ceritanet situs karya tulis - edisi 295, november-desember 2019                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

komentar Mau Salam Menyalam, Malah Rempong
Liston P Siregar

Dulu pernah ada rekan sekantor yang -menurut pengamatan saya- selalu agak serba salah setiap memasuki musim Natal karena dia penganut Islam yang taat. Baik, kita sederhanakan saja kriteria taat dengan bersembahyang lima waktu dan berpuasa penuh sepanjang bulan Ramadhan. Rekan sekantor yang lebih tua itu juga sepertinya amat patuh dengan pemuka agamanya yang melarang ucapan Selamat Natal, walau banyak juga umat Islam yang taat yang tetap mengucapkan Selamat Natal kepada saya, sejak dulu sampai sekarang. Itu pilihan masing-masing oranglah.

Buat saya, jemaat Kristen yang biasa-biasa saja, tak ada masalah jika mengucapkan Eid Mubarak, Sabbe Satta Bhavantu Sukithata, Dumogi sareng sami manggih kerahayuan, Gong Xi Fa Cai, atau Merry Christmas ke umat Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, dan Kristen, yang sedang merayakan hari besar agamanya. Niatnya sepenuhnya baik, yaitu menghormati agama lain dan juga ikut bergembira. Dan kalau dulu juga kirim kartu ucapan selamat, sekarang lewat WA dengan meme-meme meriah. Hari besar agama sebaiknya memang dirayakan dengan damai dan gembira.

Jadi setiap Hari Raya Idul Fitri, saya selalu mengirim kartu ucapan selamat kepada rekan yang lebih tadi itu -yang sesama anak Medan pula- ditambah dengan pada hari pertama dia kembali masuk kerja -setelah liburan plus cuti lebaran- sayapun berdiri menyambut untuk menyalam sambil, "Minal Aidin Walfaizin, Maaf Lahir Batin, Bang." Dia tersenyum senang, "Terimakasih." Berhubung sama sekali tak ada kesan bahwa umat non-Islam tak boleh menyampaikan selamat pada hari raya Islam, maka saya ulanglah ucapan itu -lewat kartu dan salaman tangan- setiap tahun.

Cilakanya, dia orang yang baik hati sehingga -menurut saya- tidak mampu untuk tidak saling berbalas salam selayaknya tradisi sopan santun kemanusiaan dan mengabaikan begitu saja Hari Natal, yang kalau tinggal di London, maka tidak mungkin pura-pura lupa atau pura-pura tidak tahu. Natal di London bukan cuma perayaan hari besar agama Kristen tapi juga alasan besar bagi toko-toko untuk mengeruk uang orang, jadi begitu Anda ke luar rumah sekitar dua minggu sebelum 25 Desember, maka suasana Natal sudah menyerang, mulai dari rumah-rumah yang memasang hiasan Natal, lampu jalanan yang semarak, apalagi di toko-toko.

Itu yang membuat rekan sesama anak Medan tadi, menurut pengamatan saya, jadi kagok karena tak membalas salam kok keterlaluan tapi membalas salam kok berdosa.... Jadi dia selalu kirim kartu ke rumah, yang sama sekali tak ada kata Christmas atau Natal, dan paling sering -seingat saya- Season's Greeting dengan tanda tangannya. Dan pada hari pertama saya masuk kantor, setelah satu dua hari libur, dia akan menyalam dengan senyum riang dan mengatakan, "Selamat." Titik. Awalnya saya suka menggoda, "Selama apa nih Bang..." tapi beberapa tahun kemudian saya rasa tak baik juga menggodanya terus, jadi saya jawab, "Terimakasih" dengan senyum riang.

Ucapan selamat yang baik tak usahlah dibuat rempong...

Fatwa MUI dan Salam Agama

Seperti semua orang Indonesia tahu, Majelis Ulama Indonesia pusat, sudah menyatakan dukungan atas fatwa MUI Jawa Timur yang melarang pejabat beragama Islam mengucapkan salam enam agama yang diakui di Indonesia untuk memulai pidato resmi. Kalau era Bung Karno pidato dimulai dengan 'Merdeka' dan Suharto menggunakan 'Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh' maka presiden berikutnya menambahkan -Megawati yang rasanya memulai 'Om swastiastu'- sehingga sampai pada ere Joko Widodo sudah menjadi "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om swastiastu, Namo Buddhaya, Salam kebajikan".

Gaya Presiden Jokowi itu diikuti banyak pejabat negara di bawahnya, sampai MUI Jawa Timur menegaskan bahwa bagi umat Islam mengucapkan salam semua agama adalah bidah, mengandung nilai syubhat, dan patut dihindari umat Islam. Saya tak terlalu paham soal fatwa tapi beberapa hari setelah Fatwa MUI Jawa Timur itu, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar -umat Islam warga Nahdlatur Ulama- tetap membuka pidato dengan salam berbagai agama dalam satu acara di Bogor, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat sore dan salam sejahtera untuk kita semua, Om swastiastu, Namo Buddaya, Salam kebajikan."

Walau tak lengkap -tanpa Shalom, karena mungkin Menteri Abdul menyatukan Kristen dan Katolik- semangat kebhinekaan yang diutamakan.

Sekitar dua pekan kemudian, Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim -yang dulu menikah KUA Islam dan juga di gereja- memilih semangat yang sama, namun dengan "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om swastiastu, Namo Buddaya, Rahayu, Selamat pagi dan salam kebajikan bagi kita semua."

Pendiri dan mantan bos grup Gojek ini sepertinya juga menyatukan Katolik dan Kristen dengan 'Shalom', namun menambahkan 'Rahayu', yang sepertinya mewakili agama-agama asli Indonesia di kawasan Jawa Tengah, tapi masih belum ada Sampurasun untuk Sunda Wiwitan di Jawa Barat dan Horas untuk Parmalim di Tanah Batak.

Jadi ada dua masalah. Yang pertama, masak cuma salam satu agama yang disebut ketika para pendengar pidato beragam agamanya. Yang kedua, kalaupun mengandalkan semangat kebhinekaan, sampai sejauh mana pula, dan kenapa Rahayu masuk tapi Sampurasun tidak.

Kok rempong banget jadinya...

Di sebuah negara yang berdasarkan Pancasila, ideologi modern buatan abad ke-21, dan bukan agama -seperti di Arab Saudi, Vatikan- seharusnya tiap-tiap lembaga agama melarang salam agamanya diguakan dalam pidato pemerintahan. Dengan tingkat korupsi yang masih tinggi di kalangan para pejabat pemerintah, mestinya lembaga-lembaga agama malu kalau salam agama mereka yang suci disebut-sebut oleh para koruptor.

Atau setidaknya, sebelum menyebutkan salam agama maka para pejabat negara itu harus lebih dulu membuat pernyataan pertama, "Saya tidak korupsi...." dan barulah diikuti dengan "Assalamualaikum Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om swastiastu, Namo Buddaya, Salam kebajikan, Rahayu, Sampurasun, Horas.... dan seterusnya."

Maka supaya tidak rempong, disederhanakan saja dengan Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, dan Selamat Malam karena sebenarnya tidak semua salam-salam itu berurusan langsung dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, tapi ada yang sekedar bersumber dari bahasa yang digunakan masyarakat tempat agama itu lahir dulu. Shalom, misalnya, berasal dari Bahasa Ibrani yang artinya kira-kira 'Damai' walau juga digunakan dalam konteks Biblikal, namun tidak langsung berkaitan dengan Iesus dalam Bahasa Latin, yang menjadi sumber Bahasa Inggris untuk Jesus.

Jelas masing-masing agama punya doktrin sendiri, entah menjaga kemurnian menggunakan bahasa asli atau diterjemahkan ke bahasa asli pemeluknya, tapi saatnya pidato resmi di kalangan pemerintah berada di luar agama apapun karena tugas pemerintah untuk melindungi semua agama dan bukan mengeksploitir semua gama demi tujuan politik.

Singkatnya politik yang melayani agama, bukan agama yang melayani politik.

Dijamin nggak bakalan rempong lagi...
***

*Rempong: ribet, repot, bingung, susah.

Tulisan lain

Kristus di Danau - Sitor Situmorang

Skotlandia

Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo atau Koalisi Cebong-Kampret? - Liston P Siregar

Tamasya Danau Toba - Sitor Situmorang

Loch Ness

Topografi Danau Toba - Sitor Situmorang

Hikayat Wefie di WA Grup - Liston P Siregar

Cornwall

Setelah Putusan MK: Jokowi Tanpa Politik Dagang Sapi? - Liston P Siregar

Danau Toba - Sitor Situmorang

Inverness

 

Islam untuk Politik atau Politik untuk Islam ("Enakan Jamanku Toh") - Liston P Siregar

Chairil Anwar Kita - Sapardi Djoko Damono

Lincoln

Mereka-reka para pemain utama di Pilpres 2024 - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 6 - Chairil Anwar

Berkshire

Kiri Kanan Tak Oke, Jangan Mau Digertak - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 5 - Chairil Anwar

Oxford

Sudah Pura-pura, Terlambat Lagi - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 4 - Chairil Anwar

Brighton

©listonpsiregar2000