ceritanet situs karya tulis - edisi 292, juni 2019                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

sajak Danau Toba
Sitor Situmorang

Aku rindu pada bahagia anak,
Yang menunggu bapaknya datang,
Dari gunung membawa puput,
Sepotong bambu tumbuh di paya-paya.

Pada perahu tiba-tiba muncul sore,
Dari balik tanjung di teluk danau,
Membawa Ibu dari pekan,
Dengan oleh-oleh kue beras
                           bergula merah.

Aku rindu pada malam berbulan,
Kata si tuan dan si anak mandi
                            sinar purnama,
Berkaca di permukaan danau biru -
Sebelum air mengelucak di musim kemarau.

Aku rindu pada bunyi seruling gembala,
Bergema di bukit memenuhi lembah,
Pada permainan di gua-gua batu
                       penuh lebah,
Kala api panen mengusik hewan
                    di tengah sawah.

Aku rindu. Aku rindu pada tebing
                                  hijau,
Tempat ikan emas bercengkrama,
Di antara lumut menggeliat bening,
Seperti taman zamrud dalam impian.

Aku rindu pada batu-batu besar dan hitam,
Muntahan lahar dari perut bumi,
Pada pemandangan tua ribuan tahun,
Si gembala domba, termenung
                                                  di atas batu.

Aku rindu bau-bau di musim
                                   panen,
Gelak si tani purba membakar jerami,
Rindu pada si nelayan pulang dari
                                   danau,
Menyandang pukat dan ikan di sore hari.

Aku rindu pada suara kakak,
Memanggil aku pulang makan,
Rindu pada resah bambu di benteng
                                           kampung,
Melambaikan daunnya pada
                                           angin gunung.

Aku rindu pada adikku, yang rindu padaku,
Aku rindu bunyi palu tukang perahu,
Aku rindu lenguh sapi, pada bau
                                  kerbau,
Aku rindu, rindu suara Ibu,
                                                 terkubur di pinggir danau.

Aku rindu lonceng gereja bertalu-talu,
Rindu gemanya merayap-rayap
                                 di udara,
Menyongsong malam, mengumumkan satu-satu
                                            Kematian,
Meryakan Perkawinan - serta Kelahiran,
Pada malam Natal, kisah tiga Raja
                                           dari Timur,
Datang menghormat Anak Manusia,
di sana, di tepi Danau Toba, kelahiranku.
***

Urat Bona Pasogit

sebatang beringin, tempat leluhur
di bayangnya bermusyawarah hal hidup
dan hal baka
sebuah mata air dari batu karang
sumber pelepas dahaga 7 keturunan
kali 7 keturunan, aku pun lahir
sebuah rumah asal disebut parsantian
perlambang jagat tiga tingkat
bumi atas bumi tengah bumi bawah
dari halamannya sejemput tanah keramat
kutiup nafas
bakal alas jasad bakaku tegak
di atas segala bumi leluhur
Ompu Raja Bunbunan
pengawal adat lembaga di Tanah Urat
***

Tulisan lain

Setelah Putusan MK: Jokowi Tanpa Politik Dagang Sapi? - Liston P Siregar

Inverness

Islam untuk Politik atau Politik untuk Islam ("Enakan Jamanku Toh") - Liston P Siregar

Chairil Anwar Kita - Sapardi Djoko Damono

Lincoln

Mereka-reka para pemain utama di Pilpres 2024 - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 6 - Chairil Anwar

Berkshire

Kiri Kanan Tak Oke, Jangan Mau Digertak - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 5 - Chairil Anwar

Oxford

 

 

 

Sudah Pura-pura, Terlambat Lagi - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 4 - Chairil Anwar

Brighton

Kisanak Ging, Yang Ku (dan Banyak Orang) Kenang - Liston P Siregar

Santa Klaus Tak Singgah di Rumah - Sanie B Kuncoro

Surat Kepada H.B. Jassin 3 - Chairil Anwar

Cambridge

Makan Seisi Hutan - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 2 - Chairil Anwar

London

Ibuku Dalam Kenangan - Sanie B Kuncoro

Surat Kepada H.B. Jassin 1 - Chairil Anwar

Herne Bay

©listonpsiregar2000