lebih merasa sebagai bagian dari mahasiswa ketimbang umat; reference group mereka adalah mahasiswa, bukan umat. Salah satu indikasi perasaan non-umat itu, menurut Kunto, adalah keberanian mereka untuk melanggar konsensus umat melalui Kongres Umat Islam (KUI) pada waktu itu (1998) untuk mendukung Sidang Istimewa (SI) MPR.

Menyebut fenomena generasi baru 'Muslim tanpa masjid' itu sebagai gejala perkotaan, Kunto melacak jejak kelahirannya sebagai buah dari proses perubahan sosiohistoris umat Islam terutama di masa Orde Baru. Mereka lebih banyak dibesarkan oleh suasana keagamaan Islam di sekolah, baik melalui pendidikan agama maupun oleh seksi kerohanian Islam, ketimbang oleh masjid. Karena itulah, menurutnya, wajar jika merasa terasing dari umat. Lebih lanjut, sumber pengetahuan keagamaan mereka bukannya lembaga-lembaga keagamaan konvensional seperti masjid, pesantren, dan madrasah, atau perorangan seperti dai, ustadz, kiai, dan sebagainya, melainkan melalui sumber-sumber anonim seperti radio, majalah, CD, VCD, internet, televisi, dan sebagainya.

Menyimak ide Kunto mengenai generasi baru 'Muslim tanpa masjid' dan latar sosial historis yang melatarbelakanginya, saya ingin mengajukan sejumlah catatan kritis. Pertama, ada bias modernis dalam penggunaan label umat pada tulisan itu. Kedua, kurang diperhitungkannya kelahiran lapisan baru umat itu sebagai bagian dari ketegangan internal di kalangan kaum santri. Dengan kata lain, luput diperhatikan adanya arus ketidakpuasan atau bahkan perlawanan terhadap konservatisme dan monolitisme 'masjid' sebagai simbolisme pelembagaan keagamaan Islam. Pada bagian berikutnya, tulisan singkat ini hendak mengajukan kerangka pemikiran yang berbeda dalam menjelaskan fenomena kelahiran generasi baru umat Islam itu.

Bias Modernis
Atmosfer dan bias modernis terasa cukup kuat dalam tulisan Kunto tersebut, khususnya dalam penggunaan label 'umat.' Misalnya penyebutan Habibie sebagai 'lambang golongan Islam,' tak pelak lagi, mengandung bias modernis atau lebih spesifik lagi bias ICMI (Ikatan Cendekiawan Musim se-Indonesia). Sebab jelas tak semua segmen umat merasa terwakili oleh figur pakar aeronatika lulusan Jerman yang menjadi Ketua Umum ICMI tersebut sebagai tokoh Islam. Salah satu segmen penting umat yang secara terbuka tidak merasa terwakili oleh Habibie sebagai tokoh Islam adalah kalangan 'tradisionalis' Nahdlatul Ulama (NU) di bawah kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Bahkan jika hendak menggunakan definisi yang lebih inklusif terhadap 'umat', ada segmen penting lainnya yaitu kaum 'Muslim Nasionalis,' yang secara terbuka maupun tertutup menyatakan penolakannya terhadap tampilnya Habibie sebagai tokoh Islam.

Bias serupa juga muncul ketika Kunto mengidentikkan suara KUI sebagai suara umat Islam. Melakukan penyamaan suara KUI dengan suara umat Islam jelas mengandung reduksi yang serius terhadap kenyataan pluralisme umat. Meskipun harus diakui KUI merangkum berbagai kalangan umat Islam yang cukup beragam, namun sulit untuk disimpulkan bahwa semua segmen utama umat Islam terwakili dalam KUI. Kalangan Muslim tradisionalis serta kaum Muslim nasionalis lagi-lagi sulit untuk disebut sebagai terwakili dalam forum yang dimotori oleh kalangan ICMI tersebut.

Sebelumnya ingin dicatat bahwa penggunaan terminologi Muslim modernis, tradisionalis maupun nasionalis memang mengandung sejumlah kerumitan. Diakui terdapat kekaburan dalam kategorisasi umat Islam dengan cara tersebut, terutama oleh kecenderungan pembauran dan bahkan konvergensi khususnya pada generasi baru umat Islam. Namun tak kurang gunanya untuk membedakan tiga kategori umat Islam tersebut dalam kerangka analisis, khususnya untuk mengenali perbedaan latar belakang kultural-ideologisnya. Penggunaan terminologi itu dalam tulisan ini berguna untuk menandai adanya kecenderungan bias 'kelompok' dalam tulisan tersebut.

Otokritik Terhadap 'Masjid'
Kunto menjelaskan munculnya fenomena generasi baru 'Muslim tanpa masjid' sebagai gejala sosiologis dari lapisan dan kelompok muslim baru yang tidak banyak tersentuh oleh masjid dan lembaga-lembaga Islam lainnya. Bagi saya penjelasan Kunto tersebut hanya separuh benar. Dari jurusan lain, Kunto kurang memperhitungkan kemungkinannya sebagai 'perlawanan budaya' dari mereka yang berasal dari lingkaran inti umat Islam sendiri terhadap kelembagaan keagamaan di kalangan umat Islam.

Dengan melihat generasi baru muslim tersebut sebagai lapisan dan kelompok yang 'kurang tersentuh' oleh masjid dan lembaga-lembaga keagamaan Islam konvensional lainnya, Kunto secara tidak langsung membaca bahwa asal usul sosio-kultural mereka adalah dari lapisan 'luar' dari umat Islam (abangan). Kunto luput memperhatikan kemungkinan bahwa asal-usul sosio-kultural sebagian dari mereka justru dari lapisan 'dalam' umat Islam sendiri alias kaum santri.

Dengan kata lain, fenomena tersebut bisa juga dibaca sebagai otokritik dan potret perlawanan budaya terhadap lembaga-lembaga keagamaan yang hidup di kalangan umat Islam. Kemungkinan ini perlu dipertimbangkan dengan melihat bahwa bahwa sebagian dari kalangan yang 'tidak merasa sebagai bagian dari umat' tersebut ternyata berlatar belakang santri. Adalah menarik bahwa sejumlah tokoh penting di lembaga kemahasiswaan radikal seperti Forkot, Famred, PRD dan sejenisnya, ternyata berasal dari kalangan santri, bahkan lulusan pondok pesantren. Sekadar contoh bisa disebut sejumlah nama seperti Andi Arief, Faisol Reza (PRD), Burhan (Famred) dan Mixil (Forkot) ternyata berlatar belakang santri. Bahkan Ketua Umum PRD Budiman Sudjatmiko pun menjalani pendidikan di SMA Muhammadiyah Yogyakarta.

Dengan kata lain, bisa jadi yang berlangsung bukannya sekadar munculnya generasi baru Muslim 'tanpa masjid' melainkan juga barisan baru Muslim 'meninggalkan masjid.' Maksud meninggalkan masjid disini tidak dalam arti secara fisik (meskipun bisa juga terjadi demikian) namun lebih dalam pengertian simbolik, dalam arti mereka menolak dan meninggalkan masjid dan ormas-ormas Islam lainnya sebagai reference group maupun sebagai basis ideologis dan operasional gerakan mereka.

Langkah penolakan mereka terhadap masjid dan lembaga keagamaan Islam lainnya sebenarnya bisa dilihat sebagai bentuk otokritik terhadap masjid dan lembaga-lembaga kesagamaan Islam lainnya dalam dua hal: pertama, ketiadaan perhatian dan pemihakan yang tegas terhadap kaum lemah dan tertindas semisal kaum buruh dan petani serta, kedua, penampilan dan penyikapan yang ekslusif dan tidak simpatik terhadap kelompok dan umat beragama lain.

Wujud dari otokritik dan perlawanan terhadap gejala pertama muncul dalam keterlibatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang menjadikan isu pembelaan terhadap kaum buruh dan petani sebagai basis gerakan. Wujud dari otokritik dan perlawanan terhadap gejala kedua muncul dalam keterlibatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang bersifat lintas golongan-agama. Bisa dilihat lembaga-lembaga yang dipilih oleh mereka yang disebut sebagai 'Muslim tanpa masjid' tersebut pada umumnya bersifat populis dan pluralis.

Kemunculan ICMI yang di mata sebagian kalangan umat Islam dirayakan sebagai 'kemenangan umat Islam' bagi mereka lebih merupakan 'kemunduran dan gejala konservatisme umat Islam.' Pendirian lembaga cendekiawan muslim yang menyandarkan diri dan memerlukan payung dari kekuasaan tiranik Soeharto bagi mereka merupakan cacat bawaan yang serius dan sulit untuk ditolerir. Melakukan persekutuan politik dengan rezim otoriter yang bertanggung jawab terhadap marjinalisasi kaum buruh dan petani di mata mereka jelas bertentangan dengan spirit Islam yang membela kaum lemah dan terindas. Dari jurusan lain, kehadiran ICMI juga dianggap mereka membuat pengkotakan keagamaan yang semakin mempersenjang jarak dengan umat dan golongan lain.

Meninggalkan Masjid
Dari beberapa catatan tersebut, tesis generasi baru 'Muslim tanpa masjid' kiranya bisa dilihat sebagai sebuah analisis yang menekankan pada konteks sosiologis umat namun kurang memperhatikan dinamika internal yang terjadi di kalangan umat itu sendiri. Analisis lain yang coba ditawarkan oleh tulisan ini ingin memberikan perhatian pada dinamika dan ketegangan intelektual yang terjadi pada lapisan baru umat Islam Indonesia.

Jika tesis 'Muslim tanpa masjid' oleh Kunto diikuti dengan rekomendasi kepada lembaga-lembaga keagamaan Islam seperti ormas Islam, masjid dan jamaah kampus untuk mendekatkan diri dan mengintegrasikan mereka kepada umat, maka tesis 'Muslim menolak masjid' mensusgestikan kepada ormas Islam dan lembaga-lembaga keagamaan Islam lainnya untuk mentrasformasi diri sehingga menjadi lebih hirau pada isu-isu kaum marginal seperti kaum buruh dan petani, serta menampilkan wajah yang lebih simpatik kepada umat dan golongan lain.

Jika masjid dan lembaga-lembaga keagamaan Islam lainnya gagal melakukan ikhtiar transformasi diri sehingga menjadi lebih peduli pada isu-isu populis dan apresiatif terhadap pluralisme, bukan mustahil makin banyak putera-puteri terbaik umat Islam akan memilih jalan 'meninggalkan masjid'…..
***

ceritanet©listonpsiregar2000