ceritanet situs karya tulis - edisi 299, april 2020                                           Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

catatan 205 Tahun Letusan Tambora
Ibnu Dpu

Gagah berdiri di antara Teluk Sanggar di Utara dan Teluk Saleh di Selatan, Gunung Tambora setia menyapa warga Pekat di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Dari jendela, setiap pagi penduduk Kecamatan Pekat menikmati keindahan Tambora, di bawah kabut asap dan embun yang basah.   

Walau Gunung Tambora baru ditetapkan sebagai geopark nasional pada November 2017, para pendaki domestik dan mancanegara sudah sejak dulu menginjakkan kaki di puncaknya. Dengan ketinggian sekitar 2850 meter, di puncak Tambora terdapat kaldera berdiameter sekitar delapan kilometer dan kedalaman satu kilometer. Kaldera Tambora itu merupakan yang terbesar di Indonesia.

Gunung Tambora

Kaldera itu tercipta 205 tahun lalu, ketika Tambora menggeliat amat keras sampai menggetarkan kawasan Eropa, yang terpisah 12.000-an kilometer. Gunung Tambora mengeluarkan ledakan maha dahsyat sepanjang sejarah modern.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamfford Raffles, dalam memoarnya The History of Java mencatat letusan pertama pada 5 April 1815 terdengar seperti meriam selama 15 menit, dan beberapa letusan berikutnya berlangsung sampai keesokan harinya.

Selanjutnya Raffles menulis ledakan besar itu sempat disangka sebagai meriam yang menyerang pasukannya di Yogyakarta. Sehari kemudian, pada 6 April, sinar matahari tertutup dan hujan abu dalam jumlah kecil pun mulai menyeberangi lautan hingga menyelimuti Pulau Sulawesi hingga sampai ke Gresik di Jawa Timur.

Dalam keterangan lain, ledakan Tambora tercatat juga pada tanggal 10-12 April 1815.

Kisah turun temurun
Konon pada masa sebelum ledakan, seorang ulama Arab dari Bengkulu, Said Idrus, singgah di Tambora untuk berniaga. Ketika pergi ke Masjid, dilihatnya ada seekor anjing di dalam masjid dan menyuruh penjaga Masjid untuk mengusirnya. Si penjaga menjawab raja adalah empunya anjing itu.

Said Idrus berkata, “Siapa yang memasukkan anjing di dalam Masjid, orang itu kafir.

Merasa tak punya kuasa, pergilah si penjaga Masjid mengadu ke Raja Tambora Abdul Gafur, yang tidak tidak terima disebut kafir dan mengeluarkan titah untuk membunuh ulama Arab itu. Maka Said Idrus diundang istana dan mendapat suguhan santapan daging, yang ternyata daging anjing.

Setelah makan daging anjing yang diharamkan dalam Islam, Said berdoa dan dalam sekejap api menyala di gunung, mengejar para pembunuh di kota dan di hutan, di darat, dan di laut. Api berkobar terus selama beberapa hari dan ribuan orang mati.

Kemudian turun hujan abu dan daratan dilanda luapan air laut.

Malapetaka tidak hanya meghantam Tambora, juga menyebar ke daerah-daerah sekitarnya. Dan seluruh daerah menderita kelaparan: orang-orang bermatian dan orang yang selamat menjual dirinya menjadi budak untuk ditukar dengan padi.

Tambora

Letusan mendunia
Letusan hebat Tambora memuntahkan sekitar 100 km kubik vulkanis. Namun ada versi lain yang menyebutkan  total volume yang tersembur dari Gunung Tambora mencapai 150 km kubik atau setara 150 miliar meter kubik. Jika dibandingkan dengan vulkanik erupsi gunung Gunung Merapi pada tahun 2010 -yang hanya mengeluarkan 150 juta meter kubik- maka debu keluaran Gunung Tambora sampai 1.000 kali lebih banyak.

Kepala Badan Geologi Surono tahun 2010 lalu mengatakan ‘Volcanic Eruption Index’ Tambora mencapai skala 7, yang merupakan terbesar dan pertama sepanjang sejarah modern. Sebagai perbandingan Merapi mencapai skala 4, sedangkan Volcanic Eruption Index letusan Krakatau tahun 1883 hanya pada level 6.

Sementara Ilmuwan dan budayawan Amerika Serikat, Gillen D'Arcy Wood, dalam bukunya Tambora: The Eruption That Changed the World  terbitan 2015, menulis letusan Tambora berdampak ke seluruh dunia.

Dampak yang paling terasa adalah perubahan iklim selama tiga tahun, dengan suhu dunia yang semakin dingin dan pola cuaca yang berubah. Perubahan cuaca akibat letusan Gunung Tambora ikut menyebabkan kegagalan panen dan kelaparan di wilayah Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.  
Di wilayah Eropa misalnya, sinar matahari terhalangi menyinari bumi karena aerosol sulfat yang dikeluarkan oleh letusan sempat tertahan di atmosfer. Akibatnya, selama setahun Benua Eropa diselimuti gelap pada musim panas sementara temperatur global kala itu menurun antara 0,4 hingga 0,7 derajat Celcius.

Perubahan pola musim di Eropa akibat Tambora itu kemudian dikenal sebagai 'tahun tanpa musim panas'. Dampaknya atas kegagalan panen menimbulkan kesengsaraan di kalangan masyarakat Eropa, antara lain dengan wabah kelaparan yang membuat sebagian warga terpaksa mengkonsumsi kucing dan tikus.

Sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal geology yang dilakukan oleh Matthew J Genge -peneliti dari Imperial College London- menemukan letusan Tambora membuat terjadinya hujan di seluruh Eropa. Dan cuaca buruk itu dianggap berkontribusi pula terhadap kekalahan an Napoleon Bonaparte dalam pertempuran terakhirnya di Waterloo, Juni 1815.

Banyak yang menulis pada malam sebelum kekalahan di Waterloo, hujan lebat turun dan Napoleon khawatir lumpur akan menghambat prajurit serta artileri sehingga menunda gerak maju pasukan sampai tanahnya kering. Keputusan yang memberi waktu bagi bersatunya kekuatan Prusia (satu negara bagian yang penting di Jerman) dan Inggris untuk memukul telak pasukan Napoleon. Dan cuaca buruk yang dihadapi pasukan Napoleon itu, berdasarkan beberapa studi –antara lain oleh Matthew J Genge- disebabkan oleh letusan gunung berapi di Indonesia beberapa bulan sebelumnya.

Tambora

Gunung Tambora sendiri ikut menderita.

Akibat vulkanik yang terlalu banyak dimuntahkan, gunung itu kehilangan hampir setengah ketinggiannya sehingga hanya tersisa 2.850 meter dari sebelumnya tercatat setinggi 4.300 meter lebih. Sementara material vulkanik yang mengalir ke laut menyebabkan tsunami dengan ketinggian 4 meter, dan deposit jatuhan abunya terekam sampai sejauh 1.300 km dari sumbernya.

Kematian dan kelaparan
Tak ada catatan yang pasti tentang korban jiwa akibat letusan Gunung Tambora, namun ada yang memperkirakan hingga 200.000 jiwa dengan kerusakan fisik yang meluas.

Dalam laporannya kepada Raffles, Letnan Owen Philips -selaku utusan Raffles yang menemui Raja Sanggar- memastikan raja masih hidup dan menjadi saksi bencana. Philips juga menjelaskan kehancuran di sebagian besar wilayah Kerajaan Sanggar di kaki Gunung Tambora.

“Bencana terbesar yang dialami penduduk sangat mengerikan untuk dikisahkan. Mayat-mayat masih bergelimpangan di tepi jalan dan beberapa perkampungan tersapu bersih, rumah-rumah hancur, penduduk yang masih hidup menderita kelaparan,” tulis Phillips.

Laporan Owen kepada Raffles tercantum pada naskah kuno kerajaan Bima Bo Sangaji Kai. Bo merupakan sebuah catatan Kesultanan tentang peristiwa-peristiwa yang dianggap penting waktu itu. Naskah kuno itu menyebut suku di Kerajaan Pekat, Kerajaan Tambora, dan Kerajaan Sanggar  hilang tak tersisa.

Sejumlah catatan lain menyebut material vulkanis dari Gunung Tambora juga menyebabkan gagal panen di Pulau Tambora dan Pulau Bali. Akibatnya sebanyak 100.000 jiwa meninggal di wilayah sekitar Pulau Sumbawa dan 200.000 jiwa secara global. Sedang Clive Oppenheimer, guru besar Vulkanologi di Universitas Cambridge Inggris, menulis sedikitnya 71.000 orang tewas akibat letusan Gunung Tambora dengan perkiraan tertinggi 117.000 jiwa.

Masih ada lagi kematian di negara-negara lain, termasuk di Eropa dan Amerika Serikat, yang didera bencana kelaparan akibat 'tahun tanpa musim panas' yang dipicu semburan abu vulkanis Gunung Tambora.

Letusan dahsyat 205 tahun silam itu mungkin sudah dilupakan banyak warga yang sehari-hari menikmati keindahan Gunung Tambora. Namun  status gunung merapi itu masih aktif, seperti dipastikan salah seorang staf Taman Nasional Tambora, Deny Rahadi. Letusan terakhir Tambora tercatat tahun 1967 lalu, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0, yang berarti tanpa disertai ledakan, dan hingga kini masih tetap tertidur lelap.
***
-. dari berbagai sumber

Tulisan lain

Tentang Yang Tidak Pernah Ada - Victoria Tokareva 3 (Dr. Victor A. Pogadaev)

Nama dan Pertanda - Sitor Situmorang

Ode Untuk Pak D - Firmansyah Evangelia

Sevenoak

Virus Corona, Semangat Kampung, London Pinggiran - Liston P Siregar

Tentang Yang Tidak Pernah Ada - Victoria Tokareva 2 (Dr. Victor A. Pogadaev)

Tuktuk Siadong-Tomok - Sitor Situmorang

vevey

Tentang Yang Tidak Pernah Ada - Victoria Tokareva 1 (Dr. Victor A Pogadaev)

Kapal Sendal - Edwin Anugerah Perdana

Balige - Sitor Situmorang

Bristol

Pelangi Sore Hari di Siguragura Asahan - Sitor Situmorang

Pro-demokrasi? Jangan Pilih Anak dan Mantu Presiden Jokowi - Liston P Siregar

Devon

 

Mau Salam Menyalam, Malah Rempong - Liston P Siregar

Kristus di Danau- Sitor Situmorang

Skotlandia

Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo atau Koalisi Cebong-Kampret? - Liston P Siregar

Tamasya Danau Toba - Sitor Situmorang

Loch Ness

Topografi Danau Toba - Sitor Situmorang

Hikayat Welfie di WA Grup - Liston P Siregar

Cornwall

Setelah Putusan MK: Jokowi Tanpa Politik Dagang Sapi? - Liston P Siregar

Danau Toba - Sitor Situmorang

Inverness

Islam untuk Politik atau Politik untuk Islam ("Enakan Jamanku Toh") - Liston P Siregar

Chairil Anwar Kita - Sapardi Djoko Damono

Lincoln                                                                                                                                        ©listonpsiregar2000