ceritanet situs karya tulis - edisi 298, maret 2020                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

cerpen Tentang Yang Tidak Pernah Ada 2
Victoria Tokareva, diterjemahkan Dr. Victor A. Pogadaev

Tombol dalam otak memang tidak ada, tetapi ada telepati.

Apabila seseorang memikirkan sesuatu terus menerus maka otaknya memancarkan gelombang mampat ke segala arah. Gelombang itu memenuhi flat dan karena tidak bisa termuat sepenuhnya maka keluar lewat jendela. Di luar gelombang itu tersebar ke atas dan ke samping serta bersentuhan dengan antena.

Antena itu berdiri di atas rumah seperti manusia kecil yang dilukis dengan tangan ditadah ke atas. Manusia kecil itu berdiri dengan tangan ditadah dan menerima segala wujud di dunia: kata-kata, musik, dan pikiran. Antena menerima segala wujud di dunia dan melalui pemancarnya menyiarkan ke rumah, kepada orang. Musik dan kata-kata bisa didengar, sedangkan pikiran tidak bisa.

Pikiran tidak bisa didengar tetapi bisa dirasa. Dan sekiranya ada seseorang yang merasa sangat buruk, maka orang lain -bahkan yang duduk di ujung lain dunia- mendadak buruk juga semangatnya.  

Dima berbaring di sofa dan berpikir tentang harimau, di sekitar kepalanya terpancar seperti gas halo yang tidak bisa dilihat.

Pada saat itu terdengar dering telepon. Yang menelpon adalah Vasya, murid sekelas di sekolah dulu dan sekarang ahli geologi. Vasya menyapa dan menceritakan baru pulang dari hutan belantara di Ussuriysk, tempat dia menemukan kerangka tulang mamot dan selain itu, dia juga membawa dari hutan belantara anak harimau kecil sebagai hadiah untuk putrinya. Tetapi istrinya, entah mengapa, tidak suka hadiah itu dan menuntut supaya Vasya menyerahkan anak harimau kepada negara atau kepada orang lain.

Maka terkabul cita-citanya!

Cita-cita Okhrimenko tidak terkabul, dan cita-cita sembilan puluh sembilan persen umat manusia tidak terkabul. Tapi cita-cita Dima terkabul!

Di kamarnya sekarang tinggal anak harimau berkepala besar. Matanya hijau dengan anak mata seperti garis tegak, di sekitar hidung berkulit hitam ada lingkaran-lingkaran hitam dan telinga terpancak di kepala seperti dua tiga segi yang sebangun.

Seharusnya Dima bahagia, tapi dia tidak terlalu merasakan kebahagiaan. Ada keheranan, sedikit semacam kekosongan, tetapi bukan kebahagiaan. Soalnya untuk pertama kali cita-citanya terkabul dan Dima tidak tahu bagaimana mengungkapkannya: dengan keheranan, kekosongan, atau ketenteraman.

Dima turun satu lantai ke bawah dan memencet bel di flat Regina, yang membuka pintu dan memandang suram dari bawah ke atas sambil memegang sapu tangan di hidung.

"Ah, itu kau," katanya kecewa.

Dima dengan senyap membuka ujung jasnya, menunjukaan saku dalamnya dan terlihat sebotol vodka Starka. Regina berbalik dan masuk dalam kamar sementara Dima menutup jas dan mengikutinya. Dari lemari, Regina mengambil gelas-gelas kecil dan pinggan kecil, yang terbuat dari kristal dan berkilap.

"Minum untuk apa?" dia bertanya dan menelan sebiji obat. Regina mengidap alergi dan minum vodka hanya setelah makan obat.
"Untuk cita-cita," saran Dima. 
"Untuk itu saya tidak akan minun," Regina menolak.
"Akan tetapi tidak mungkin hidup tanpa cita-cita."
"Cita-citakanlah, kalau mau," kata Regina, "Aku tidak melarang kau."

Regina minum dan menghembus hidungnya dengan sapu tangan. Mukanya pucat. Dia sangat letih karena banyak membaca manuskrip orang.

Dima juga minum dan merasa gembira.

Apabila seseorang merasa gembira maka dia menjadi lebih baik hati dan berharap berbagi kebahagiaan kepada orang lain. Dima mengharapkan kebahagiaan orang yang dikenalnya dan tidak dikenalnya. Dia hendak membawa kebahagian dalam tas kulitnya dan meninggalkan di setiap rumah, tempat dia dipanggil untuk pertolongan darurat.

Dima pulang. Anak harimau tidur di tengah kamar sambil mengulurkan kakinya. Perutnya turun-naik, segi tiga telinga bergoyang, ketiduran – sepertinya anak harimau itu memimpikan hutan belantara Ussuriysk. Dima melihatnya beberapa saat, lalu mendekati jendela dan menyingsingkan tirai.

Di luar jendela ada gedung-gedung dengan jendela berbagai warna seperti pohon Natal yang dihiasi dengan lampu-lampu. Dan di bawah sekali tampak beberapa bangsal gelap yang hampir tidak bisa dilihat saat senja menjelang malam. Dima berdiri dengan menyandarkan pelipisnya ke rangka jendela dan berpikir dia masih muda dan masih menghadapi banyak tahun kehidupan serta banyak peristiwa dan perjumpaan menarik.

Hari itu adalah hari Ahad dan hari Ahad itu menjadi hari paling berbahagia dalam kehidupannya.

Ujung hari itu agak dirusak oleh ibu. Kasih sayang ibu lebih banyak dibanding orang lain dan ibu juga merusak lebih banyak dibanding orang lain.

"Dima!" panggil ibu tegas dan ketika Dima menoleh mendengar panggilan itu, ibu menudingkan jarinya ke sudut. 

Dima ikuti arah jari dengan matanya dan melihat di sudut, di dekat anak harimau, ada lumpur yang tidak jelas bentuknya.
"Sapulah!" ibu memerintah dan menurunkan jarinya.

Kejadian itu berlebihan dan tidak sesuai dengan seluruh hari dan semangat Dima sebelumnya. Kalau dalam bidang film, misalnya, sutradara bisa masuk kamar pengedit, mengambil gunting dan memotong adegan tersebut. Tapi Dima tidak bisa memotong apa-apa, karena itu dia dengan patuh pergi ke kamar mandi. Di alat pemanas tergantung lap dari bekas celana dan kain karung. Dima memilih lap kain karung.

Dia letakkan lap pada lumpur, memijaknya lalu menggerakkan kaki ke depan dan ke diri. Orang yang duduk di rumah seberang jalan yang melihat Dima dari jendelanya pastilah berpikir Dima sedang menari twist.  
Seusai 'twist' itu Dima mengambil lap dengan dua ujung jari, membawanya ke kamar mandi dan melemparkan di bawah alat pemanas.
Dengan demikian adegan itu bisa berakhir tetapi seorang tetangga lelaki masuk kamar* dan menya:

"Selamat sore!"
"Selamat sore," balas Dima. Dia menyeka tangan dengan handuk. 
"Aku tidak berkeberatan kalau kamu menggunakan lapku," kata tetanggaitu. "Tetapi kalau digunakan maka harus dicuci dan digantung ke tempat dari mana diambil."

Betul. Dima balik ke kamar mandi, mengambil lap dari bawah alat pemanas dan menaruhnya dalam aliran air dingin.
Karena kena air maka lap jadi berwarna coklat tua dan berat. Dima menekan-nekannya dengan jari dan merasa kering dan licin.

"Cuci dengan sabun," nasihat jiran yang dengan sukarela mengikuti Dima dan memberi nasihat kepadanya. 

Dima mengambil sebuku sabun cuci yang terbuat dari daun pohon pinus dan dengan kuat mengeretnya sepanjang lap sehingga ada jalur kuning bekas sabun itu. Air mengalir di atas jalur itu dan di jari-jarinya ada pasir dan batu-batu kecil, entah dari mana.

"Dengan air panas..." tetangga mengarahkan.

Dima membuka air panas, dan tanganya jadi panas, sabun berbusa, air yang mengalir jadi coklat, bak mandi jadi gelap, dan lap jadi terang.

Dima heran dan sekaligus gembira dengan proses itu. Dengan rasa terima kasih dia memandang kepada tetangga dan tidak mau meninggalkan lap tapi mencucinya hingga sabun yang mulanya berbentuk segi empat menjadi bujur. Sesudah Dima menggantung lap di alat pemanas dan menanggalkan baju melalui kepala karena mau tidur, seorang tetangga lain -perempuan- menjenguk melalui pintu. Dia melihat lelaki menanggalkan pakaian dan tidak berani masuk, dia hanya memperlihatkan kepala di celah pintu. Tetangga itu pernah berambut keriting enam bulan tetapi enam bulan sudah lama berlalu dan rambutnya tidak keriting lagi tapi serupa bulu yang disisir.  

Dengan suara yang tidak tinggi dan juga tidak senyap meskipun malam sudah larut, tetangga itu mengeluh Dima menghabiskan sabunnya serta tidak membersihkan bak dan bahwa dia, seorang tetangga perempuan, tidak menduga Dima bisa berperilaku tidak berbudi seperti itu.

Hari Ahad berganti Senin, hari Senin diganti dengan Selasa, hari Selasa tentu diganti tentu dengan Rabu. Hari Rabu adalah pertengahan minggu, dan hari Ahad tampak sudah tidak jauh dengan semangat orang yang bekerja sudah jadi baik. 

Bagi Dima, pekan itu berlalu lain sama sekali. Hari Ahad diganti dengan Senin. Hari Senin diganti dengan Senin lagi, dan seluruh kehidupannya hanya terdiri dari hari-hari Senin saja.

Cita-cita anak harimau itu mengeong waktu malam dan melompat ke ranjang Dima. Untuk makan dia mesti diberi daging seharga dua rubel sekilo. Bisa juga anak harimau diberi tulang, tetapi tulang dijual bersama daging dengan harga yang sama. 

Para tetangga megadu kepada kantor yang mengurus rumah, membawa polisi, dan bahkan tukang sapu.

Kekasihnya, Lyalya, mengatakan orang yang berpikiran waras tidak memelihara harimau. Lyalya tidak mau masuk rumah, dia takut baik pada Dima, maupun pada harimau.

Kenalan dekat dan tidak dekat mengangkat bahu sambil tersenyum dengan sombong. Mereka merasa punya kelebihan besar atas Dima.

Ibu berhenti menonton televisi, dia takut duduk tanpa lampu. Malam hari menjadi lapang dan ibu menggunakan waktu lapang untuk menegur bapak, yang terus membisu dan membaca koran tetapi tidak teliti seperti dahulu. Dia duduk di kursi dengan kaki di bawah serta lutut yang ditarik dan dari waktu ke waktu dengan hati-hati menggerakkan mata ke lantai dan ke samping.

Sementara anak harimau membesar dan tidak tahu-mengahu apa terjadi di sekitarnya.

Rahasia dan kemuliaan mungkin dimilikinya tetapi tersembunyi dan tidak diungkapkan dengan cara apapun. Anak harimau melompat-lompat dari satu sudut ke sudut lain dan seperti kucing biasa menyepak stetoskop milik Dima di kamar. Ketika bosan, ia berdiri pada kaki belakang dan dengan kaki depan merobek lapik sofa. Anak harimau sedang mengasah kuku untuk masa depannya.

Ibu merasa jengkel dengan kelakuan itu tetapi tidak berani menegur anak harimau. Namun dia tidak bisa berdiam dan semua teguran ibu terpaksa didengar Dima.
***
bersambung

*. Dima tinggal di apartemen komunal, yang biasanya dibagi oleh beberapa keluarga. Di apartemen seperti itu, dapur dan kamar mandi digunakan oleh semua penghuni.

Tentang Yang Tidak Pernah Ada 1

Tulisan lain

Virus Corona, Semangat Kampung, London Pinggiran - Liston P Siregar

Tuktuk Siadong-Tomok - Sitor Situmorang

vevey

Tentang Yang Tidak Pernah Ada - Victoria Tokareva 1 (Dr. Victor A Pogadaev)

Kapal Sendal - Edwin Anugerah Perdana

Balige - Sitor Situmorang

Bristol

Pelangi Sore Hari di Siguragura Asahan - Sitor Situmorang

Pro-demokrasi? Jangan Pilih Anak dan Mantu Presiden Jokowi - Liston P Siregar

Devon

Mau Salam Menyalam, Malah Rempong - Liston P Siregar

Kristus di Danau - Sitor Situmorang

Skotlandia

Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo atau Koalisi Cebong-Kampret? - Liston P Siregar

Tamasya Danau Toba - Sitor Situmorang

Loch Ness

 

 

Topografi Danau Toba - Sitor Situmorang

Hikayat Welfie di WA Grup - Liston P Siregar

Cornwall

Setelah Putusan MK: Jokowi Tanpa Politik Dagang Sapi? - Liston P Siregar

Danau Toba - Sitor Situmorang

Inverness

Islam untuk Politik atau Politik untuk Islam ("Enakan Jamanku Toh") - Liston P Siregar

Chairil Anwar Kita - Sapardi Djoko Damono

Lincoln

Mereka-reka para pemain utama di Pilpres 2024 - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 6 - Chairil Anwar

Berkshire

Kiri Kanan Tak Oke, Jangan Mau Digertak - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 5 - Chairil Anwar

Oxford

                                                                                                                                        ©listonpsiregar2000