ceritanet situs karya tulis - edisi 293, juni 2019                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

cerpen Hikayat Wefie di WA Grup
Liston P Siregar

Kalau belum tau wefie, bergaullah lebih banyak sama anak jaman now lewat WA atau ngopi copy darat -dan kalau tak tahu copy darat, bergaul jugalah sama kaum paruh baya 50-an tahun

Wefie adalah selfie rame-rame, diambil dari kata we dan bukan self atau narsis sendirian jadi wefie itu narsis bareng-bareng. Dan orang yang punya WA grup -jaman segini mana mungkin nggak punya WA grup- pasti sering wefie: waktu reuni, besuk kawan sakit, atau pas kawinan anak kawan segrup.

Seperti semua dalam hidup ini, persaingan terjadi dan semakin sengit sehingga selfie kurang matab karena terlalu sederhana: cukup pergi atau makan atau minum kemana saja, jepret beberapa kali, dan jadilah selfie. Orang lain juga bisa menanggapi langsung: masuk restoran, jepret jepret, dan jadilah selfie.

Jaman now, selfie sudah bergeser ke Instagram, bukan WA grup yang niatnya perlu juga memanasi-manasi atau bahasa Medannya membuat angek kawan segrup yang tak ikut wefie: "Kami kumpul-kumpul, makan-makan, senang-senang, ketawa-ketawa, tapi kau tak ikut" dan "Kacian deh."

Dari belasan WA grupku, ada satu yang super kreatif karena tak lelah-lelahnya mencoba hal-hal baru demi wefie di WA grup untuk anak-anak se-SMA, yang diberi judul Esema Tiga.

Seperti yang kita semua alami, lama-lama wefie di berbagai WA grup akhirnya yang itu-itu saja dan agak berulang. Awalnya wefie di reuni copy darat yang biasa, di restoran atau di rumah dan semuanya tersenyum riang. Dari sana berkembang jadi reuni berpakaian seragam, bukan sekedar bawahan warna hitam dengan atasan warna putih tapi seragam beneran: model, warna, dan corak yang sama semua -entah itu baju atau oblong. Pesan di grup tambah: "Yang tak ikut, maap ya tak dapat seragam" biarpun tak akan pernah dipakai lagi karena reuni berikut pastilah ada seragam baru.

Tapi masak wefie cuma pas reuni sekali setahun -taruhlah sekali enam bulan- maka ditemukanlah modus operandi pesta pernikahan anak kawan seangkatan. Para anggota Esema Tiga memang kaum setengah baya yang anak-anaknya mulai berkawinan. Kalau dulu yang penting datang bersalaman sama mempelai dan keempat orang tua, maka berkembang jadi janjian agar datang bersamaan dengan kawan-kawan lain, biar bisa wefie di meja makan yang sama. Namanya datang ke pesta kawin, pastilah semua bekerja keras untuk tampil cantik, ganteng, muda, dan -yang paling penting- riang gembira.

Kkalau pas tak ada yang kawin, masih ada peluang kawan yang sakit atau yang sedang kemalangan. Memang sakit dan kematian suami, istri, ayah, ibu, dan anak adalah berita sedih, tapi itulah demi wefie maka semua bisa diatur dengan rapi. Coba hitung, berapa kali dipajang wefie di grup WA dengan si sakit berbaring di tengah dan kawan-kawan di sekelilingnya sambil mengangkat jempol dengan senyum lepas. Anggota yang tak ada di foto bukan saja angek tapi juga -dengan setengah bercanda namun ada bau seriusnya- tak punya solidaritas bersama.

Juga coba ingat, berapa kali pula ada foto saat pemakaman dengan wefie di depan karangan bunga kiriman kawan=kawan segrup, yang tulisan pengirim sampai dua kali lipat lebih besar dibanding nama yang wafat atau keluarga yang kemalangan. Selain sekedar membuktikan sumbangan masing-masing anggota sudah digunakan untuk membeli karangan bunga yang besar dan bagus, perlu pula bukti berupa foto saat menyerahkan sumbangan kepada keluarga yang berduka. Jelas ada wajah-wajah berempati dengan rona duka, tapi tak kalah banyaknya foto berpose untuk wefie dengan pakaian bernada gelap yang terbaik. Bukan berarti saat melawat maka orang harus dalam keadaan sedih dan duka detik demi detik, cuma wefie dan WA grup membawa 'lawatan kemalangan' ke tingkat yang berbeda dibanding sebelum meluasnya Samsung, Apple, Huawei dan media sosial serta WA grup.

Perilaku-perilaku wefie seperti itu pasti ada hampir di semua WA grup, dan dalam persaingan maka yang sudah sering akan menjadi biasa-biasa saja, sehingga diperlukan cara-cara berpikir kreatif. Itu pulalah sebabnya kalau dulu orang cukup puas menggunakan meme dan ilustrasi gambar saja, maka sekarang sudah ada disediakan sticker!

Begitulah, seorang kawan muncul dengan gagasan membuat usaha kecil berbasis rumah tangga, mengingat hampir tiap akhir pekan ada bazar makanan di mana-mana. Kawan itu membuat kalkulasi seksama dengan biaya pendaftaran stall, pengeluaran bahan, estimasi pendapatan yang lengkap dengan saran produk yang dijual, berupa jajanan yang tahan lama'. "Kalau segar, sulit persiapannya dan repot melayani pelanggan, juga ada risiko akan terbuang." Bermunculanlah tanggapan bersemangat dan diputuskanlah untuk jualan kastengel, nastar, dan brownies di bawah merek Estiga Kool.

Tanggapanku bernada canda tapi pesnannya serius, "Kalian ini bikin teh saja cuma teriak sama pembantu, mau jualan kue pulak. Cemananya." Tapi langsung dibalas, "Jangan anggap remeh bro, selama ini bukan tak bisa, tapi tak sempat." Ada pula, "Nggak ngerti hukum ekonomi kawan kita ini. Ngebroker: ambil stok dari produsen dan jual ke pelanggan kelas atas." Yang lebih hati-hati menulis, "Belajar tak mengenal usia" disusul gambar berlatar hijau muda dengan meme dua tangan berdoa dan tulisan miring berwarna putih, "Tuhan selelu memberkati mereka yang selalu belajar". Dan bermunculanlah sticker-sticker dukungan, mulai dari gambar tuyul yang mengangkat telunjuknya, pria Arab berkafiyeh yang berujar 'Ane dukung' sampai mendiang Presiden Suharto dengan: "Saya nyataken semua setuju."

Memang banyak yang bersemangat, persisnya kawan-kawan yang tergolong makmur sejahtera -yang seperti biasa, dari sejak kecil sudah terlahir kaya raya dan akan terus kaya raya sepanjang sedikitnya sampai tiga keturunan berikut- berhubung waktu luang makin banyak dan pekerjaan semakin sedikit. Pada usia 50-an, mereka-mereka itu sudah punya karir bagus -memanfaatkan seluruh jaringan keluarga- sekaligus pula pastilah gaji bagus, dengan anak-anak yang sudah besar yang setiap akhir pekan menghilang main sama kawan-kawan atau bersembunyi di kamar seharian, entah tidur, chatting atau main game, sementara suami atau istri juga punya belasan WA grup dengan beragam gagasan untuk mengisi waktu luang yang banyak tadi. Maka jadilah ide usaha kecil itu -"Kan lumayan masih bisa dapat uang jajan, biarpun kecil-kecilan"- mendapat dukungan untuk diwujudkan.

Aku sebenarnya tergolong pasif dan cuma nyambar sekali-sekali, juga tak terlalu antusias dengan kumpul-kumpul dan mewjudukan aneka macam gagasan, atau angan-angan -yang kalau butuh kerja keras akan tak berkembang. Alasan utama tak aktif adalah karirku -apa boleh buat- tergolong memble karena cuma di sekitar asisten manajer -"luwes sikitlah kau, biar naik jadi manajer," kata beberapa kawan. Maka lima kali seminggu aku masih harus kerja keras, bukan cuma cakap-cakap perintah sana-sini, sehingga amat penting rasanya di akhir pekan aku bisa sejam dua jam lebih lama berbaring di tempat tidur pagi hari dan sejam dua jam lebih cepat naik ke tempat tidur malamnya.

Karena karir memble, gajipun pas-pasan jadi tak sangguplah mengeluarkan uang ekstra lagi untuk kumpul-kumpul di restoran atau sekedar besuk, melayat, maupun ke pesta kawin -karena ada patungan untuk buah tangan, sumbangan, dan kado kawin ditambah lagi habis itu pasti berlanjut, entah makan atau ngopi ngeteh di cafe . Memang ngelak dari patungan bayaran juga bisa saja, tapi lewat japri-japri di luar WA grup, habis juga diejek-ejek orang yang gratisan itu -"Ngeri kali. Udah maunya gratis terus, pesan untuk bawak pulang lagi".

Tak mau aku dibaik-baikin di WA grup tapi dihina di japri.

Maka kumpul-kumpul atau reuni aku tolak, besuk yang sakit kuhindari, demikian juga kawinan anak -kecuali anak kawan dekat yang dulu sebangku atau yang bareng pulang naik sepeda. Itupun selalu kuupayakan setegar mungkin agar langsung pulang. Sedang melayat duka, dibatasi jika yang meninggal kawan langsung -benar ada satu dua yang sudah bermatian pada usia 50-an- atau suami maupun istrinya. Kalau level orang tua, mertua, paman, tante, sepupu dari kawan, maka tak masuk ke dalam agendaku dan cukup mengamati dari WA grup saja.

Ketika muncul ide bisnis kecil, akupun sudah langsung menyimpulkan dengan pasti bahwa bakal tak akan jalan lama walau pesimisme itu tak kusampaikan di grup selain tanggapan pendek tadi, yang langsung dihajar keroyokan. Aku yakin, jualan jajanan kue kering di kotak-kotak plastik kecil sudah dijalani belasan ribu orang sejak belasan tahun lalu -istriku dulu juga kularang waktu pernah mau ikut-ikutan. Dan apa pula yang membuat Estiga Kool -berlogo S3K dengan tiap huruf dan angka berwarna oranye, hijau, dan merah- bakal dibeli orang.

Dan benar. Foto-foto bazar pertama segera bermunculan di grup, mulai dari persiapan mengangkat meja, merapikan taplak berwarna semarak, menyusun dagangan dengan rapi, menaruh dua papan nama Estiga Kool, sampai beres-beres saat penutupan stall. Kawan-kawan yang ikut jualan pakai celemek putih dan beberapa bahkan bertopi koki masak yang panjang. Aku tertawa terbahak-bahak besar melihat foto itu, waktu duduk di depan TV bersama istri dengan masing-masing sibuk melihat telepon genggamnya, sampai istriku tertarik meminta izin ngintip, walau tak terlalu paham kenapa aku tertawa padahal anak SD juga tau kalau jualan kue kastengel, nastar, brownies yang sudah ditaruh rapi di kotak-kotak plastik tak perlu celemek putih, apalagi topi koki. Cilakanya istriku -yang tak tahu latar belakang seluruh ceritanya- nyelutuk serius mencoba memahami perilaku kawan-kawanku dengan berkomentar, "Tapi itu lihat, ada jualan kopi juga," yang malah memperpanjang tawaku, yang cilakanya membuat istriku kesal sehingga malam itu akupun berbaring di tempat tidur dengan dipunggungi istriku. "Gara-gara pukimak Estiga Kool, jadi tak dapat awak," kesalku sambil menatap langit-langit kamar dengan mata yang melotot.

Jadi kuambil lagi HPku -kalau karena cahayanya istri bangun maka bisa langsung kusambar, '"Ya tak kau kasih aku, tak bisalah aku tidur"- dan kuamat-amati lagi puluhan foto yang dikirim yang sepanjang hari hanya ada dua pembeli, yang masing-masing difoto wefie dengan latar belakang delapan penjual bercelemek putih yang cantik dan ganteng yang tersenyum cerah. Rasa lucu berlanjut -walau tak bisa ketawa lepas- karena ada beberapa ucapan selamat di grup dan yang memberi semangat -"Ayo bro sis, semua pencapaian besar dimulai dari lagkah kecil" plus gambar Neil Amstrong waktu jalan di bulan dengan kutipan di latar belakangnya, "One small step for a man, one giant leap for mankind". Ada pula penjelasan, atau persisnya pembelaan, koordinator -"Keputusan bisnis tepat, jajanan kering bisa untuk even berikut"- maupun komentar dari yang ikut tim penjualan, "Ayo yo, ramaikan, hebohkan." Tersenyum-senyum kecil meneruskan tontonan lawakan manusia itu, perasaanku jadi santai dan akhirnya bisa juga jatuh tertidur lelap.

Pekan depannya muncul lagi puluhan foto yang sama, dengan celemek putih dan beberapa topi koki panjang, untuk jualan kue kering dan kopi, yang kali ini sama sekali tak ada foto pembeli. Walau tak selucu yang pertama, aku masih tetap tersenyum-senyum lepas sambil membayangkan berapa kali pakailah celemek putih dan topi koki putih itu dipakai sebelum diputuskan sudah balik modal dan tak perlu dipakai lagi. Kubayangkan lagi, satu dua dari kawan-kawan itu pasti beli celemek dan topi koki yang kelas tinggi. Kutanya istriku, "Mau kau intip lagi foto kawan-kawanku jualan di bazar?" tapi cuma selintas ditatapnya aku tajam sebelum kembali menatap layar HPnya dan malam itu kembali aku dipunggunginya.

Sama seperti tawaku, komentar dan penjelasan di grup juga tidak sekuat sebelumnya, dengan satu dua usulan, termasuk "Kita coba juga jual online" yang tak banyak ditanggapi karena peluang wefie jelas jauh lebih kecil di dunia maya dibanding langsung beraksi di ruang nyata bertiga dimensi.

Ada dua kali lagi pajangan foto-foto Estiga Kool di grup, yang tak seramai sebelumnya sementara komentar dan pembelaan semakin hening, sama seperti tawaku. "Empat kali pake sudah balik modal," pikirku dan tergoda untuk minta tumpahan bekas celemek pakai lewat grup karena -berbeda dengan kawan-kawan yang ikut jualan Estiga Kool, yang nyuruh pembantunya masak dagangan kue kering- aku betulan kena jatah masak tiap Sabtu dan dia Minggu, ketika pembantu menikmati hari liburnya -jaman sekarang pembantui tak mau kerja tanpa hari libur untuk kumpul-kumpul sama kawan. Walau tak perlu kali, tapi pingin juga awak bergaya-gaya sikit dengan celemek kayak orang itu di dapur sendiri.

Hanya beberapa minggu setelah Estiga Kool bubar total -karena sama sekali tak kedengaran lagi- muncul ide dari kawan lain untuk mendirikan yayasan sosial -"Saatnya memberi kembali ke masyarakat." Amat bijak, pikirku, sampai tak berani menyindir di dalam hati sekalipun, apalagi menulis di grup. Matilah aku nanti mendapat tuduhan jahat, egois, individualis, negatif, pesimis, sinis, asosial, tidak manusiawi, dan segala macam yang lainnya kalau menyindir ide mulia yang memperhatikan 'nasib orang-orang yang tidak seberuntung kita', seperti salah satu pesan di grup yang mendukungnya.

Sama seperti bisnis Estiga Kool tadi, diputuskan tak perlu sampai berbentuk badan hukum karena, "Terlalu birokratis jadi tak efektif nanti" atau "Kelebihan kita adalah menihilkan ovehead cost" maupun "pertanggung-jawaban terbuka langsung di WA grup." Walau berkeras sekuat mungkin untuk tidak berkomentar sama sekali, termasuk di dalam hati, tetap saja terlintas di benakku, "Nggak bakal lama."

Nama yayasannya Estiga Kasih berwarna biru muda, dengan logo tiga tanda hati merah, putih, dan merah jambu, yang saling bersinggungan. Langsung pula beredar penjualan oblong Estiga Kasih lengkap dengan logo besar di bawahnya seharga Rp.100.000, "Sekalian sebagai sumbangan awal." Harus kuakui, oblong dengan logo tiga tanda hati itu cukup menarik, apalagi ada pilihan warna hitam, tapi jelas bukan kelasku untuk beli oblong seharga seratus ribu perak.

Selain pengumpulan dana lewat penjualan oblong, mengalir deras sumbangan dari orang per orang, seperti laporan lengkap di grup oleh sang koordinator -"Kita organsasi nyata yang kerja lapangan, tak perlu direktur atau manajer, tapi koordinator lapangan." Baru dua minggu berdiri, sudah terkumpul dana Rp. 12,5 juta. Hebat pikirku walau tak sabar menanti wefie yang kelak akan dipajang. "

Persis!

Beberapa hari kemudian album dengan puluhan foto dipajang di WA grup dengan kawan-kawan yang sebenarnya tak banyak berbeda dari bisnis Estiga Kool dulu, namun kali ini ditambah dengan kawan pegiat gereja dan masjid -yang tiap pagi bangun tidur dan tiap malam mau tidur selalu mengirim kutipan dari Alkitab atau Alquran, lengkap dengan ilustrasi gambar yang menyemangati maupun meneduhkan.

Dengan karakter kegiatan yang berbeda, album wefie Estiga Kasih jelas berbeda, dimulai dari foto-foto sambutan oleh koordinator di depan kerumunan orang, kawan-kawan yang duduk serius terpisah di beberapa meja untuk duduk bersama anak-anak yatim, makanan prasmanan yang disiapkan, bingkisan berisi buku tulis dan pulpen, kotbah dari kawan yang jadi panitua di gerejanya, serta foto koordinator Estiga Kasih bersalaman sambil menyerahkan amplop dengan pengurus rumah yatim piatu -"Minimal sejuta," pikirku, "Tambah makanan dan bingkisan ke anak-anak yatim, ya total habis minimal 2 juta."

Barulah disusul wefie yang sebenarnya: kawan-kawan perempuan berkebaya panjang warna mencolok sementara yang pria berbaju batik atau tenun ikat dengan senyum penuh kasih melayani anak-anak yang berbaris rapi antri untuk mendapat makanan. Ada yang kemudian memegang tangan seorang anak kecil untuk mengantarnya kembali ke mejanya -padahal anak itu sudah tergolong remaja muda- ada foto memperlihatkan seorang kawan tersenyum ke arah kamera dengan membawa piring makanan dan gelas minum sambil berdampingan berjalan dengan seorang yang tampak kagok.

Tapi kurasa puncaknya adalah wefie pada saat makan dan usai makan. Para kawan-kawan yang hidupnya selalu penuh dengan kasih itu mendekatkan kepala mereka dari sisi kiri dan kanan ke arah seorang anak sambil mengangkat jempol dan tertawa riang sementara si anak memandang ke arah kamera tanpa ekspresi karena sedang sibuk mengunyah makanan, yang perlu usaha tambahan karena daging rendang jelas bukan menunya sehari-hari. Adegan yang lain berupa beberapa wanita dan pria yang anggun dan gagah berdiri di belakang seorang anak sambil telunjuk yang mengarah lembut ke si anak, yang tak melihat ke kamera karena sedang berkonsentarasi memotong ayam goreng dengan garpu dan sendok, karena biasanya dia makan pakai tangan.

Tak kalah banyaknya foto bareng dengan anak-anak seusai makan: ada yang diatur begantian dengan anak yatim laki-laki, kawan grup perempuan, anak yatim perempuan, kawan grup laki-laki, dan seterusnya. Kawan-kawan itu tertawa besar dan riang sementara anak-anak berdiri tegak dan menatap serius menghadap ke kamera atau nanti bakal ditegur pengurus yayasan. Wefie lainnya dengan anak-anak yang mengangkat kantung bingkisan setinggi-tingginya sementara kawan-kawan grup mengangkat tangan yang dikepalkan sambik berteriak, aku duga, "Ayo semangat."

Komentar yang menyusul tak kalah serunya, "Terimakasih sudah mewakili kasih kami" atau "Anak yatimnya sehat-sehat ya" dan "Yang berikut aku mau ikut melayani" walau ada juga pesan yang sesat, "Dahlia, cantik kali kau" maupun "John, lu beli baju ikat itu di mana, sor awak bah", termasuk juga "Bangga awak, kayak barisan seleb kalian semua bah."

Buatku sebenarnya foto-foto Estiga kasih bukan sekeedar mencerminkan lelucon manusia namun lebih parah lagi adalah tragedi manusia karena memanfaatkan anak-anak untuk wefie. Kalau di Estiga Kool yang menjadi obyek adalah kue kering, celemek, dan topi koki, maka Estiga Kasih mennjadikan anak manusia yang tidak berdaya menjadi obyek latar wefie. Coba jika anak-anak itu adalah anak-anak mereka, pasti dengan mudahnya menolak berwefie -"Tidak mau"- dan sibuk dengan HP-nya.

Tapi kutahan untuk tidak berkomentar di grup karena, pertama, pasti tak bisa kukendalikan kemarahan begitu menulis kata pertama, jadi lebih baik sama sekali tidak menulis. Sedang, yang kedua, dana sekitar lima juta kuperkirakan hanya cukup untuk dua kali menyumbang -persisnya berwefie sama anak yatim- dan akhirnya akan sadar juga mereka bahwa adalah terlalu mahal menghabiskan sekitar 2 jutaan untuk satu sesi wefie. "Dua kali dan selesailah."

Menjelang lebaran, kunjungan kedua ke rumah yatim terwujud, untuk pemerataan agama, ujar kawan-kawan yang berniat 'membayar kenbali kepada masyarakat' -yang sepanjang kehidupan mereka telah memberikan banyak kepada keluarga dan seluruh keturunannya. Dengan modus operandi yang sama: sembahyang Jumat bareng -yang tak ikut sembahyang menanti sabar di aula rumah yatim piatu- saling sambut pidato, dan makan bersama, maka album foto tak berbeda jauh, ketika langsung sudah tersedia di grup WA Sabtu pagi.

Dengan esktra tambahan satu dua jam berbaring malas-malasan di tempat tidur di akhir pekan jadilah kerjaanku dan juga istriku adalah mengintip HP masing-masing. Tapi kali ini, kekesalanku meningkat tajam setelah menyaksikan kawan-kawan yang non-Muslim menggunakan busana bergaya Muslim: yang pria pakai baju koko putih berwarna putih atau krim dengan peci hitam yang licin, sementara beberapa kawan perempuan mengenakan selendang halus -aku yakin ada satu dua asli sutra- yang dilingkarkan ke bagian kepala seperti kerudung, yang setengah hati untuk kepantasan dan setengah lagi untuk bergaya.

"Anjrit, orang-orang ini menghina kemanusiaan dengan berkedok amal," teriakku spontan dan istriku melepas matanya dari layar HP untuk memandang bingung namun -mungkin karena pengalaman sebelumnya- tak meminta ikut mengintip HP-ku. Aku coba menjelaskan tapi baru mulai langsung dipotongnya, "Ya jangan kau lihat yang grup, itu untuk orang-orang positip yang mau senang-senang, bukan untuk tukang cela."

Tak kutanggapi -daripada dipunggungi lagi nanti malam- dan kutulis pesan pendek di WA grup, "Nggak malu kalian ya, mengeksploitir anak-anak yatim hanya untuk wefie" dan kupencet tanda panah kirim sambil siap menanti caci-maki.

Hari itu kuputuskan tak melihat WA grup lagi karena kurasa istriku benar juga, "cuma untuk senang-senang" dan puluhan japri yang masuk juga kuabaikan, karena aku yakin, hampir semua isinya saran atau nasehat bijak.

***

Tulisan lain

Topografi Danau Toba - Sitor Situmorang

Cornwall

Setelah Putusan MK: Jokowi Tanpa Politik Dagang Sapi? - Liston P Siregar

Danau Toba - Sitor Situmorang

Inverness

Islam untuk Politik atau Politik untuk Islam ("Enakan Jamanku Toh") - Liston P Siregar

Chairil Anwar Kita - Sapardi Djoko Damono

Lincoln

Mereka-reka para pemain utama di Pilpres 2024 - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 6 - Chairil Anwar

 

Berkshire

Kiri Kanan Tak Oke, Jangan Mau Digertak - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 5 - Chairil Anwar

Oxford

Sudah Pura-pura, Terlambat Lagi - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 4 - Chairil Anwar

Brighton

Kisanak Ging, Yang Ku (dan Banyak Orang) Kenang - Liston P Siregar

Santa Klaus Tak Singgah di Rumah - Sanie B Kuncoro

Surat Kepada H.B. Jassin 3 - Chairil Anwar

Cambridge

©listonpsiregar2000