ceritanet situs karya tulis - edisi 294, oktober 2019                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

komentar Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo atau Koalisi Cebong-Kampret?
Liston P Siregar

Seorang sahabat 'ilfil' pada hari pengumuman kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Joko Widodo. Ketika diminta mengurai lebih jauh lewat WA, dia mengaku sedang tak punya energi - dan pakai kata penutup 'Serius'- padahal biasanya sahabat itu selalu punya energi lebih banyak dari orang rata-rata, baik di otaknya maupun di tubuhnya. Jadi ketika dia mengatakan sedang tak punya energi, maka dia benar-benar lagi 'ilfil' berat, dan sayapun cuma kirim gambar dua gelas bir untuk menyemangati tanpa bertanya lebih jauh.

Saya yakin penyebabnya pastilah kabinet Jokowi di masa periode jabatan kedua atau yang terakhir, yang diharapkan lebih 'berani' tanpa basa-basi untuk kompromi politik untuk mencapai Indonesia yang makmur sejahtera, bukan hanya untuk urusan prasarana, tapi juga demokrasi, hak asasi, dan pemberantasan korupsi. Paling tidak begitulah harapan saya, dan mungkin juga sahabat saya yang 'ilfil' tadi, dan yakinlah, juga banyak pemilih lainnya.

Pastilah terlalu dini jika menyimpulkan jika Kabinet Indonesia Maju 2019-2024 tidak kompeten untuk menciptakan Indonesia Maju dan memang bukan itu niatnya tapi jelas masuknya Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan bisa bikin orang 'habis kamus', kata orang Medan, dan badanpun jadi lemas. Diduga terkait pelanggaran hak asasi dalam kasus penculikan aktifis 1998, diberhentikan sampai dicopot dari militer, banyak orang yang yakin dia bukan pemimpin yang baik dan kalah dalam tiga pemilihan presiden -satu kali sebagai cawapres bersama Megawati Soekarnoptri dan dua kali sebagai capres pada tahun 2014 dan 2019.

Persaingan sengit dan panas pada Pilpres 2014 terulang lagi di tahun 2019. Walau banyak gerakan-gerakan masyarakat mandiri yang mengkampanyekan 'berbeda tapi bersatu' di Pilpres 2019, berlangsung pula perang terbuka antara 'Cebong' dan 'Kampret' yang sering kali kasar, saling menuduh, dan membunuh karakter, tanpa membahas isu-isu kampanye. Para pendengung kedua kubu -yang mengaku kaum intelek berpendidikan tinggi- tidak beda dengan cebong-cebong dan kampret-kampret, yang seharusnya mereka tenangkan dan bukan malah dipanasi-panasi.

Maka terulanglah pemilih yang bermusuhan, bukan sekedar berbeda pilihan. Tapi sebagai pemenang, mungkin Jokowi berniat baik ingin meredakan permusuhan para cebong dan kampret dengan merangkul pimpinan kubu seberang. Lagipula masuknya Prabowo ke pemerintahan bisa membungkam kecaman-kecaman atas Jokowi -kalau kepala dipegang badan dan ekor akan nurut patuh, Dalam politik, rangkul merangkul itu jelas soal yang amat biasa.

Di Inggris, misalnya, tahun 2010 Perdana Menteri David Cameron dari Partai Konservatif butuh dukungan Partai Liberal Demokrat -yang berbeda ideologi- untuk bisa membentuk pemerintahan dan menunjuk Ketua Partai Liberal Demokrat, Nick Clegg, sebagai wakil PM. Cuma pendukung Liberal Demokrat, para kaum muda yang anti-kemapanan kubu Konservatif, kecewa besar dengan 'nafsu' kekuasaan Clegg dan dalam pemilihan umum 2015, Libdem cuma meraih 8 kursi, anjlok berat dari 57 kursi di pemilu 2010. Clegg-pun mundur dari Ketua Partai Liberal Demokrat dan dari jabatan Wakil PM.

Situasinya 'serupa tapi tak sama' di Indonesia.

Serupa karena demi kekuasaan maka lupakan sajalah soal prinsip politik, tak perlu sampai urusan ideologi partai karena sejak jaman Soeharto memang tak terlalu jelas lagi ideologi partai yang satu dengan yang lain. Jadi Prabowo melupakan aksi 'We will will rock you'-nya waktu kampanye di Yogyakarta dengan memukul-mukul panggung sambil memekik 'antek-antek asing' sementara Jokowi melupakan para pemilihnya, yang kecewa dengan kinerja periode pertamanya tapi berpegang pada 'asal bukan Prabowo,' yang saya yakin jumlahnya tidak sedikit. Yang penting bagi keduanya adalah: saya ikut berkuasa dan jangan ganggu kekuasaan saya.

Masalahnya adalah apakah Prabowo bisa meredam oposisi atas pemerintahan Jokowi?

Tidak.

Menjelang Piplres 2019 lalu, saya ikut dalam satu acara diskusi di SOAS, University of London, yang digelar Anglo-Indonesian Society. Selain berasumsi bahwa kebijakan Jokowi dan Prabowo tidak akan banyak berbeda -jika melihat periode pertama Jokowi yang tak terlalu perduli HAM dan pembangunan infrastruktur juga dilakukan oleh pemerintah yang tidak demokratis, seperti Cina- saya tertanya-tanya 'kok bisa' PKS dan PAN -dua partai Islam utama- mendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, kaum kelas atas Jakarta, yang tak berlebihan jika diragukan ketaatannya beragama. Jadi mungkin PKS maun PAN juga sekedar 'asal bukan Jokowi' dengan tidak pernah menempatkan Prabowo sebagai pemimpin sejati selain, itu tadi, sekedar figur 'asal bukan Jokowi' yang kemudian terbukti pula 'tidak bersama kita di dalam suka dan duka' tapi membelot, berkhianat, dan memanipulasi orang kecil. Prabowo jelas bukan 'kepala' yang akan dituruti tubuh dan ekor dari kubu yang kalah.

Jadi masuknya Prabowo ke dalam pemerintahan Jokowi -'Menteri Pertahanan kan cuma pembantu presiden'- hampir dipastikan justru seperti menyiramkan air garam ke luka yang masih terbuka di kalangan pendukung PKS, PAN, dan para pemilih yang terpapar dan termakan pesan kampanye sebagai 'umat mayoritas yang tertindas'. Parahnya, sekarang malah makin buruk lagi, menjadi 'umat mayoritas yang tertindas dan tertipu'.

Sementara para pemilih yang 'asal bukan Prabowo' juga ikut tertipu karena mereka tidak mau diperintah Prabowo, yang menjabat Menteri Pertahanan, salah satu posisi penting dalam pemerintah di negara manapun.

Dan tak terlalu susah untuk menjawab pertanyaan: Siapa yang menindas dan menipu? Jokowi dan Prabowo.

Saya tak suka perasaan tertindas dan tertipu karena membuat orang bisa jadi mata gelap. Kemenangan Donald Trump di Pilpres Amerika dibangun di atas perasaan tertindas dan tertipu oleh kelas menengah, oleh 'Crook Clinton' atau penjahat Clinton yang bersekutu dengan orang-orang kaya di Wall Street untuk merampok harta orang-orang miskin di kampung-kampung. Begitu juga dengan kemenangan Brexit -yang ingin Inggris Raya ke luar dari Uni Eropa- yang didorong oleh para 'Gammon' -rujukan pada kaum kulit putih setengah baya yang tinggal di luar ibu kota London- yang hanya orang-orang di London saja yang menikmati kemakmuran akibat perdagangan bebas sementara mereka menderita karena para pendatang yang mencuri pekerjaan dari mereka.

Rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo -kalaulah itu maksud Presiden Joko Widodo- rasanya yakin, tidak akan meredakan permusuhan cebong dan kampret pada masa-masa kampanye tapi malah berisiko menguatkan peraasaan tertindas dan tertipu di negeri sendiri. Perasaan yang tidak mudah dikikis, yang sering kali lebih kuat dan dalam dibanding perasaan puas dan senang. Begitu perasaan tertindas dan tertipu menemukan seorang pemimpin sejati yang mampu dan mumpumi, maka akan mudah sekali melangkah mundur ke kekolotan yang menutup diri, yang eksklusif, yang tak mengulurkan tangan kepada orang baru, seperti politik pemerintahan Trumo di Amerika Serikat dan kemenangan Brexit Inggris.

Tapi mari kita lihat sok-sok positif: bahwa salah satu tugas penting pemerintahan Indonesia Maju pimpinan Presiden Jokowi adalah memberantas perasaan tertindas dan tertipu itu dengan serius.

Jika tidak berhasil, apalagi tak perduli, mari kita sebut saja 'Koalisi Cebong-Kampret'.
***

Tulisan lain

Tamasya Danau Toba - Sitor Situmorang

Loch Ness

Topografi Danau Toba - Sitor Situmorang

Hikayat Wefie di WA Grup - Liston P Siregar

Cornwall

Setelah Putusan MK: Jokowi Tanpa Politik Dagang Sapi? - Liston P Siregar

Danau Toba - Sitor Situmorang

Inverness

Islam untuk Politik atau Politik untuk Islam ("Enakan Jamanku Toh") - Liston P Siregar

Chairil Anwar Kita - Sapardi Djoko Damono

Lincoln

Mereka-reka para pemain utama di Pilpres 2024 - Liston P Siregar

 

Surat Kepada H.B. Jassin 6 - Chairil Anwar

Berkshire

Kiri Kanan Tak Oke, Jangan Mau Digertak - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 5 - Chairil Anwar

Oxford

Sudah Pura-pura, Terlambat Lagi - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 4 - Chairil Anwar

Brighton

Kisanak Ging, Yang Ku (dan Banyak Orang) Kenang - Liston P Siregar

Santa Klaus Tak Singgah di Rumah - Sanie B Kuncoro

Surat Kepada H.B. Jassin 3 - Chairil Anwar

Cambridge

©listonpsiregar2000